Thursday, December 15, 2016

Headshot, Drama Film Laga

Hai universe, I'm Back!


Yeah, I'm Back.
Lama banget ya gue ngga bersua di blog. Kalo ibarat rumah, ini blog udah penuh sama sarang laba-laba. Sebenernya sih ngga karena sibuk-sibuk banget, emang gue-nya yang mulai males nulis. Kebiasan yang baik ilang, karena suguhan oppa-oppa Korea yang gantengnya dewa. Gue lebih sering nontonin drama dan internetan ngga jelas ketimbang nulis. Dan sekarang itu ngga boleh lagi. Nggak!

Kali ini gue bakal review film yang udah gue tonton sekitar 3 hari yang lalu. Temen gue maksa gue nulis, soalnya dia gregetan dengerin curhatan gue di watsap betapa errgh-nya ini film. Okay, gue bakal coba sedikit mengupas film ini. Dan semoga gaya tulisan gue ngga berubah. Hahha.

Senin, 12 Desember lalu gue dan temen-temen kuliah gue ketemuan. Kebetulan kita pada libur (eh gue ngga libur) dan akhirnya kita sepakat nonton film.
Dan.......
Film yang kita tonton adalah, Headshot.

Yeah, Headshot yang pemainnya udah dikenal banget aktor spesial film laga. Iko Uwais. Pertama liat posternya di bioskop, gue kagum. Ada banyak tulisan nominasi ataupun penghargaan Headshot. Dan penghargaannya lebih banyak di luar negeri. Wow. Ada Festival Film di Paris, Toronto, dan masih banyak yang sampe gue ngga inget. Melihat sambutan yang baik itu, otomatis dong gue makin makin penasaran sama ini film. And then...


(Sumber: google.com)

Okay, gue bakal jelasin dulu. Apasih film Headshot dan siapa aja sih pemainnya?

Headshot adalah sebuah film dengan genre action, yang sutradaranya dikenal dengan Mo Brothers, yaitu Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Rilis tanggal 8 Desember 2016, ngga main-main film ini dibintangi sama Iko Uwais (abdi/Ishmael), Chelsea Islan (Ailin), Julie Estelle (Rika), Zack Lee (Tano), Sunny (Lee), David Hendrawan (Tejo), Very Tri Yulisman (Besi), Ganindra Bimo, dan masih banyak lagi. Dan gue dapet info, Headshot adalah film pertama dari rumah produksi Screenplay Production dan Infinite Frameworks Studios. Proses syutingnya sendiri, berlangsung 45 hari di Batam. 

Ekspektasi gue tinggi sama film ini, melihat dua film Iko sebelumnya sangat sukses, ditambah deretan prestasi yang udah diraih ini film bahkan sebelum penayangannya di Indonesia.

Dzeengg, sekitar 2 menit pemutaran film ini gue langsung bisa ngambil kesimpulan kalo ini film jelek dari segi cerita dan logika. But sorry to say. Film yang bagus menurut gue adalah film yang mampu meraih perhatian penontonnya di 15 menit awal pemutaran. Dan Headshot sama sekali ngga membuat perhatian gue teralihkan.

Film ini bercerita soal pria yang awalnya tidak diketahui namanya (Iko Uwais) yang terbangun dari koma yang panjang. Dan selama si cowo koma, ia dirawat oleh Ailin (Chelsea Islan) yang notabene adalah dokter. Kondisi si pria ditemukan sekarat pertama kali oleh seorang nelayan sekitar pantai. Dramanya muncul ketika pria ini, akhirnya dinamai Ishmael hilang ingatan. 

Ishmael dan Ailin langsung dekat. Cepet banget menurut gue, walaupun ini terjadi di film. Sambil si Ishmael mencari siapa dirinya, seorang tahanan penjara atas kasus narkoba (menurut gue) lepas. Lepasnya pun sangat tidak wajar dan tidak masuk akal. Ini yang gue bilang adegan awalnya udah bikin ngakak. Kok ya bisa, gampang banget polisi dibunuh saat ada kunjungan rutin ke lapas, trus dengan gampangnya mereka tembak-tembakan trus udah mati. gitu aja. Ngga ada yang namanya pengawalan ketat. Seakan untuk keluar dari penjara ngga ada tantangan yang berarti. Ya walaupun pada akhirnya semua napi mati ketembak kecuali si Lee ini.

