Showing posts with label Ifa Ifansyah. Show all posts
Showing posts with label Ifa Ifansyah. Show all posts

Tuesday, May 9, 2017

Turah: Akhir Sang Pemberontak


Warga Kampung Tirang hidup dengan menjadi buruh ‘sang tuan tanah’ tanpa upah yang jelas. Mereka seakan ‘menghamba’, menerima pemberian berkedok belas kasihan.

Kampung Tirang tidak mendapat aliran listrik dari pemerintah setempat. Terisolir, padahal jarak tidak terlalu jauh dari pusat kota. Air bersih apalagi, rumah warganya malah jauh dari kata layak.

Terletak di pinggir pantai, pemandangan bayi mati lalu mengapung menjadi lumrah. ‘Upaya warga?’ bahkan polisi yang sering wara-wiri, tidak mampu memecahkan kasus. Mungkin bukan tidak mampu, tapi tidak mau.

Warga kampung bahkan sudah nyaman dengan rasa takut dan pesimisme. Hingga kemudian muncul sang pemberontak, Jadag. Ia menjadi provokator, agar warga melawan, melepas bayang-bayang Darso, sang tuan tanah dan ajudannya yang licik, Pakel.

Ini yang dimunculkan Wicaksono Wisnu Legowo, dalam film-nya Turah.


(sumber: google.com)

Tadinya gue sangsi, bener ngga sih ada lokasi yang seperti ini. Eh pas liat credit title, ternyata bener. Baca berbagai referensi dan latar belakang sutradara buat film ini, ternyata memang benar-benar ada. Percuma 72 tahun, Indonesia merdeka.

Kampung Tirang berlokasi nyata di pesisir pantai utara, dekat Pelabuhan Tegalsari Kota Tegal. Sebuah perkampungan yang berdiri di atas tanah timbul. Di kelilingi air laut, kampung ini termasuk wilayah kategori miskin serta terpencil. Listrik menyala hanya pada malam hari dan tidak ada air bersih.

Kondisi ini yang membuat Mas Wisnu tertarik mengangkat cerita soal Kampung Tirang, dengan memunculkan tokoh penghidup cerita, yang dibumbui konflik. Film ini diproduseri langsung oleh Ifa Isfansyah.

Film ini dibuka dan ditutup dengan kematian. Mas Wisnu memperlihatkan suasana kelabu pada keseluruhan film.

Diawal film juga dibuka dengan sensus penduduk, yang mendata warga karena akan diadakan pemilu. Lucunya, diterangkan selalu ada pendataan menjelang pemilu. Tapi toh setelah nyoblos, ngga ada perubahan.

Turah (Ubaidillah) adalah seorang yang diberi tanggung jawab oleh sang tuan tanah untuk menjaga keamanan kampung. Lakonnya rajin dan santun, ditambah seorang istri yang begitu pengertian. Namun gue justru tertarik dengan karakter Jadag (Slamet Ambari). Bapak tua dengan hobi judi, yang akhirnya buka suara. Meneriaki ketidakadilan, melakukan provokator, agar warga kampung melawan. Termasuk Turah. Jadag-lah yang menurut gue menghidupkan cerita Turah. Jadag diperlihatkan begitu emosial, dengan kata-kata yang vulgar.

Istri Turah, Kanti (Narti Diono) bahkan belum mau memiliki anak karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dia takut anaknya nanti tidak bisa hidup dengan layak.

Naskah cerita, dialog, semua begitu apik. Sangat keren. Pake Bahasa dan dialek tegal yang menurut gue sangat natural. Udahlah Bahasa daerah ngga usah jadi bahan olok-olokan. Ini kan kekayaan budaya.

Pemainnya lebih keren lagi. Kesemua pemain adalah anggota teater dan penduduk lokal, dimana film ini dibuat. Akting nya bahkan lebih keren dari aktor nasional.

Gue jatuh cinta sama set nya, ceritanya, pengambilan gambar dan semua komponen. Film non komersial kayak gini menurut gue selalu menawarkan cerita yang beda, antimeanstream, ngga ikut-ikutan selera pasar. Dia selalu menemukan penonton setia. Menurut gue peradaban bangsa itu tercermin dari film-filmnya yang kayak gini. Indonesia butuh lebih banyak sutradara kayak Eddie Cahyono yang buat Siti, Mas BW sama Ziarah atau mas Wisnu sama Turah. Ya kita hidup dengan realita, dengan konflik-konflik sederhana, tapi itu justru yang luput.

