Showing posts with label psikotes. Show all posts
Showing posts with label psikotes. Show all posts

Saturday, December 19, 2015

Production Development Program (PDP) Part 2

Lama ya jeda dari part 1 ke part 2, ini sangat tidak disengaja. Semua karna jadwal gue ‘agak’ padet. Kenapa agak? Ya, gue belom mau sombong. Hahha.

Oke, gue bakal lanjutin tahapan seleksi Production Development Program (PDP) di Metro TV yang pernah gue ikutin. Tahap psikotes udah gue jelasin postingan sebelumnya, sekarang kita lanjut ke tahap berikutnya. Pas tahap seleksi kemaren, untuk lolos ke tahap selanjutnya gue dikasi tau beberapa menit setelah menyelesaikan tes psikotes. Iya beberapa menit doang. Bahkan ada yang belom selesai. Jadi tiap kita selesai ngerjain soal psikotes langsung dinilai oleh staff HRD. Gue juga kaget kenapa cepet banget.

Interview User
Apa sih interview user? Ini menurut gue yah, interview user itu pelamar akan di wawancarai oleh kepala divisi yang membidangi bagian yang dia pilih. Kayak kemaren gue di Metro TV, gue diwawancari oleh tiga orang Executive Producer. Secara bergantian, bahkan berebutan mereka akan bertanya.

Kemaren sih gue bingung mereka siapa, gue cuma dikasi tau sama staff HRD kalo tahap selanjutnya adalah interview user. Gue ngga sempet nanya, usernya siapa dan menjabat sebagai apa. Boro-boro, kenal temen yang duduk sebelah aja udah syukur. Haha. Waktu itu dari sekitar 50 orang yang ikut psikotes, setengahnya masuk ke tahap ini. Kita disuruh nunggu dalam suatu ruangan, baru dipanggil satu-persatu.

Ini gue ngga sepenuhnya inget apa yang ditanya ya, gue cuma inget beberapa pertanyaan yang mungkin nanti bisa membantu kalian mempersiapkan diri sebelum di wawancara.

Pas masuk ruangan, ada tiga orang user yang mempersilahkan gue duduk. Posisinya kayak sidang skripsi deh, cuma kita duduk ngga berdiri. Nah, kalian disuruh memperkenalkan diri, jurusan, dan asal kampus. Jangan lupa jawab dengan tegas, singkat dan pake senyum. Biar keliatan ramah gitu, walaupun yang nanyain judes minta ampun.

Setelah itu mereka akan bergantian nanya sesuai cv lo. Kemaren gue ditanya pengalaman organisasi selama di kampus, pengalaman kerja yang berhubungan dengan produksi program tv atau film, kenapa gue memilih departemen produksi, apa yang kamu ketahui tentang Production Development Program di Metro TV. Gue lupa sisanya apa, yang jelas yang ditanya user itu berhubungan dengan skill dan pengalaman di bidang Broadcasting. Entah itu dari tugas-tugas kuliah atau diluar tugas. User ingin tahu kemampuan kita dibidang produksi, apa yang kita tau mengenai program ini, biar ngga terkesan asal pilih, dan terutama pengalaman kita.

Selain itu, beberapa temen gue juga ada yang ditanya tanggapan mereka mengenai program yang tayang di Metro TV. Apa kelebihan dan kekurangan program. User juga katany sempet nanya soal inovasi program yang akan kita kasi. Mewakili anak muda, kita akan ditanya program seperti apa sih yang kita pengen, tapi tetep satu visi sama Metro TV. Program seperti apa yang kita pengen hadir di Metro TV dan kenapa. Kurang lebih seperti itu.
Setelah memberi pertanyaan, mereka mempersilahkan gue untuk bertanya. Gue menanyakan beberapa pertanyaan soal job desk gue nantinya dan jenjang karir dari program yang gue ikuti. Pas dikasi waktu bertanya gue saranin, lo harus nanya. Kenapa? Biar lo keliatan antusias dan pengen masuk. Ketimbangan elu cuma iya-iya aja.

Seberapa takut dan groginya elu, jangan liatin di depan user. Kemaren pas gue mau interview mules terus rasanya. Tapi pas selesai pengenalan nama, gue lebih plong dan bisa jawab pertanyaan dari user. Soalnya kalo lo keliatan gugup, user akan makin memojokkan ditambah jawaban yang kita kasi ngga akan memuaskan. Kalo kata temen gue, ‘lemesin-lemesin aja’ gitu.