Aduhh mak, gue yang ngga pernah di penjara pun tau kok ya gitu amat ya.

okey, cerita berlanjut ke tindakan kejahatan Lee hingga akhirnya membawa di bertemu dengan Ishmael yang ternyata nama sebenarnya adalah Abdi. Dan ternyata Lee adalah ayah angkat Abdi. Abdi berhianat karena udah muak menjadi boneka yang tugasnya melakukan kejahatan. Akibatnya di ditembak, tercebur ke laut dan lupa ingatan. Begitulah kira-kira.

Kelucuan dalam film ini berlanjut ketika Ganindra Bimo nongol. Ini orang kocak parah. Walaupun aktingnya sangat serius dalam keadaan genting, gue sama sekali ngga liat sangarnya Bimo dimananya. Kupingnya ditembak, pergi ke rumah sakit bikin teror ke dokter Ailin. Semua gue liat lucu. 

Selanjutnya adalah adegan di bis yang menurut gue ngga penting. Semua penumpang di Bis ditembak, cuma buat nyari Abdi. Dokter Airin dan seorang gadis kecil pun disandera, agar supaya si Abdi menyerahkan diri. 

Singkat cerita, Abdi udah sampe di basecamp lokasi penyenderaan dengan bantuan share location. Heloooo, sejak kapan di hutan belantara ada sinyal. Okey kita anggap ada. Karena Telkomsel udah menyasar seluruh pelosok Indonesia.

Disini Abdi berhasil membunuh 4 teman baiknya dulu, termasuk Rika (Julie Estele). Juli seksi abis disini. Ini sih yang membuat film ini mahal. Heran kenapa bisa lolos sensor. Banyangin aja, si Juli harus jungkir balik ngelawan Iko pake tangtop item press body. Kalo ada yang bilang, 'gue ngga nggeh loh prim itu keliatan anunya, atau apanya. Gue fokus sama silatnya' itu boong. Mereka boong. 

Dan akhirnya, Abdi melawan 'ayah angkat'nya sendiri, dengan sangat tragis, lalu hujan turun. Adegan selanjutnya, Ishmael bangun dari tempat tidur di sebuah rumah sakit disampingnya ada Chelsea Islan. 

Yeaaah, good untuk drama FTV nya.

Jujur kalo menurut gue, cerita Headshot sangat cetek, dangkal, ringan, dan drama abis. Ini sama aja kayak FTV yang ditambah adegan silat. Terlalu banyak 'anjing' yang keluar yang menurut sangat tidak lucu. Iko sangat tidak cocok beradegan romantis. Plis. Mas Iko lebih baik beradengan sangar dibanding harus manis-manis dan sok romantis. Ngga banget. Ngga cocok. Ngga pantes. 

Adegan yang lain pun terasa konyol, saat Iko berantem di kantor polisi. Iko diserang oleh musuh, dan musuhnya lainnya ngidupin lampu. Setalah mati, baru musuh yang ngidupin lampu dateng. aaah. gimana ngga gregetan ini nontonya. 

Keanehannya sampe ke bolong bajunya Iko pas berantem. jaitan kepala, make up Chelsea yang gue liat berubah-ubah. 

Yang gue heran adalah kok ya bisa film kayak ini dapet banyak penghargaan ya. 

ya, disamping minus yang banyak tadi, yang bagus sih emang adegan silat dan banyak adegan sadis yang cukup berani. Visual gambar juga cukup bagus, kamera moving sepanjang adegan berantem yang buat penonton bisa melihat dari banyak sisi. Atau justru pusing, entahlah.

Kalo gue bandingin sama The Raid 1 dan 2, ini mah jauh di bawah. Bahkan levelnya pun dan target penontonnya beda. Ini film sangat ringan dan bisa dinikmati siapa aja.

