Monday, April 23, 2018

25 Tahun!

Ngga tau kenapa gue tertarik nulis ‘rasanya’ umur 25 tahun. Mungkin karena, pertama, disini gue bisa merenungkan apa yang telah gue lakukan selama 25 tahun. Dan kedua, tulisan ini bisa mengingatkan gue suatu saat nanti bahwa, ada banyak perjalanan sekaligus perjuangan untuk mencapai titik ini.

Sebulan yang lalu, tepatnya di 31 Maret 2018 gue berumur 25 tahun. Bisa dibilang pas, kalo emak gue ngga tiba-tiba ngomong tanggal lahir gue salah. Karena ada dua kejadian, yang buat gue ragu kredibilitas mamak.

Pas kuliah, gue mulai donor darah. Gue bilang golongan darah gue O sama yang jaga, karena memang kata mamak O. gue si sendiri ngga pernah ngetes. Pokoknya mamak bilang O gue percaya. Di KTP juga ditulis O. Eh pas diperiksa dokter, ternyata golongan darah gue B. Gue telfon mamak, dia bilang ‘iya ya B kali ya’. Whaaaat. Itu yang pertama.


Kedua, ternyata hari otonan gue salah. Dalam penanggalan Bali, ternyata hari itu dimulai dari pukul 6 pagi. Selama ini gue otonan setiap hari rabu, karena gue memang lahir di hari rabu. Eh ternyata, gue lahir di hari rabu subuh, jam 4 pagi gitu. Menurut penanggalan Bali, ternyata itu masih hari selasa, dan harusnya otonan gue ada di hari Selasa. Dan selama 24 tahun gue otonan hari rabu.



Saluut buat mamak!
Tapi gue tetep sayang dia kok. Seriusan.




Selama 25 tahun ini, gue udah ngapain aja sih?

Yang jelas, dari segi akademik gue sudah lulus sekolah dengan tepat waktu dari Sd sampe SMA, dan lulus di waktu yang tepat dan dengan bahagia saat kuliah. Setelah lulus, gue kerja di media, sesuai dengan passion gue sampai sekarang akan menginjak 3 tahun.

Tapi diluar itu, yang membuat gue bangga sama diri gue adalah gue bisa nabung buat liburan ke luar negeri (ya Bangkok aja, lumayan lah) pake duit sendiri.


Stop minta uang mamak dan bapak (pulsa dan pulsa listrik akhir bulan ngga masuk itungan). Belum bisa buat mamak dan bapak bangga, tapi seenggaknya gue ngga ngrepotin.

Tapi ada beberapa hal yang membuat gue merenungi usia, 25 tahun ini.
  1. Merasa bukan anak ‘muda’. Dulu awal masuk kerja, semua orang yang gue panggil mba, mas, om, atau kakak. Sekarang gue dipanggil ‘kak’ atau ‘mba’ eh bahkan ‘ibu’. Huh. Nah ditambah gue kalo ngeliat tingkah anak jaman now, ya seketika gue mikir, perasaan gue dulu ngga gitu. Itu sih yang buat merasa udah ngga muda lagi.

  2. Mununtut diri untuk dewasa. Dimana umur 25 itu menurut gue harus ‘dewasa’ tapi gue kayak belum bisa dewasa. Belum bisa sangat serius akan sesuatu, apalagi soal hubungan. Eyak.
    (dari pinterest)

  3. Ini sih yang jadi point penting, gue ngeliat anak-anak yang umurnnya dibawah 20 tahun kayak anak kecil. Gue pernah upload di IG stories, anak SMP yang mau nonton di bioskop sama pacarnya romantisan gitu. Yang pertama kali terlintas di pikiran gue adalah…’apan sih nih anak SMP masih pake duit orang tua aja gaya’. Ini murni bukan iri atau apapun, tapi ya memang gue ngeliat itu kayak tingkah anak-anak aja gitu. Dimana diumur sekarang gue bahkan mikir ngabisin duit buat bayaran orang nonton, ya begitulah.  Ada yang sepaham ngga si, soal ini? Haha

  4. Menginjak usia 25 itu, masa dimana pendapat lu sudah sangat diperhitungkan dalam keluarga. Bahkan kadang lo sendiri, yang harus memilih mengambil keputusan apa. Udah mengurangi berantem sama orang tua, ada yang menuruti demi tercapainya kebahagian mereka kelak.

  5. Ketika, stories temen-temen lu isinya menikah dan beranak. Itu lah perasaan tua yang hakiki. Meskipun gue bukan ada di golongan yang harus menikah muda, tapi ketika lo ngeliat temen-temen udah pada nikah semua, secara ngga langsung sih ini buat gue mikir ulang apa langkah gue ini bener atau engga.
  6. Bijak menanggapi ‘gajian’. Gue semakin bisa memilih porsi penggunaan uang yang bijak. Eh tapi sebenarnya gue emang bukan tipe hedon, hanya saja sekarang gue ada yang diprioritaskan kayak tabungan atau cicilan apa gitu. Dan gue juga semakin rinci menulis list pengeluaran penting dan mana yang ngga perlu. Gue terbiasa hidup sederhana, dan lahir dari keluarga sederhana, jadi hidup dalam kondisi pas-pasan, udah biasa. Karena ada target lain yang harus gue capai, ngga cuma kenikmatan sesaat.