Setelah interview user, sorenya gue langsung di SMS lolos ke tahap selanjutnya. Tahap selanjutnya itu dilaksanakan dua hari kemudian.

Interview Asesor
Sebenernya gue kurang paham juga penyebutan maksud penyebutan ‘asesor’ dalam tahap ini. Yang jelas, interview asesor adalah tahap wawancara oleh psikolog. Pada tahap ini yang menjadi topik pertanyaan adalah ‘diri’ kita sendiri. Psikolog atau asesor ingin tau siapa diri kita, dan ingin kita tau siapa sebenarnya diri kita. Pertanyaannya juga menurut gue bikin gue mikir, ‘masa iya gue kayak gitu’, ‘oh iya ya gue kayak gitu’.

Awalnya asesor menginstruksikan kita untuk duduk, lalu mempersilahkan kita mengenalkan diri kita. Selanjutnya asesor bertanya seperti ini, “Siapa sih Ni Wayan Primayanti ini?”. Gue sempet bingung nerima pertanyaan macam itu. Sampe gue mikir, ‘siapa ya gue’. Yak, bisa langsung dijawab, kata dia. Mulailah gue menjelaskan, asal gue, kedua orang tua gue, perjalan gue dari kecil sampe sekarang, kesukaan gue apa, beberapa pengalaman di duina broadcasting, kegiatan gue sehari-hari. Trus di asesor, bilang gini, “iya apa lagi. Saya belum nangkep siapa sih kamu ini’ gitu. Jadi gue jelasin lagi tentang diri gue. Pokoknya sebanyak-banyaknya sampe dia bilang cukup, atau kita kehabisan omongan mau bilang apa.

Kemudian dia bacain karakter gue, berdasar tes psikolog yang gue jawab kemaren. Gitulah pokoknya gue. Trus dia nanya, ‘apa bener kamu seperti itu?’. Itu sih yang buat gue bingung. ‘emang gue gitu ya’. Pas gue mikir dalem-dalem, ada benernya juga sih. Akhirnya gue jawab aja sekenan, sebisanya gue ngasih alesan. Soalnya kata temen-temen dan senior gue. Dalam tahap asesor ini kita harus jawab jujur. Mereka lebih tau kapan kita menyembunyikan sesuatu, kapan kita bohong atau sebaliknya.

Berikutnya, gue ditanya soal sifat buruk dan sifat baik gue. Pada saat nerangin sifat buruk, si asesor justru semakin antusias buat nanya. ‘kenapa kamu bisa memiliki sifat seperti itu’, ‘bagaimana selama ini kamu menyikapi diri kamu sendiri’, ‘bagaimana reaksi teman-teman kamu, yang tau sifat kamu itu’, ‘apakah kamu sendiri tidak berusaha untuk merubah sifat itu’, ‘jika iya, sudah sampe tahap mana’, ‘kamu tidak takut nantinya sifat kamu itu bisa menghalangi kamu saat bekerja nanti’, ‘bagaimana bila rekan kerja kamu yang baru tidak mau menerima sifat kamu itu’. Buset deh banyak bener pertanyaannya, gue ampe capek jelasinnya.  Makanya apa yang gue bilang diawal tadi, gue jadi mikir, ‘oh gue kayak gini ya’, ‘oh segitu besarnya pengaruh sifat gue di lingkungan’ seperti itulah  kira-kira.

Banyak deh pertanyaan yang menyangkut tentang kepribadian. Termasuk nanti kita disuruh cerita mengenai pengalaman buruk yang pernah kita laluin apa, sampe rencana kita beberapa tahun kedepan. Gue berasa curhat ke orang yang baru gue kenal. Begitulah. Hahha

Tapi pada saat wawancara asesor ini, gue udah ngerasa down. Gue ngrasa dari sifat-sifat buruk tadi, belum pantes buat masuk dunia kerja. Jadi ngerasa aja, ‘oh gue segitu salahnya ya’ gitu. Makanya gue udah ngga terlalu berharap lolos tadinya disini. Eh kepanggil. Jadi gue belum bisa ngerubah sifat-sifat itu. Hehe.

Pengumuman masuk ke tahap selanjutnya dikasi tau kira-kira 2 hari setelah Interview Asesor.

