Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Thursday, June 6, 2019

Berkunjung ke Bima, Kota Eksotis di Pulau Sumbawa


Perjalanan Idenesia kali ini membawa saya ke Bima, sebuah kota kecil di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dari Jakarta, perjalanan ke Bima bisa ditempuh menggunakan pesawat terbang dalam waktu sekitar 5 jam, sudah termasuk waktu untuk transit di Bandara Ngurah Rai Bali.

Sesaat sebelum landing di Bandara M. Salahuddin Bima, sempatkan melihat ke jendela, karena kalian akan disuguhkan pemandangan menawan alam Bima. Ada gunung, bukit, sawah, pantai, lengkap semua.


Tidak jauh dari Bandara Salahuddin Bima, kalian bisa mampir ke Museum Asi Mbojo.


Museum ini dulunya adalah Istana Kesultanan Bima, yang dibangun tahun 1927 hingga 1929. Istana Kesultanan Bima ini beberapa kali mengalami perubahan fungsi, terutama setelah wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin.

Baru di tahun 1986 Bupati Bima yang menjabat saat itu, Umar Harun, mengusulkan agar istana digunakan sebagai museum. Di dalam museum terdapat baju adat Bima, baju yang digunakan Sultan Bima. Ada pula alat pertanian, keris, benda pustaka, dan foto bersejarah.






Yang menarik dalam museum ini adalah adanya kamar Bung Karno. Jadi diceritakan di tahun 1950, Bung Karno pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Bima dan menginap di Istana Kesultanan Bima.

Menurut cerita dari bapak yang jaga museum, Bung Karno sendiri dan Sultan M. Salahuddin memiliki kedekatan. Bahkan katanya dulu, Bima termasuk daerah yang hampir menyandang predikat daerah istimewa. Ya karena masalah politik dan lain hal, makanya ngga jadi.








Dengan berkeliling museum, kalian akan melihat bagaimana peradaban masyarakat di Bima. Lengkap dengan silsilah kesultanan Bima dari pertama sampai terakhir, termasuk pula bagaimana asal nama Bima itu sendiri. Jangan takut nanya sama yang jaga ya, si bapak akan dengan senang hati ngasi tau.

Satu lagi yang harus ditaati sebelum masuk museum, yaitu buka alas kaki. Karena museum ini dulunya adalah istana, pengunjung pun patut menjaga kebersihan dan kesucian tempat. Ada beberapa kali kejadian lah yang dialami turis karena masih bandel. Ada baiknya kita percaya.

Setelah museum, lokasi selanjutnya yang harus dikunjungi adalah Uma Lengge. Apa itu?


Nah, Uma Lengge ini dulunya adalah rumah tinggal masyarakat Bima. Namun seiring perkembangan jaman, Uma Lengge ini sekarang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi oleh masyarakat.



Uma sendiri artinya rumah, dan Lengge artinya mengurucut. Jadi bentuk Uma Lengge ini mengerucut dibagian atapnya. Bangunan Uma Lengge ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu lantai pertama (bagian bawah) untuk menerima tamu. Lantai kedua untuk tempat tidur dan dapur. Sedangkan di lantai tiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan.

Sangat perlu untuk diketahui. Uma Lengge yang sekarang berfunsgi sebagai lumbung padi ini melambangkan kecerdasan masyarakat Bima dalam mengelola sumber daya alam, loh. Misalnya padi disimpan jauh dari rumah, agar supaya seandainya rumah mereka terbakar atau terkena bencana, mereka masih bisa menyelamatkan padi sebagai bahan makanan. Selanjutnya dari struktur bangunan. Uma Lengge ini terbuat dari kayu, ada yang beratap alang-alang dan seng. Dibuat sedemikian rupa agar tikus ngga bisa masuk untuk mencuri padi.


Jika beruntung dan sedang ada banyak turis, ada satu tarian yang digunakan untuk menyambut tamu yaitu ‘Tari Wura Bongi Manca’. Penari akan menaburkan beras kuning kepada tamu yang datang sebagai wujud penghormatan dan kemakmuran. Wow!


Waktu itu, disini saya juga mendapat kesempatan untuk melihat proses pembuatan makanan tradisional Bima. Cuma ngga sempet nyobain langsung, karena sibuk grabag-grubug untuk shooting.