Menurut gue (menurut gue loh ya) ini sebuah kemunduran film laga Indonesia. Ini yang terjadi ketika film laga 'dipaksa' dibungkus dengan drama cinta. Mas Iko, ngga usah beradegan romantis dan sok manis juga udah keren kok. Gue cuma sayang aja, ini film yang udah banyak dinanti tapi ngga sesuai ekspektasi.

Dan lagi-lagi gue bilang, ini murni menurut gue loh ya. Tanpa ada tekanan ataupun paksaan. Gue ngga berpura-pura suka cuma demi menaikkan derajat film negeri. Ini kritik membangun untuk lebih baik kedepannya. Gue sendiri pecinta film Indonesia. 

So, rating dari gue 6/10. Maaf Mas Iko, kamu ngga cocok jadi cowok melankolis.



Monday, February 15, 2016

Deadpool, Superhero Kalang-Kabut



Gue tau Deadpool, berawal dari suruhan produser buat nyari film terbaru untuk closing segmen Metro Plus Siang. Dan trailer nya keliatannya seru banget. Superhero tapi lucu. Ditambah pas itu, kedua host yang penggemar film-film Marvel juga bilang kalo Deadpool bagus filmnya. Makanya gue makin pengen nonton. Hari sabtu kemaren, tepat sehari sebelum valentine gue dan temen gue nonton di salah satu bahkan satu-satunya bioskop murah di Jakarta. Karena nonton di weekend itu harganya ‘agak’ ngga masuk akal. Fiuh.

Lanjut.Kali ini gue mau ceritain tentang Deadpool.

Deadpool bercerita tentang seorang mantan tentara bayaran yang juga pasukan khusus militer, bernama Wade Wilson (Ryan Reynolds). Wade memiliki seorang kekasih, Vanessa Varlyse (Morena Baccarin) yang sangat mencintainya. Bahkan ketika Wade divonis menderita penyakit kanker mematikan, Vanessa tidak ingin pergi dari hidup Wade.

Romansa Kaum Pinggiran

Pertama, gue mau menyampaikan rasa bangga gue karena sudah menonton film Indonesia. Yeah!
Tapi hampir sama dengan film Siti, jumlah penonton A Copy of My Mind pas gue nonton ngga lebih dari 20 orang. Sangat sedikit.

A Copy of My Mind (kita singkat ACMM aja biar ngga kepanjangan ngetiknya) adalah film karya salah satu sutradara terbaik di Indonesia, Mas Joko Anwar. Lah akrab bener manggilnya pake mas? Eits, gue udah kenalan. Dia pernah jadi narasumber di program acara gue. Cie gitu.

Nih
Sumber: dokumentasi pribadi


Pertama kali gue nonton film karya Joko Anwar, judulnya Janji Joni. Dan itu menurut gue film yang keren.Gue suka banget film yang ceritanya cuma sehari, tapi pesannya dalem. Seperti film Siti contohnya. Semenjak itu gue terobsesi bikin film yang setting waktunya cuma sehari.Karena terinspirasi dari Janji Joni, di semester 3 pas matakuliah pengantar broadcast gue ditugaskan buat film. Film pertama gue. Gue kasi judul, ‘KSATRIA’. Film pendek tanpa dialog berdurasi 5 menit yang ceritanya cuma, perjalanan sang cowok buat nepatin janji ketemu sama pacarnya.As simple as that. Kenapa judulnya Ksatria? Yah karena, pertama nama Joni udah keambil sama Mas Joko. Haha. Kedua karena menurut gue, Ksatria bukan cuma soal membela yang benar di medan perang. Tapi Ksatria adalah orang yang mampu menepati janjinya. Selain nama si Cowo itu di film emang Ksatria.

Sebentar. Kok jadi ngomongin film gue.

Kita lanjut ke ACMM.

ACMM bercerita tentang Sari (Tara Basro) seorang pegawai salon yang gemar membeli dvd bajakan. Tapi Sari sering dapet dvd dengan subtitleyang ngawur. Suatu ketika, Sari protes ke tukang yang jualan dvd. Nah momennya pas banget pas Sari komplen ada Alek (Chico Jericho), si penerjemah dvd bajakan.