Interview Panel
Yang dimaksud interview panel disini adalah, peserta atau calon karyawan diwawancarai oleh staff HRD atau justru Manager HRD-nya langsung. Kemaren gue harusnya diwawancara langsung oleh Manager HRD, namun pas saat interview panel udah ditentuin dan mendadak Manager ada keperluan jadilah diganti oleh asistennya. Tapi pas gue ngira tahap panel udah beres, eh ternyata ini cuma jebakan semata. Interview sesungguhnya beberapa hari setelah interview hari itu. Jadi kita dipanggil lagi buat interview panel sama Manager HRD Metro TV.

Interview panel itu kondisinya, dalam ruangan ada Manager HRD dan 4 orang calon karyawan. Nanti kita dikasi pertanyaan dan bergilir menjawab sesuai arahan yang dikasi tau. Deg-degan juga sih diwawancara kayak gini. Biasanya kan kita diwawancara sendiri, jadi kalo ngga bisa jawab ya sendiri dan si pewawancara aja yang tau. Eh kalo ini, kalo ngga bisa jawab temen sendiri juga tau, kan malu. Mereka juga mikir hal yang sama pasti. Hahha.

Pokoknya dalam interview panel ini pertanyaannya random banget. Gue itu ditanya soal, ‘kenapa pengen kerja di Jakarta’, ‘kenapa kamu milih jurusan ilmu komunikasi’, ‘kenapa pengen masuk brodcasting’, ‘kenapa sih mau di Metro TV’, ‘jelasin dong prestasi yang udah kamu tulis di CV’, ‘pengalaman oraganisasi kamu apa aja’, trus kan gue nulis tuh di CV skill yang gue punya, kayak news writing, feature writing, dan lain-lain itu. Nah beliau nanya, ‘dari semua kelebihan kamu, yang kamu ngga bisa apa’, gitu. Awalnya gue bingung. Tapi akhrinya gue kasi argumen aja gini pak,….itu. pokoknya jangan sampe kita keliatan cengok. Soalnya pengelaman temen gue, kan katanya kalo udah lolos tahap ini kemungkinan besar kita pasti lolos tahap berikutnya, karena gugup pas jawab dan ngga bisa ngomong apa-apa, jadilah dia yang ngga lolos. Mungkin emang belum rejeki kali ya.

Ditanya juga soal, ‘apa sih yang kamu tau dari program PDP ini’, ‘nantinya kamu pengen seperti apa’,’tugas-tugas yang kamu tau dari program ini apa aja’, seperti itu deh pokoknya. Nah setelah kita jawab masing-masing, barulah beliau jelasin maksud program ini sampe nantinya akan jadi seperti apa. Makanya di part 1 kemaren gue bisa jelasin, itu kurang lebih penjelasan yang gue tangkep dari Manager HRD-nya langsung.

Intinya persiapkan diri kamu sebaik mungkin, banyak doa, kuatkan mental, jangan sampe jawaban temen sebelah elo mempengaruhi jawaban elo, atau lo cuma bilang sama kayak dia pak. Nanti pasti ditanya lagi, ‘sama kayak gimana maksud kamu’, gitu. Kasi jawaban sejelas-jelasnya, dengan suara yang jelas juga. Bagaimana pun rupa yang ngewawancara jangan takut. Takut itu cuma sama Tuhan Yang Maha Esa, cie gitu. Hahha.

Pengumuman lolos interview panel dikasi tau kira-kira 2-3 hari setelah interview.

Medical Check Up
Medical Check Up atau medcek adalah tahap akhir dari serangkaian tahap seleksi ini. Kalo kata staff HRD kemaren sih, kalo kamu udah masuk tahap ini kemungkinan besar kamu lolos dan keterima jadi karyawan Metro TV. Kecuali kalo elo menginap penyakit menular sejenis HIV, idih jauh-jauh.
Beberapa hari sebelum medcek elo bakal dikasi surat pengentar buat ke laboratoriumnya, kalo gue kemaren sih si Prodia deket Metro TV Kebun Jeruk juga. Mereka semacam kerjasama gitu. Soalnya secara berkala, karyawan disini nantinya juga dicek tiap 6 bulan sekali kalo ngga salah. Untuk antisipasi penyakit berbahaya gitu.

Sebelum medcek, HRD akan ngingetin elo buat puasa 10 jam sebelum medcek. Kita dilarang makan, tapi engga dilarang minum. Pas nyampe dilokasi, kita dikasi form yang harus diisi mengenai data diri dan riwayat kesehatan. Pertanyaannya banyak banget, lumayan bikin pusing. ‘apakah kamu pernah menderita inilah, itulah’ gitu pokoknya.