Setelah melakukan wisata budaya di Uma Lengge, mari kita melihat wisata alam yang menggoda, yaitu Pantai. Pantai yang saya kunjungi namanya Pantai Lariti. Pantai Lariti ini letaknya di selatan Kabupaten Bima, yaitu di Desa Soro. Kondisi pantai yang masih sepi, membuat kalian bisa sepuasnya menikmati panorama pantai.



Yang terkenal di Pantai Lariti ini adalah hamparan pasir yang membelah laut. Keren ngga tuh? Jadi ada pulau gitu ngga jauh dari pantai. Sayang banget pas saya kesana air lautnya lagi pasang. Jadi ngga bisa lari-lari lucu gitu sambil difoto.

Ohya, jarak dari Kota Bima ke pantai ini lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 1,5 jam sih kalo engga salah. Tapi kalian ngga bakal rugi sih. Karena selain pantai yang oke punya, perjalanan menuju pantai pemandangannya ngga kalah indah.




Satu lagi yang ngga bisa dilewatkan kalo ke Bima, beli oleh-oleh Tenun khas Bima. Lokasi yang saya kunjungi itu di Koperasi Nur Sakura, unit usaha milik ibu-ibu rumah tangga gitu. Jadi disini anggota koperasi adalah pengerajin tenun, yang nantinya hasil kain akan dijual. Ada banyak warna dan jenis tenun, cuma yang paling terkenal disini adalah motif zig-zag (bukan ziggi zagga) motif khas Bima.


Harganya terjangkau dan produknya ngga cuma kain doang. Dari kaos, tas sampe dompet juga ada.




Nah, yang unik itu justru si penenun. Ada beberapa penenun yang masih pake ‘rimpu’, kayak kerudung sarung gitu. Dulu sebelum ada jilbab, bu-ibu pakenya rimpu. Tapi karena udah ada hijab, mulai bergeser pemakaian rimpu ini. Tapi beberapa masih ada yang pake kok.



Kalo masih ada waktu, sempatkan melihat sunset yang indah di Pantai Kalaki. sunset disini indah banget.


Cuma sayang, masyarakat di Bima kurang peduli sama lingkungan. Masih banyak banget yang buang sampah sembarang, apalagi sampah plastik. Di beberapa pantai Bima juga udah kotor. Tidak elok.


Gue sendiri melihat langsung gimana warga buang sampat ke laut. Dengan tampang tidak berdosa, warung-warung dipinggir pantai itu buang sampah ke laut. Pas mau ambil hp buat foto, udah ilang tuh ibu-ibu. Sayang banget.

Karena waktu yang tidak banyak, gue ngga bisa mengunjungi tempat wisata Bima yang lain. Masih ada Gunung Tambora yang katanya butuh waktu sekitar 4 jam dari Kota Bima. Gunung Sanghyang, juga. Lain kali kalo ada waktu dan rejeki, pasti akan disinggahi.

Jadi posisi Kota Bima itu pas banget di teluk, di Pulau Sumbawa. Nah itu yang buat Kota Bima kayak dikelilingi pantai, kalian bisa liat gunung dari seberang pantai pula.

(sumber: google.com)

Semua di Bima indah, tak terkecuali langitnya. Super indah.


Sekian cerita gue kali ini, semoga membantu buat yang ingin melakukan perjalanan ke Bima. Yang gue sayangkan dari Bima ini adalah pengelolaan potensi wisata sih. Ada banyak yang bisa jadi tempat wisata, tapingga dimanfaatkan maksimal.  Tata ruang Kota Bima sendiri menurut gue tidak rapi. Mungkin saran ini bisa jadi bahan pertimbangan pemda setempat ya.

Jika kota Bima memiliki tata ruang yang baik, akses wisata yang memadai, dan bersih dari sampah platik, ya pasti akan ada banyak turis yang datang. Dan ini akan menguntungkan untuk masyarakat Bima pada umumnya.

Dah!

Friday, March 15, 2019

LIBURAN 3D2N DI SINGAPORE, BAWA 70 SGD MASIH ADA SISA?!!