Film yang bagus menurut gue adalah film yang melahirkan banyak pertanyaan soal isi film setelah kita nonton. Dan ini ada di Turah. Kenapa bayi mati menjadi lumrah, kenapa film harus dibuka dengan kematian dan ending juga sama, kenapa harus ada scene yang memunculkan roji (anak jadag) pas bapaknya ditemukan tewas digantung, padahal dalam keseluruhan film ngga ada sama sekali dialog antara Roji Jadag, kenapa Turah memilih melarikan diri ketimbang mengungkapkan kematian Jadag, kenapa harus ada seorang nenek sakit yang ngga mau ninggalin desa, kenapa cucu si nenek itu pinter gambar, kenapa seorang sarjana yang justru begitu licik membodohi warga kampung, ini kan cukup simbolik ya. Seakan-akan pesannya buat pemerintah yang ternyata orang-orang pinter yang jadi wakil rakyat toh kepentingannya bukan memakmurkan rakyat. Ah ada banyak sekali. Sayang gue dateng ngga pas diskusi film ini.

Bahkan film ini diakhiri dengan, ‘lah kok udah’. Ngga ada klimaksnya. What a great film, dengan plot dan cerita yang sederhana.

Gue butuh banyak film yang kayak gini, sebagai bahan perenungan. Ditunggu Mas Wisnu karyanya yang luar biasa lagi. 9/10 untuk Turah yang udah mampu keliling dunia.

Sorry gue menyelipkan isu politik di review film Turah ini. Moment nya pas ketika Ahok, Gubernur Jakarta divonis bersalah dan dengan tuntutan penjara 2 tahun. Ahok terbukti menistakan agama, dan membuat kegaduhan umat. Gue sedih, sesedih-sesedihnya dibanding diputuskan pacar.

Relevansi dengan film Turah adalah cerita yang hampir mirip. Kenapa?

Jadag dibunuh, lalu digantung oleh orang yang tidak dikenal. Ya, secara tersirat itu rencana si tuan tanah. Jadag berani melawan sang tuan tanah, dan membeberkan kelicikan Pakel sang ajudan. Jadag juga bukan pria baik, tapi dia berani. Dia ngga mau warga desa terus dalam kemiskinan.

Inilah yang terjadi di Jakarta. Gubernur yang begitu berani ini, akhirnya dijatuhkan oleh lawan-lawan politiknya pake isu agama. Kalo Jadag digantung, Ahok dijebloskan dalam penjara. Drama hukum Indonesia yang begitu dekat dengan kepentingan. Dimana keputusan tergantung pada jumlah massa. Mending putusan Hakim yang katanya terhormat pake polling sms aja.

Ah sudahlah. Sedihnya memang keterlaluan, tapi hidup tetap harus dilanjutkan. Semoga ada kabar baik, yang buat kami (gue) tidak pesimis jadi warga Indonesia.


Kalo turah sampe tembus ke layar bioskop, Lo harus nonton!


Thursday, February 4, 2016

Siti yang Istimewa



Semenjak tau Siti menduduki tahta tertinggi Festival Film Indonesia 2015 sebagai Film Terbaik, gue langsung penasaran pengen nonton Siti. Judulnya yang juga sangat biasa, buat gue tambah penasaran.

Hari Minggu kemaren, gue dan temen gue akhirnya berkesempatan nonton Siti di salah satu bioskop di Bandung. Kita bela-belain menerebos hujan cuma buat nonton Siti. Cuma buat sampean, mbak Siti.

Kaget pas pesen tiket, kursi baru terisi satu orang. Nambah kita berdua, jadi dua orang. Padahal pintu teater udah dibuka. Ya, walaupun ditengah-tengah film diputer, dateng tiga orang lagi. Tetep aja, Film Indonesia sebagus Siti cuma di tonton 6 orang aja di bioskop. Di banding film horor semi bokep Indonesia yang ngga paham lagi gue alurnya kayak gimana.

Kita fokus ke Siti aja ya.

Gue udah jatuh cinta dengan film Siti sejak 10 menit pemutarannya. Film Siti ber-setting di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Siti mengisahkan seorang perempuan, bernama Siti (Sekar Sari) yang hidup di pinggiran Pantai Parangtritis bersama sang suami, Bagus (Ibnu Widodo) dan memiliki seorang anak bernama Bagas (Bintang Timur Widodo).