Rangkian medcek ini, ada tes urin, cek darah, rontgen paru-paru, sama tes fisik. Tes fisik itu meliputi, tes mata, telinga, hidung, tangan, kaki dan lain-lain. Nanti elo juga bakal dikasi pilihan mau diperiksa payudara dan anus engga. Kalo yang ini ngga wajib sih. Hasil tes ini langsung dikirim ke kantor. Dan kita tinggal nunggu panggilan diterima atau engga.

Beberapa hari kemudian, akhirnya gue di telpon hrd dan disuruh buat tanda tangan kontrak ke kantor. Sebelum tanda tangan kontrak, ada beberapa syarat yang harus dipenuhin, seperti membuat npwp, buat rekening bank ini, termasuk surat kontrak yang harus di tanda tangan orang tua diatas materai, dan ijazah juga dikumpulkan. Setelah lengkap semua barulah kita dikasi resmi masuk kerja di tanggal berapa.

Oya, pas pembagian kontrak beberapa temen gue juga ada yang disuruh medcek ulang, alesannya sih gue ngga tau pasti. Yang jelas pasti ada beberapa masalah mengenai kesehatan ini. Saran sih ya, sebelum medcek jangan mengkonsumsi obat apapaun, soalnya berpengaruh ke hasil urin. Terus jangan begadang dan kecapean. Ngga tau sih ngaruhnya dimana. Yang penting kalo kata hrd-nya mah, jangan aja. Haha.

Waktu itu pas udah terkumpul semua, sekitar tanggal 17 Oktober gitu kita disuruh mulai kerja tanggal 2 November. Lumayan lah liburan itu gue balik ke Bali, sambil nyiapin kebaya buat wisuda. Hahha.

Begitulah kira-kira rangkain proses yang gue ikutin sampe akhirnya diterima di Metro TV. Nyari kerja itu sebenernya jodoh-jodohan, soalnya kita ngga bisa maksa biar dapet kerja disini dengan (mungkin) IPK kita yang gede minta ampun. Atau dengan prestasi yang luar biasa. Soalnya pasti ada beberapa pertimbangan perusahaan, apakah orang ini layak atau tidak layak masuk ke perusahaan ini.


Pokoknya mah yang penting, doa, berusaha dan restu orang tua. Tetap semangat dan salam super. *eeh

Saturday, December 5, 2015

Production Development Program (PDP) Part 1

Selama kurang lebih 2 bulan nganggur, setelah sidang akademik, akhirnya gue keterima di salah satu stasiun televisi nasional. Semenjak masuk kuliah dan milih konsentrasi broadcasting, gue udah pengen bisa kerja di TV. Di tambah tugas-tugas kuliah yang mempersiapkan gu (dan mahasiswa lain) buat siap kerja di media. Dan tepat tanggal 2 November 2015, gue mulai kerja di Metro TV.

Sebelum gue masuk dan jadi karyawan resmi, gue ikut beberapa tahap seleksi yang lumayan merepotkan, karena gue harus bolak-balik Bandung-Jakarta. Tapi itu ngga sia-sia, karena akhirnya gue keterima. Selama masa seleksi itu, gue nyoba browsing soal tahap-tahap seleksi di Metro TV. Baca-baca blog orang yang dikit banget referensinya. Padahal sharing pengelaman di blog lumayan membantu persiapan sebelum kita ikut seleksi nyari kerja. Nah sekarang, karena kemaren gue terbantu dengan pengalaman orang yang ditulis di blog, walau cuma sedikit, gue mau bagi cerita bagaimana proses dan tahap-tahap seleksi ‘Production Development Program (PDP)’ di Metro TV.

Apa sih PDP itu?
PDP atau Production Development Program adalah suatu program yang dipersiapkan untuk mendidik karyawan baru di bidang atau divisi produksi. Program ini itu setara dengan Management Training  di perusahaan biasa, cuma istilahnya beda. Fokus PDP ini adalah keahlian di bidang memproduksi sebuah program televisi. Ya, diharapkan nantinya pelamar yang terpilih program ini adalah calon-calon produser di masa depan. Yang lolos program PDP ini memang dipersiapkan oleh Metro TV menjadi seorang produser. Maka dari itu bekal ilmu sebelum terjung langsung sangat diperlukan.