Liburan yang direncanakan dari bulan Oktober tahun lalu, akhirnya ngga cuma sekedar wacana. Gue dan temen gue (Onye) menetapkan tanggal 3-5 Maret untuk vakansi. Karena setelah itu, harus balik ke Bali buat ngerayain Nyepi. Sedangkan temen gue melanjutkan Asean tour-nya ke Vietnam, Kamboja, dan Thailand.

Oke, mari kita liat persiapan gue dulu sebelum berangkat ke Singapore. Ini adalah kali pertama gue kesana. Sebagai rakyat kismin, gue harus punya plan yang matang agar supaya perjalanan sesuai budget. Target gue, maksimal duit yang gue abisin buat liburan ini adalah 3 juta. Itu udah termasuk akomodasi, tempat tinggal, tiket masuk Universal Studios sampe ke bekel selama perjalanan.

Kita sering banget ngecek promo tiket pesawat Air Asia tujuan Jakarta-Singapore. Ya karena maskapai ini yang sering ngasi harga tiket murah. Sampe akhirnya kita dapet Tiket Pesawat Air Asia yang harganya 374.000 (untuk sekali jalan). Lumayan dong ya segitu… kenapa kita belinya cuma sekali jalan, ya karena kayak yang gue bilang tadi, gue harus balik Bali dan temen gue udah ada rencana jalan-jalan ke tempat yang lain juga.

Tips dari gue buat  kalian yang mau travelling sama temen agar ngga cuma wacana adalah harus berani seenggaknya beli tiket dulu agar rencana untuk travelling terealisasikan. Biasanya kalo beli tiket pesawat aja diundur-undur, udah pasti sih itu liburan kalian pasti cuma wacana doang. Itu kenapa gue berangkat cuma berdua. Karena ngumpulin orang banyak itu susah cuk.

Setelah tiket pesawat, kita harus menentukan hotel dimana kita tinggal. Kita milih untuk tinggal di daerah Bugis. Dari hasil riset, disini memang daerah wisata jadi akan ada banyak turis dan tentu aja hostel-hostel murah. Di bulan berikutnya, gue sama Onye punya target udah booking hotel. Setelah liat harga dan memilah di beberapa situs, kita memilih Jamillah Boutique Inn Hostel di Bugis. Nah soal hotel, di Singapore itu emang mahal. Karena sekelas hostel yang pake bank bed, dengan toilet sharing aja itu harganya minimal 250an/night/orang. Itupun menurut gue, hotelnya tidak manusiawi ya kalo dilihat dari gambar di Traveloka. Gue sendiri dapet harga 355.000 per orang untuk 2 malam. Murah yak? Haha. Gue belinya di Traveloka, pas Harbolnas. Ya lumayan ada diskonan. Di hari yang sama, iseng ngecek tiket Universal Studio. Eh ternyata ada diskon juga. Yang dari harganya sekitar 800-900an, cuma jadi 592.000. Cus deh langsung beli. Daripada nanti naik lagi yekan.

Yes! Jadi, tiket pesawat berangkat udah, hotel, dan Universal studios, sekarang tinggal tiket Pulang ke Bali. Dengan waktu luang yang cukup untuk buka cari harga tiket di beberapa situs, gue akhirnya dapet tiket ke Bali dengan harga 600.000. Ya lumayanlah dapet tiket segitu dengan maskapai Jetstar di tengah suasana liburan menjelang Nyepi. Kalo di total, mungkin duit gue abis untuk akomodasi ini sekitar 2.000.000.

Nah, sekarang siap-siap menuju Singapore!

Dengan perhitungan matang (ya... karena gue rakyat miskin bermartabat), gue memutuskan untuk bawa bekel 70 sgd, itu sekitar 720 ribuan. Cukup ngga cukup harus cukup.

Ada kejadian lucu di bandara pas gue sama Onye ini check in. Si abang yang jaga counter check in sok asik banget. Awalnya dia bilang kita kayak anak kembar. Sampe ke pertanyaan yang ngga penting. ‘Bekel kalian cukup?’ Ngakak dong kita. Tau-tauan aja itu si abang. Kezel. 