Bagus mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat melaut, yang membuatnya ngga bisa bangun dari tempat tidur. Sedangkan Bagas, siswa SD yang menurut gue anak yang cerdas. Cerdas bukan karena dapet nilai matematika 5, tapi dia tau kalo makan ngga boleh bicara. Anak sekarang kan kalo makan mainan hp. Dan Siti, Siti adalah wanita yang hebat.

Siti harus bekerja keras mengumpulkan uang untuk membayar utang suaminya. Pagi hingga siang hari Siti berjualan peyek, sedangkn malam harinya ia bekerja di sebuah karaoke. Semenjak Siti bekerja menjadi pemandu karaoke, Bagus ngga mau bicara dengan Siti. Sama sekali. Lucunya, gue melihat akting Bagus disini bagus banget. Bahkan tanpa berbicara ia mampu menghantarkan emosi yang ia ingin sampaikan kepada Siti dan kepada Penonton.

Siti sama sekali ngga merubah niatnya untuk berhenti bekerja di karaoke. Karena hanya dengan ini, iya mampu melunasi utang sang suami.

Bekerja di karaoke, Siti bertemu dengan Mas Gatot. Laki-laki yang begitu mencintai Siti dengan segala polemiknya. Mas Gatot bahkan beberapa kali meminta Siti meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Inilah konflik yang berusaha dibangun dalam film ini. Siti yang dihadapkan dengan pilihan, tetap menjaga sang suami atau justru hidup ‘layak’ dengan Mas Gatot yang seorang polisi.

Eddie Cahyono, sang sutradara menyuguhkan sesuatu yang sangat tidak biasa dalam Film Siti. Pertama, Film Siti ditayangkan dengan warna hitam putih. Bukan tanpa alasan, warna hitam putih yang disajikan Film Siti sebenarnya dilatarbelakangi keterbatasan dana. Bahkan karena maslah finansial yang dihadapi Siti, sampai-sampai film ini ngga mampu menyewa peralatan lighting yang memadai. Sehingga Ediie, memutuskan untuk menjadikan film Siti berwarna hitam putih.

Dan yang gue baca dari salah satu berita online, perlengkapan kamera yang digunakan untuk menggarap Film Siti sangat terbatas. Eddie bersama sang produser, Ifa Isfansyah tidak menganggap itu sebuah kekurangan. Karena menurut mereka, kejujuran adalah hal yang terpenting dalam penggarapan film.

Terbukti, keterbatasan dana tidak mengurangi kualitas Film Siti. Justru menurut gue, warna hitam putih dan banyak shot kamera yang follow shot membuat film ini keren. Siti terlihat jujur dan begitu sederhana.

Seni dalam film Siti juga terletak pada rasio gambar, 4:3 bukan seperti film biasa yaitu 16:9. Menurut artikel yang gue baca ini karena, Mas Eddie ingin "mendekatkan" kehidupan Siti kepada penontonnya, sekaligus menonjolkan terbatasnya pilihan-pilihan hidup Siti.

Selanjutnya kesuksesan Siti ngga terlepas dari pemeran Siti-nya sendiri, yaitu Sekar Sari. Gue akui, akting Sekar memerankan Siti begitu luar biasa. Gue sempet kepo, siapa sih sosok Sekar Sari ini. Dan yang gue dapet hasilnya sangat mengejutkan. Sekar Sari adalah orang Yogyakarta asli yang kini sedang menempuh pendidikan dance kontemporer di Hungaria. Wow. Dari kecil Sekar memang hobi menari. Ia juga adalah satu finalis ajang Putri Jogja gitu. Jadi sosok yang gue tonton, yang mampu berperan sebagai ibu-ibu muda yang ndeso ternyata memiliki prestasi yang luar biasa.

Sayangnya Sekar tidak masuk dalam nominasi aktris wanita dalam ajang FFI. Padahal bila dibandingkan dengan aktris nominasi yang lain, Sekar tentu tidak bisa dianggap remeh. Memerankan Siti, sangat sulit menurut gue. Ia harus merubah dengan cepat ekrpresi wajahnya dalam kondisi apapun. Ditambah, Siti adalah film panjang layar lebar pertama Sekar. Sungguh keren sekali mbak Sekar ini. Tapi kabar gembiranya, Sekar berhasil menuai pujian dari banyak penonton dan diganjar penghargaan Best Performance dalam Singapore International Film Festival ke-25 pada Desember tahun lalu.