Kenapa harus ada pelatihan dulu, ngga langsung kerja?
Jadi untuk tahap seleksi di Metro TV, apabila ingin langsung jadi karyawan dengan masa kontrak 1 tahun, bukan Development Program namanya,  tapi jalur reguler. Kenapa dibedakan, itu tergantung kebutuhan perusahaan. Kalo di PDP ini, kita dilatih biar bisa multitasking. Karena menurut Metro, banyak produser yang berasal dari satu bidang. Jadi saat dia jadi pimpinan, dia ngga paham bidang lain. Fungsi pelatihan atau training ini adalah agar karyawan tau semua bidang tugas saat jadi produser nanti.

Gimana sih proses masuknya?
Jadi gini,
Gue awalnya ikut jobfair  yang ada di Gelora Bung Karno (GBK) karena sebelumnya gue dapet info kalo disana banyak perusahaan media yang buka stand. Kalo mau ikut jobfair saran gue, jangan asal ikut. Lumayan kan duit buat bayar, cari dulu perusahaan apa bakal dateng kesitu. Jika menurut lo ngga ada perusahaan yang lo mau, mending ngga usah ikut. Jangan terlalu memaksa, kecuali kalo lo emang mau sekedar nyoba-nyoba aja. Mending lo masukin lamaran yang banyak via lowongan online, kan banyak tuh kayak job street atau yang lain. Soalnya temen gue juga ada yang kepanggil dari situ. Semakin banyak lo masukin, semakin besar peluang lo. Cuma kemaren, gue kurang beruntung. Karena lamaran gue via online ngga ada yang dipanggil.

Nah, pas di GBK gue kumpulin CV ke stand Metro TV. Gue sertain juga, rekap nilai, foto sama fotokopi KTP. Gue belum wisuda, jadi belum dapet ijazah. Bawa itu aja cukup kok. Gue masukin juga tuh ke media lain, kayak RCTI, MNC, SCTV dan lain-lain. Setelah gue rasa semua perusahaan yang gue cari udah gue masukin, pulang lah gue. Itu udah sore dan gue mau langsung ke Bandung. Nekad sih gue ikut jobfair ke Jakarta sendiri. Gue juga udah biasa ngurus apa-apa sendiri. Hehhe. Oya, saran gue, soal CV, mending lo buat yang paling menarik dan kreatif. Bagusnya cuma satu halaman aja. Ringkas dan padat, ngga usah bertele. Kenapa? Pihak HRD juga bisa cepet nangkep siapa elu dari apa yang ada di CV lo, gitu.

Di stand Metro TV, cuma ada lowongan buat Journalist Development Program (JDP) sama Metro TV Management Development Program (MMDP). Gue pengen banget daftar JDP, tapi syaratnya tinggi banget. Gue harus punya skor toefl diatas 550 sama jelas penampilan yang menarik. Karena dua itu ngga terpenuhi gue nulis lah MMDP. Padahal gue ngga tau itu sebenernya apa, seengaknya gue nyoba. Pikir gue pas itu.

Habis dari GBK gue langsung ke travel, di daerah Sarinah. Karena gue nyampe pool travel kecepetan, gue nunggu sambil makan di KFC deket situ. Pas gue mau jalan ke travel, sekitar 6. Ada sms masuk.

Jeng..jengg…

Metro TV.

Gue disuruh ke Metro TV, untuk ikut psikotes, 2 hari lagi. Dengan pertimbangan yang matang biar ngga bolak-balik, gue milih nginep di kos temen. Akhirnya tiket travel gue hangus.

Saat tes tiba, gue pake baju rapi, baju yang sama pas gue ikut jobfair. Gue ngeliat orang yang dateng, pada pake baju yang agak santai. Sebelumnya gue pernah ikut tes media juga selain Metro, gue nangkep kalo tes media emang agak sante ngga terlalu kaku harus pake rok atau flat shoes gtu. Mending lo dateng ke tempat tes setengah jam sebelum tes dimulai, jadi lo bisa lebih sante dan punya banyak kenalan. Jangan sama sekali kaku sama orang baru. Nantinya lo bakal nanya-nanya masalah pengemuman ke dia. Bila perlu langsung minta kontak.