#Singapore Day 1
Sampai di Changi, yang harus kalian beli adalah SIM Card. Agar supaya disana kalian bisa internetan dan  bisa pake maps kalo jalan-jalan. Karena temen gue udah pernah ke Singapore lebih dulu, dia inget kalo harga Sim Card-nya sekitar 15 sgd. Nah, ada beberapa counter yang nawarin sampe 30 sgd dengan isian paket beragam sampe ke paket telfon dan segala macam rupa. Padahal yang kita butuhin kan cuma internet, jadi kalian ngga usah tertipu. Sampe akhirnya kita nemu dengan harga 15 sgd, dengan paket internet sampe 30gb. Tips selanjutnya adalah kalian cukup beli 1 SIM Card untuk dipake berdua. Jadi lumayan hemat, 15 sgd dibagi 2.

Terus yang harus kalian beli adalah tourist pass (atau MRT card lah ya namanya). Tadinya gue riset untuk Tourist Pass unlimited 3 hari, harganya 30 sgd. Tapi pas gue cari-cari di pintu keluar bandara, harganya 38 sgd semuanya. Jadi males dong. Lagi-lagi atas saran Onye, gue mending beli yang regular card, bukan untuk tourist. Harganya 12 sgd, isinya card-nya 7 sgd. Itu tuh kayak lo beli e-money, yang harganya 50 ribu, tapi isinya Cuma 30 ribu. Gitu. Eh, pas gue masuk stasiun MRT, ada dong yang jual tourist pass dengan harga 30 sgd. Tapi gapapa lah. Karena tanpa beli tourist pass, gue jadi lebih hemat. Haha. Jadi itu MRT Card gue isi 10 sgd lagi kan, cukup banget untuk 3 hari. Malah sisa lumayan banyak. Lumayan lah hemat 8 sgd, yekan.

Lucu dong bentuk card nya…

Kita langsung menuju hotel, untuk naruh barang dan yang dibawa yang perlu aja. Sengaja cari hotel di Bugis karena memang daerah wisata. Eh ternyata deket banget dong sama Haji Lane, sama Kampong Glam juga. Ada Bali Lane juga, sama Mesjid Sultan gitu ya kalo ngga salah. Bersyukur karena ngga usah jalan jauh-jauh lagi.

Setelah naruh tas di hotel, kita makan di Kampong Glam. Awalnya heran kenapa rame banget. Pas deketin, itu kayak warteg gitu. Yang jualan juga orang Melayu, jadi kalo pake Bahasa Indonesia dia bisa jawab. Gue makan nasi, telor sama sayur harganya sekitar 2,3 sgd doang. Ohya, jangan lupa bawa botol minum kosong ya. Ini sangat membantu banget. Kalian ngga usah beli minum, karena bisa isi ulang minum di spot tertentu atau di hotel. Jadi bisa hemat.


Siang bolong tuh kita jalan-jalan terus foto-foto di Haji Lane (yang ternyata jalannya cuma segitu doang), terus Kampong Glam (sama juga segitu doang). Karena udah habis kita explore, jalan lah kita ke Little India. Sekitar 2,5 kilo lah dari Haji Lane. Terus pas ke Little India juga, ternyata spotnya cuma segitu doang. Menarik sih, tapi yang gue baca di web katanya luas banget. Ah tapi pas kesana engga. Ampe bingung kan mau kemana lagi. Akhirnya kita memutuskan buat balik lagi ke hotel buat ngadem.

Mau cerita sedikit soal hotel ini. Jamillah Boutique Inn ini, riviewnya bagus banget di traveloka. Hotelnya juga lumayan unik kan, rada-rada vintage gitu. Eh pas sampe, kita berdua kaget. Kamarnya sempit banget. Haha. Itu doang yang kita sesali. Sisanya oke sih, bersih juga. Pelayanan juga ramah. Inget ya kalo ke hotel Backpacker gitu, bawa handuk dan alat mandi lengkap. Karena mereka kemungkinan besar tidak menyediakan itu. Jadi kalian nanti harus sewa, dan pasti keluar duit lagi.