  7. Menghargai waktu. Libur yang cuma sebentar aja, entah sabtu atau minggu, gue memilih menikmati satu hari libur dirumah atau kosan. Nulis, nonton film, tv atau apapun itu. Ini lebih ke proses menikmati hari, dan istirahat dari interaksi. Kadang lo ngerasa capek ngga sih, proses komunikasi di kantor atau lingkungan, yang lo pengen cuma satu hari diem. Dan beban hilang.
    (diambil dari pinterest)

  8. Setelah 'kapan lulus?’ ‘kapan nikah?’ jadi hal yang paling mengerikan. Eh biasa aja deng buat gue. Tapi gue pernah denger beberapa pengakuan temen gue yang lebih milih lebaran mending dikasi kerja aja ketimbang harus pulang kampung karena takut ditanya kapan nikah, udah punya calon, dan sebagainya. Tolonglah itu tuh bisa jadi beban mental tauk. Keluara gue sih belum nuntut, udah kadang sering ngingetin aja. Haha. Ya menurut gue, tiap orang punya pilihan masing-masing, punya rencana dan timing masing-masing, gituu.

  9. Serius mencari. (silakan maknai, sendiri)
    (dari pinterest)

  10. Bodo amat. ini lebih kepada tidak peduli apa kata orang.


Di usia segini, seringkali terjadi pergolakan-pergolakan batin. Menyingkapi masalah atau mengambil keputusan. Melihat kalo punya banyak teman bukan lagi prioritas. Usia 25 itu seperti, ini hidup gue dan harus gue apakan.


Tapi apalah itu, mari jalani hidup dengan spontan dan berbahagia.


Tuesday, February 13, 2018

PAI KAU: DENDAM SANG MANTAN


Diajak nonton Pai Kau, gue mikir ini film Cina atau Hongkong. Baca sinopsisnya biar gue bego-bego amat pun gue masih berasumsi ini film Cina. Setelah sampe gedung bioskop, liat poster dengan jelas,

Oh ini Film Indonesia…

Ini film drama, iya. Tapi sesungguhnya adalah Thriller yang dibumbui drama, menurut gue.


 (sumber: google.com)

Dari poster sudah nampak, bahwa ceritanya adalah soal pernikahan. Iya, prosesi pernikahan Tionghoa.

Film dibuka dengan ekstrim shoot yang membuat gue takjub. Keberanian sutradara menempatkan gambar, bahkan dalam adegan awal kita sudah dibuat tertawa. Sangat jelas apa yang dimaksud: sensualitas wanita. Ini yang menjadi kunci cerita selanjutnya.

Siska (Inike valentine) berniat balas dendam pada mantannya, Edy (Antony Xi) di hari pernikahan Edy dan Lucy (Irina Chiu). Niat menggebunya untuk balas dendam tentu saja ada alasannya. Bentuk pembalasan dendamnya dengan memutarkan CD (yang sebenarnya gue ngga tau isinya apa, yang jelas bisa menghancurkan pernikahan Edy dan Lucy). Pendek cerita, Siska menjadi Bridesmaid, dalam pernikahan mereka karena Siska mengaku sebagai sepupu Edy.

(sumber: google.com)

Betapa ‘peran’ Bridesmaid sangat sukses dalam keberlangsungan cerita. Begitupun terjadi kini, bagaimana Bridesmaid adalah gengsi yang menjadi keharusan.

Pertanyaan, berhasilkah pembalasan dendam itu?

Harus nonton.

Setelah tulisan ini terbit, gue pesimis film ini masih tayang di bioskop.

Dan jika masih, kalian harus nonton. Ini film yang unik, dan berbeda. Tidak drama menye-menye seperti Dilan, yang berhasil meraih 5.300.000 penonton lebih dalam 20 hari penayangannya.

Dalam film ini beberapa kali ada adegan nakal yang boleh ditonton untuk usia 18 tahun keatas.

Yang paling gue suka dan membuat cerita film ini menarik adalah sebuah analogi Pai Kau. Setelah gue searching, ternyata Pai Kau adalah sebuah permainan kartu serupa domino adal Tiongkok.

Beberapa kali muncul adegan permainan Pai Kau, seakan menegaskan sesuatu. Lagi-lagi gue dibuat tak mengerti karena ternyata angka-angka yang muncul dalam kartu domino itu memiliki simbol.