Jam 8.30 pas, kita disuruh ke ruangan tes. Waktu itu ada sekitar 50 orang yang ikut psikotes. Setelah diruangan, kita disuruh ngisi form dan absensi. Nah di form itu gue tulislah MMDP jadi pilihan pertama dan JDP jadi pilihan kedua. Yang gue tau waktu itu cuma dua program itu.

Tes Psikotest
Di masing-masing perusahaan biasanya beda tahap seleksi rekrutmennya. Di Metro TV, tahap awal seleksi yaitu Psikotest. Apa aja sih psikotesnya?

1. Tes Logika Penalaran
Tes ini terdiri dari deret bentuk gambar.  Katanya dalam tes ini yang diukur kemampuan memahami pola-pola atau kecenderungan tertentu. Kemaren gue itu dikasi waktu yang amat sangat singkat, jadi butuh konsentrasi sama ketelitian. Kalo lo susah mikir apa deret selanjutnya, mending lo lewatin biar ngga ke habisan waktu buat jawab soal selanjutnya. Intinya jangan buang-buang waktu.


 Sumber: google.com

2. Tes Kraepelin/Pauli
Kalo gue sih bilangnya ini tes koran. Soalnya bentuknya kayak halaman koran. Jadi ada banyak angka berderet dari atas ke bawah, dalam bentuk-bentuk lajur. Nah, kita diminta jumlahin angka di satu deret, kemudian nulis hasil penjumlahan tepat diantara dua angka yang kita jumlahin. Nanti tiap deretnya atau lajurnya kita bakal dikasi waktu untuk menjumlah. Gue sih kemaren memulai penjumlahannya dari bawah ke atas. Soalnya ada juga yang jumlah dari atas ke bawah. Ngga ngerti sih bedanya apa, tapi cara jawabnya sama. Untuk tiap lajur, waktunya sama, misalnya 1 menit. Gue sebelum di Metro, pernah ikut psikotes di media cetak nasional, pas itu gue belum tau cara jawab yang bener. Jadi dari awal gue udah antusias banget ngejawab soal ini, soalnya gue ngrasa ada kemampuan lebih di penjumlahan. Tapi setelah psikotes disana gue ngga lolos. Tes ini bukan satunya-satunya faktor penentu sih, tapi cukup dipertimbangkan.

Dari hasil searchingan gue di internet, akhirnya gue paham jawab tes koran ini ngga Cuma butuh kecepatan. Tapi stabilisasi. Hahhaa. Jadi angka yang udah kalian jumlahin tiap lajurnya dianjurkan stabil alias satu kolom dengan kolom yang lain ngga terlalu jauh beda jaraknya. Soalnya di awal elo pasti cepet kan ngerjainnya masih ada banyak tenaga, dan mendekati akhir kalian pasti kecapean dan makin sedikit angka yang di jumlah. Padahal dalam tes ini yang menjadi penilaian penting adalah kemampuan mengendalikan emosi dan bisa bekerja di bawah tekanan. Kebayangkan kalo hasil tes kalian grafiknya itu naik turun tiap lajurnya.

 Sumber: google.com

3. Tes Wartegg
Tes ini itu, tes yang paling unik menurut gue. Kenapa? Karena kita dikasi selembar kertas yang udah ada 8 kolom berisi bentuk-bentuk gambar tertentu, kayak titik, garis melengkung, garis lurus, ada kayak kurva juga. Nah dari gambar yang udah ada itu, kita diinstruksikan meneruskan gambar. Terus, untuk urutan gambar kita dibolehkan ngacak. Nanti setelah kita selesai gambar, ditulis keterangan gambar mana yang paling disukai, tidak disukai, paling mudah dan paling susah. Paham kan?

Dari tips-tips yang uda gue baca di internet, urutan gambar boleh acak tapi disarankan ngga terlalu acak. Misal, dimulai dari kolom, 1,2,3,4 dilanjut nomer 8,7,6,5. Kalo kalian gambarnya urut banget, kita dinilai orang yang kaku. Terlalu konservatif. Nah kebalikannya kalo gambar kita acak banget, kita dinilai orang yang terlalu kreatif.

Dari tes ini, bisa diliat karakter sesorang, misalnya kemauan, tekad, kelincahan, kemampuan beradaptasi, menyelesaikan maslah, kebijaksanaan, dan lain-lain. Ini beberapa hasil pencarian gue di internet mengenai  maksud tiap-tiap bentuk di kotak tes wartegg.