Oya, sebagai tambahan informasi, ternyata Sekar bukanlah pilihan pertama pemeran Siti. Ia tidak lolos casting sebagai pemain utama. Namun karena aktris yang terpilih memerankan Siti mengundurkan Siti, pilihan Mas Eddie jatuh kepada Sekar.

Kemudian ada Mas Gatot (Haydar Saliz) yang membuat film ini semakin hidup. Berperan sebagai orang ketiga, Mas Gatot mampu mengaduk emosi penonton. Bahkan ia dan Sekar melakukan adegan vulgar tapi lolos sensor. Haha.

Selanjutnya yang mebuat film ini menarik juga adalah akting dari teman-teman Siti (maaf gue lupa namanya). Dengan logat jawa yang khas, mereka mampu menjadi sosok yang pas ada disamping Siti.

Bagas, anak Siti yang bercita-cita menjadi pilot juga tidka boleh dilupakan. Walaupun kata temen gue, aktingnya ngga bagus, tapi di mata gue Bagas berhasil memerankan anak yang berasal dari keluar ‘kurang mampu’ yang begitu polos. Semua adegan yang dilakukan Bagas terasa real bagi gue. Saat Bagas mandi, mau berangkat sekolah, nonton layar tancep, naik sepeda, dan semuanya.

Proses shoting Siti cuma membutuhkan wakyu 6 hari, dengan budget hanya 150 juta rupiah. Wow. Film berkualitas dengan biaya murah. Keren Mas Eddi!

Menurut gue Siti adalah Film yang sangat sederhana. Mulai dari cerita, plot, alur dan setting-nya. Yang membuat cerita Siti begitu kuat, adalah pengorbanan Siti untuk suaminya namun di akhir ia harus menelan pil pahit ketika Siti bercerita soal Mas Gatot yang ingin menikahinya, Bagus malah membolehkannya. Siti kecewa.

Pengorbanannya selama ini tidak membuat Bagus mempertahankan dirinya. Dan saat Bagus menjawan pertanyaan Siti, inilah dialog pertama dan terakhir Bagus dalam film.

Gue ‘seakan’ mengerti apa yang Siti rasakan. Saat kita telah berkorban demi orang yang kita cintai, dia bahkan merelakan kita bersama orang lain. Tanpa perlawanan. Hancur hati Siti, yang mati-matian menjaga hatinya.

Melihat dari sudut pandang Bagus. Menurut gue, Bagus hanya ingin yang ‘lebih baik’ untuk Siti.

Cinta begitu rumit.

Dan lagi-lagi bagusnya dari Film Siti, adalah tidak adanya karakter yang bener-bener baik ataupun jahat sekalipun. Siti mampu begitu baik dan kadang kala kata-kata kasar terlontar dari mulutnya.

Pengorbanan Siti dan kisah cintanya sama sekali tidak klise. Bahkan ini terlihat seperti doku-drama. Sangat real. Bahwasannya memang benar ada kisah hidup seperti Siti di negeri ini. Di tengah kemiskinan, seorang perempuan harus berjuang menghidupi keluarganya dengan cara apapun. Disisi lain, pengorbanan itu sepertinya tidak berarti apa-apa bagi sang suami.

Gue hampir tidak menemukan cacat sedikit pun dari film ini. Seharusnya mungkin ada, atau gue yang tidak terlalu kritis. Gue cuma menyayangkan, jumlah penonton yang sangat tidak masuk akal. Film sebagus Siti ngga ada yang nonton. Dari sini terlihat bagaimana selera tontonan masyarakat negeri ini.

Semasih film ini di bioskop, gue sarankan kalian untuk segera menonton. Film berkualitas jangan dilewatkan begitu saja.

Dari film ini gue seperti mendapat gambaran betapa susahnya sekaligus muliannya menjadi seorang wanita.

Mas Eddie, mungkin sepemikiran dengan gue. Ia menampilkan sosok Siti seperti Yogja tempat tinggalnya, yang sederhana tapi istimewa.

Ditunggu film keren selanjutnya, Mas!