Agenda selanjutnya adalah City Tour. Kita mengunjungi Merlion (kesel banget pas kesana lagi renovasi. Jadilah engga bisa foto di tugu ikonik khas Singapore itu). Jalan-jalan di Gallery Memoriam of Victoria. Terus ke Museum Nasional Singapore. Cukup depannya aja, karena kalo masuk bayarnya mahal. Haha.


Nah, di sekitar Merlion Park ada yang jual ice cream sandwich 1 sgd. Ini tuh legendaris banget. Pas kita beli sih ngga rame, eh udah itu rame banget samape ngantri. Karena awalnya kita bingung, bener ini ngga sih dagangnya. Tapi abis kita beli, eh rame dong jadinya. Haha. Kalian bisa pilih sih mau waffle atau sandwich.


Selanjutnya kita pergi ke Garden by the bay. Disini ada lighting show jam 19.45 sama jam 20.45. Nama show-nya sering disebut dengan Garden Rhapsody. Sambil nunggu show, kalian bisa jalan-jalan dulu di sekitar sini. Kalo kata anak Indie mah menikmati senja. Haha. Karena kita udah cukup capek, jadi kita beli tiket bus untuk dianter untuk jalan-jalan. Tiketnya 3 sgd pp. lumayan ngga capek, walaupun pas di akhir sempet nyesel kehilangan 3 dollar. Haha. Tapi worth it  sih. Pertunjukannya 15 menit dan keren.

Oya, yang perlu kalian ingat adalah mempelajari jalur MRT. Haha. Sebenernya sign nya jelas banget, cuma kadang rada bingung karena harus transit dan ganti kereta yekan.



Balik dari Garden By The Bay, kita menuju Bugis, tepatnya Bugis Street Food. Awalnya ini gue liat dari vlog-nya Kak Ria SW. eh pas udah kesana, entah gue yang salah tempat atau gimana, dikit banget yang jualan makanan. Banyak yang jual barang. Tapi emang rame banget sih, warga lokal sama turis disini. Jalan-jalan sampe belakang akhirnya kita nemu makanan yang pas, seharga 3 sgd udah pake ayam. Nasi rempah gitu, enak deh. Adanya di belakang Bugis Food Street, kayak kantin gitu.

Cukup dulu ya untuk hari pertama, setelah perjalanan panjang sampe kaki pegelnya bukan main kita harus istirahat di hotel.

#Singapore Day 2

Hari kedua, kita jadwalkan sehari penuh di Universal Studios!

Pertama-tama sarapan yang cukup di hotel, dan jangan lupa bawa botol minum. Universal studios buka dari jam 10 pagi sampe jam 7 malem. Jadi seenggaknya lo harus jalan jam 9 dari hotel. Kita spare waktu sejam untuk perjalanan. Kalo dari hotel gue di Jamilla Boutique Inn Bugis, sebenernya lo bisa naik MRT tanpa transit. Stasiun yang paling deket sama gue itu, Nicoll Highway (jalur kuning). Dari sini lo tinggal duduk manis, sampe ke stasiun Harbour Front. Cuma perjalannya panjang banget, karena harus melewati sekitar 18 stasiun. Haha. Sampe di Harbour Front lo bisa naik bus RW8 yang letaknya di pintu keluar Vivo City. Bis ini cuma bayar 1 dollar menuju Universal Studios, dan turunnya di Basement USS.  Kalo misalnya lo ngga mau lama di kereta, ya harus berani cari jalur lain. Lengkapnya bisa liat di jalur-jalur MRT ya.

Yes, sampe!

Sumpah, beli tiket di traveloka ini praktis banget. Lo ngga usah ngantri ke counter tiket lagi. Langsung aja ke pintu masuk dan tunjukin barkot tiket lo. Udah deh. Eits, jangan lupa sebelum masuk foto dulu di icon nya Universal Studios. Gue heran kenapa orang-orang bisa foto dengan suasana sepi deh disini. Padahal pas gue kesana, rame banget. Dan foto kita jadi ngga rapih gitu. Sudahlah, yang penting fotonya ada.




Masuk ke Universal Studios, jangan lupa ngambil peta ya buat jadi bahan acuan. Lo ngga mungkin tersesat sih, tapi lo bisa liat tempat prioritas yang harus dikunjungi. Kalo gue sama temen gue sih, kita ngurutin satu-satu ya. Dan semuanya kita naikin. Termasuk Roller coaster setan! Sumpah setelah lo naik ini, lo akan jadi manusia linglung. Haha.