 Sumber: google.com

Kotak 1: titik hitam menunjukan kelincahan. Disarankan untuk menggambar makhluk hidup kayak serangga, laba-laba atau kupu-kupu.

Kotak 2: berbentuk s terbalik, yang menggambarkan kebebasan. Disarankan untuk menggambar burung terbang.

Kotak 3: ada tiga garis lurus yang berbeda tinggi, menggambarkan kemauan dan tekad untuk selalu memperbaiki diri. Disarankan untuk menggambar pagar, tiang listrik atau tangga.

Kotak 4: kotak hitam kecil di sudut kanan atas, menunjukan pribadi yang kokoh. Disarankan untuk menggambar bangunan atau konstruksi beton yang menunjukkan kekuatan.

Kotak 5: dua garis di sudut kiri bawah, menggambarkan ketepatan memecahkan masalah. Disarankan menggambar objek yang memliki kecepatan dan ketepatan, seperti balap motor atau mobil.

Kotak 6: dua garis membentuk segi empat, menunjukan kesederhanaan tapi tetap menyuguhkan realitas. Disarankan menggambar kamera, televisi atau komputer.

Kotak 7: titik kurva menunjukan garis yang diproses secara sembarang, harus diperlakukan secara hati-hati. Disarankan menggambar ulat, ular atau lain-lain.

Kotak 8: garis melengkung menunjukan kebesaran dan kebijaksanaan. Disarankan menggambar makhluk hidup yang besar dan menunjukkan kewibawaan, seperti gajah.

Sebenernya, saran-saran tadi tergantung pertimbangan kalian. Soalnya, semakin kreatif gambar yang kalian buat di kolom kotak, katanya semakin tinggi skor yang diperoleh. Gitu.

4. Draw A Man Test (DAM)
Dalam tes ini, kita disuruh menggambar seseorang, kemudian mendeskripsikan usia, nama, jenis kelamin dan kegiatan orang tersebut. Katanya sih, tes ini digunakan untuk mengukur tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja.

Disarankan untuk menggambar orang secara utuh, mulai dari ujung kepala sampe kaki. Termasuk detail muka kayak hidung, mulut sama telinga. Dan gambar orang tersebut, sedang melakukan aktifitas. Misalnya pedagang, nelayan, petani atau lain-lain.

5. Menggambar Pohon
Di tes ini kita disuruh menggambar sebuah pohon, dengan kriteria: berkambium, bercabang dan berbuah. Dan ngga dibolehin gambar phpn bambu, pisang, sama jenis rumput-rumputan.

Gue sendiri ngga pinter gambar, tapi dari yang gue baca yang dinilai itu bukan bagus ngganya gambar yang kita bikin, tapi ketepatan pemilihan pohon yang kita gambar. Kan banyak tuh syarat gambarnya, ngga boleh ini itu. Ditambah kita disarankan gambar detail setiap komponen pohon. Misalnya bentuk daun, batang, akar bahkan alur pohon. Bahkan penambahan rumput, atau tumbuhan liar di pohon yang kita gambar ada artinya. Nah kalo itu gue kurang paham. hehe

6. Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)
EPPS ini terdiri dari pilihan jawaban yang paling mencermikan siapa kita. Katanya, tes ini dipake mengetahui seberapa besar motivasi, kebutuhan, dan motif seseorang. Yang kurang paham, misalnya tes nya kayak gini:
A. Saya suka memuji orang yang saya kagumi
B. Saya ingin merasa bebas untuk melakukan apa yang saya kehendaki

Dari dua pernyataan itu, kita disuruh pilih salah satu yang mana sangat mencerminkan diri kita. Dan kalo ngga ada dari pernyataan yang sesuai dengan diri kita, kita tetep disuruh pilih jawaban yang paling mendekati.

Kalo tes ini mah, yang dibutuhin menurut gue cuma kejujuran aja. Biar nantinya hrd bisa ngeliat elo itu orangnya kayak gimana. Jangan mencoba menjadi orang lain atau biar jawaban lo terlihat bagus. Soalnya balik lagi ke masing-masing perushaan pengen cari orang yang seperti apa. Kan tiap divisi atau pekerjaan yang kita ambil butuh karakter yang beda-beda kan.


Oke, buat seleksi tahap 1 Production Develompment Program (PDP) di Metro TV gue cukupkan dulu. Semoga bisa membantu. Dan gue sambung lagi nanti di part berikutnya. J