Dalam cerita yang unik, ada banyak sekali kekurangan, misalnya acting tokoh yang menurut gue tidak natural. Gue ngga ngerti apa memang karakter orang-orang Tiongkok sekaku ini, atau sutradara yang tidak berhasil menggali dan mengarahkan karakter pemainnya. Terlihat sekali sangat tidak natural, walau Lucy agak lumayan dan Edy-nya ganteng. Tapi itu tidak cukup membantu.

(sumber: google.com)

Ayah Lucy, Koh Liem apalagi. Berperan sebagai seorang mafia, tidak membuat penonton takut. Dialog sama anaknya ngga ada bedanya dialog sama rekan bisnis atau musuhnya.

Yang gue tangkep dari film ini adalah analogi dari Pai Kau itu sendiri, mirip dengan sebuah pembalasan dendam. Kita tidak akan tau akhirnyanya akan seperti apa.

Kalo aja sang sutradara, Sidi Saleh bisa lebih matang dan mampu mengeksplorasi peran pemainnya, ini akan menjadi film yang mengagumkan dan mencuri perhatian publik.

(sumber: google.com)

Eh mungkin juga tidak, karena kaum milenial sedang terbuai dengan pesona Dilan, sang panglima tempur. Coba Dilan berantem sama Koh Liem, mafia kelas kakap. Tak akan ada proklamasi cinta di akhir cerita Dilan. Haha.

Yang mengejutkan lagi, adalah lagu ‘Aksi Kucing’ dari White Shoes and The Couple Company yang hadir dalam film ini.

(sumber: google.com)


Sebaiknya ditonton, agar kalian menjadi mantan yang bijak.

Sunday, January 14, 2018

Call Me by Your Name

Film-film yang masuk nominasi Golden Globe, gue catet, dan masuk dalam list film yang harus ditonton. Gimana pun bentuk filmnya.

Dan, baru aja gue nonton Call Me by Your Name.


(sumber: google)

Berlatar tahun 1980an, Oliver (Armie Hammer) seorang ilmuwan muda asal Amerika, yang cerdas, ramah dan rupawan, diundang ke sebuah rumah di tepi danau di Italia oleh seorang Profesor, untuk melaksanakan penelitian.

Bukan tugas berat. Karena dia memiliki banyak waktu untuk menikmati musim panas.. bersama Elio (Timothée Chalamet). Elio menjadi pemandu tamu, yang mengharuskan dia menghabiskan banyak waktu bersama Oliver.

(sumber: google)

Gue sama sekali belum tahu soal film. Sengaja ngga baca reviewnya lebih dulu. Sama sekali ngga tau, catat! Karena mungkin akan beda rasanya, jika kalian sudah tau latar belakang film.

Gue sangat menyadari betul (dengan ketidakketahuan itu) ada beberapa kode-kode yang kerap kedua tokoh perlihatkan, sehingga gue mengarah pada sebuah asumsi. Menurut gue, akan jadi berbeda kalo lo udah tahu latar belakang film.

Ada tingkat keakraban secara seksama, yang dibangun dalam hubungan karakternya. Cinta tidak datang secara sengaja, namun perlahan.

(sumber: google)

Ini film yang ‘malas’ menurut gue, alurnya sangat lambat. Bahkan kemana-mana.  Hanya saja sangat natural. Bagaimana anak umur 17 tahun, yang hanya puas menghabiskan waktu dengan membaca buku dan menulis not musik. Ketika ditanya oleh Oliver, apa yang dilakukan saat musim panas, Elio menjawab spontan, menunggu musim panas berakhir.

(sumber: google)

Ini menurut gue bisa dibilang film pencarian jati diri. Bagaimana Elio menemukan sesuatu yang berbeda dalam dirinya, dan ngga tau harus berbuat apa. Untungnya Elio hidup dalam keluarga yang kooperatif. Mungkin condong ke liberal. Keluarga tidak menjadi beban dalam cerita. Bahkan jika boleh dibilang, cerita lurus-lurus aja. Titik beratnya justru, pada perbedaan yang telah diterima dari awal sampe akhir.

Luca Guadagnino, sutradra, detail melihat karakter dan dialog. Sehingga meski panjang, susah untuk diabaikan.

Elio, Oliver, Michael Stuhlbarg yang berperan sebagai ayah Elio, bermain sangat apik. Menjadikan, cerita makin kuat. Ending shoot, film ini sangat menyentuh.  Ditambah latar musik yang aduhai. Sangat emosional.

Sebuah film yang membuat penonton merindukan cinta yang pernah menyakitinya.  Call Me by Your Name, mengajarkan kepada kita bahwa ada makna mendalam di dunia yang layak untuk diperhatikan.

Berkali-kali Oliver mengatakan ‘later’ yang mengisyaratkan akhir. Atau gue menyimpulkan secara sok tau, kalo cinta yang besar tidak perlu nyata.



Film ini ngga cocok buat yang lemah mental, apalagi berpikiran sempit dan tertutup.


7/10, Call Me by Your Name.