Ini gue kasi list rekomendasi yang wajib lo naikin!


Oya, di beberapa wahana kita ngga boleh bawa tas atau hp kan, jadi pihak sini juga menyediakan loker untuk penitipan, dan gratis hanya untuk 45 menit sampe sejam. Cuma, di wahana tertentu kayak Jurassic Park, lokernya ngga gratis. Kita harus bayar 4 sgd dengan waktu sejam. Lucunya pas gue masuk wahana ini, gue kira sepi kan, eh ngantri banget dong. Kita ngantri hampir sejam. Jadinya pas beres main langsung lari ke loker, biar ngga bayar biaya tambahan waktu. Kocak.

Penting! Lo kalo ngga mau basah, bisa bawa jas ujan dari hotel atau beli di sevel terdekat, jangan beli di dalem Universal Studios. Mahal. Atau lo bisa bawa baju lebih kalo emang ngga punya jas ujan. Atau lagi lo ngga apa-apa basah, kayak gue. Ngga basah-basah banget sih. Jadi selow. Nanti juga kering sendiri.

Siang jangan lupa makan ya di Universal Studios. Ya kalo makan disini, lo emang harus nyiapin duit lebih. Gue sendiri makan 13 sgd, porsinya cukup banyak dan enak. Maklum harganya mahal, kan di tempat wisata. Cuma inget, kalian kan udah bawa botol minum, jangan lupa diisi air. Di Universal Studios kalian ngga akan kekurangan keran air minum. Jangan lupa diisini. Jadi pas makan, biar hemat ngga usah beli minum lagi.

Kalo gue bisa bilang, timing gue dan Onye kemaren sih pas banget ya. Kita bisa nyobain semua tepat waktu, walau antri. Kita juga bisa nonton water show sekitar jam 16.00. Fyi, water show ini sehari cuma ada 2 pementasan, di jam 1 siang dan jam 4 sore doang. Jadi sayang kalo kelewat. Keren banget.


Main-main disini kalian ngga bakal nggeh sama waktu. Tiba-tiba udah mau tutup aja. Sebelum pulang jangan lupa mampir ke toko oleh-oleh kalo ada yang mau. Gue sih engga beli, mahal-mahal. Haha.

Btw kita juga pas banget loh, bisa foto sama minions. Ini eksklusif. Karena lagi-lagi dibatesin waktu. Yeah!


Okay, petulangan di Universal studios berakhir, saatnya makan malam. Awalnya sih kita mau makan Mie Laksa gitu…  yang letaknya jauh. Tapi karena kita udah capek dan pingin hemat, jadilah kita milih makan deket hotel aja. Dan ternyata, deket dari hotel ada chinese food gitu. Pas kita deketin ada makanan dengan harga yang lumayan murah. Gue beli Mie Thailand pake chicken, harganya 5 dollar. Temen gue beli nasi balur omlete gitu harganya juga 5 dollar. Dagingnya bisa pilih, ada ayam, seafood, pork, beef, dan apalagi gue lupa. Warungnya cukup rame warga lokal, karena jual beer juga. Jadi abis makan bisa ngebeer cantik. Haha. Dan makannya lumayan enak dengan porsi besar. Mantap jiwa!


Sudahi dulu hari kedua, lanjut besok hari terakhir di Singapore.

#Singapore Day 3

Karena kemaren lelah banget, akhirnya kita bangun agak siang. Kita check out dari hotel jam 9.30 karena nanti kita bakal langsung ke Bandara. Hari ketiga ini, jalan-jalannya ngga usah ngegas, karena waktu terbatas kan. Pesawat gue jam 15.30. jadi setidaknya jam 12.30 harus udah sampe di bandara.

Kita milih buat ke Chinatown. Emang sih disini bagusnya kalo malem. Tapi siang-siang gini udah rame kok ada bule-bule. Disini itu ada kuil, tempat ibadah untuk umat Hindu.


Selain itu, ada juga toko souvenir dan oleh-oleh rame banget dengan harga murah pokoknya. Tadinya yang gue ngga pengen beli oleh-oleh, gue jadi beli tempelan kulkas sekaligus pembuka tutup botol. Harganya lumayan murah harusnya 5 dollar, untuk 2 barang. Tapi karena gue mikir cuma butuh satu, yang gue beli satu dengan harga 3 dollar. Eh pas pulang nyesel, karena duit masih sisa 2 dollar, mending dipake buat beli oleh-oleh kan kalo gitu.

Karena tadi kita udah sarapan di hotel, jadi ngga nafsu untuk makan siang berat lagi. Ini ada cerita sedikit, jadi kan gue nonton vlog Kak Ria SW, gue pengen nyobain makanan di Old Chang Kee yang toko pertamanya ada di Bugis. Cuma karena pas kita jalan kesana doi belum buka, jadi ngga kesampaian terus. Eh pas ke Chinatown, ada cabangnya. HAHA. Senengnya…… lo harus cobain yang ini sih…. Harganya cuma 2 dollar, dan pasti bikin kenyang. Di singapore, gue 2 hari ini minumnya cola melulu. Karena cuaca panas, dan pengen minuman dingin, jadilah kita mampir ke sevel. Dan harga yang paling murah adalah cola, 1 dollar. Bahkan dia lebih murah dari air mineral dingin. Ngga ngerti lagi. Haha.

Jam 12 lewat, kita cus ke Bandara. Lewat stasiun Chinatown, langsung menuju stasiun Tanah Merah. Dari Tanah Merah, ada kereta khusus ke bandara. Turunnya di terminal 3. Dari terminal 3, ke terminal 1 atau 2 tinggal naik skytrain. Gampang banget. Sign nya jelas sekali.

Okay, saatnya gue dan Onye harus berpisah. Dia ke terminal 2 karena mau ngelanjutin perjalanan keliling Asia Tenggara. Sedangkan gue harus ke Bali ngerayain Nyepi. Jadilah kita berpisah.

Well, gue cuma nunggu sekitar 40 menit untuk langsung berangkat ke Bali. Jadi semua perencanaan berjalan dengan tepat waktu dan pas ya. Haha.

Gue mau pamer sisa duit dan oleh-oleh yang gue dapet!


Dari bekel 70 dollar (sekitar 720 ribu) ada sianya sekitar 20 dollar 10 sen loh. Wow!  Senengnya. Check list berhasil dijalankan dengan budget yang ngga keluar target. Ada sisa lagi yekan.

Terima kasih Singapore untuk waktu 3 harinya. What a sweet short escape. Singapore negara yang ramah turis menurut gue. Gue sendiri ngga mengalami tindak kejahatan, dan kalo kemana-mana gampang banget. Kotanya juga ramah pejalan kaki. Dan yang paling gue salut adalah orangnya tertib banget pas masuk MRT atau Bus. Karena beberapa kali gue di MRT pas jam pulang kantor ya, yang otomatis pasti bakal rame tapi mereka tertib semua. Keren sih.

Dan yang paling gue seneng disini adalah, toleran. Bodo amat dia suku apa, karena di singapore kan banyak imigran dari India, Aran, Cina, Melayu, banyak orang Indonesia juga. Ngga ada tuh, ada mandangin orang dari atas sampe bawah kalo dia pake baju agak terbuka. Sedikit individual sih, tapi ya menurut gue tiap orang punyak hak atas dirinya masing-masing yakan. Beda cerita kalo di negeri gue tercintah. Dimana kaum intoleran menebar kebencian. Eh.

Lumayan dong ya untuk liburan tahun ini. Meski ini perjalanan miskin, tapi gue seneng kok. Menurut gue, kepuasan dan kebahagiaan travelling itu bukan terletak di saat lo bisa foya-foya atau beli apapun dan nyobain apapun sesuka hati sih, tapi lebih kepada lo bisa jalan-jalan sesuka hati dan ngga lewat budget. Ya itu kepuasaan buat gue. Haha. Toh porsi liburan dan yang dicobain sama, kenapa harus keluar duit lebih banyak yekan.

Semoga cerita gue ini cukup membantu ya guys, buat yang mau short escape ke Singapore.


Ayo liburan, jangan cuma wacana ajah!