Sari yang kesal karena protesnya tidak mendapat ganti rugi, ia lalu pergi dari toko dengan mengambil satu dvd bajakan tanpa ijin. Tindakan itu diliat oleh Alek yang langsung membuntuti Sari pergi. Alek kemudian ‘menjebak’ Sari agar mau ikut ke kosannya. Dan Sari mau.

Setelah hari itu, mereka bertemu lagi. Sepertinya Alek udah suka sama Sari dari pertama pas mereka ketemu. Kalo bisa dibilang ini kayak FTV versi alusnya, ngga langsung tabrakan jatuh cinta. Anehnya, aneh banget pas pertemuan kedua mereka yang sepertinya ‘udah saling jatuh cinta’ melakukan hubungan layaknya suami-istri. ‘baru dua kali ketemu loh, cepet amat’ pikir gue. Pas adegan kayak gini, gue malah sibuk liatin ekspresi penonton. Haha. Tapi gue masih heran kenapa lolos sensor ya. Hhmm.

Makin hari, cinta mereka semakin kuat.

Sari yang bosen sama tempat kerjanya yang lama nyobain cari tempat kerja baru yang ngga jauh dari salonnya yang lama. Di salon yang baru, Sari harus training sekitar 2 minggu baru diperbolehkan handlepelanggan. Jadi setelah diterima, kerjanya si Sari cuma ngeliatin senior therapist-nya. Karena bosen, Sari ngadu ke Manajernya biar dia bisa langsung handle pelanggan.

Gara-gara itu, Sari akhirnya diutus untuk memberikan perawatan wajah pada seorang narapidana di penjara yang punya banyak relasi di kalangan atas. Narapidana tersebut dipenjara karena kasus korupsi, bisa dibilang juga dia makelar korupsi gitu. Yang hubungin pejabat dengan pengusaha gitulah.

Mas Joko seperti mengangkat kisah di negeri ini, atau justru ingin menyindir seseorang. Penjara yang menurut orang-orang termasuk Sari, adalah tempat yang kotor, sempit dan bau ternyata kenyataannya tidak demikian. Dalam sel napi kasus korupsi yang dimainkan oleh Maera Panigoro ini, lebih mewah dari kos-kosan pada umumnya. Ruangannya bersih ber-AC, ada kulkas, dan home theater yang lengkap koleksi dvd.

Setelah memberi perawatan, Sari diam-diam mengambil koleksi dvdnya. Adegan menegang ketika, sebelum pulang Sari dipaksa membuka tasnya untuk diperiksa. Takut-takut kalo ada penyadap yang dibawa Sari. Sesampainya di kos Alek, Sari mengajak Alek menonton bersama. Tapi ternyata dvd curian Sari adalah rekaman korupsi para pejabat tinggi dan juga salah satu calon presiden saat itu. Ketika Sari dan Alek mengetahui hal itu, bahaya mengancam mereka berdua.

Setelah menonton ACMM, gue serasa melihat ada yang ingin Joko Anwar sampaikan secara implisit dan eksplisit. Semacam tragedi masa lalu, dimana apabila seorang merugikan pejabat saat itu akan dihabisi nyawanya. Atau paparan fakta bahwa koruptor di Indonesia, yang katanya di penjara ternyata hidupnya lebih enak dari rakyat yang telah menjadi miskin karena haknya tidak diperhatikan.

Gue tau Joko Anwar memang vokal kalo ngomongin soal politik di Indonesia. Beberapa kali nonton Mata Najwa yang ada Mas Joko-nya, sangat-sangat terlihat kalo Mas Joko anti pejabat yang beruntang janji. Ini juga terlihat dari tweetMas Joko di Twitter yang ngga hentinya-hentinya mengkritik pemerintah.

Momen proses produksi film ini juga bertepatan dengan Pemilihan Presiden tahun 2014, kemaren. Dimana Mas Joko dengan lantang dan tegas mendukung Jokowi-JK kala itu. Nah yang jadi pertanyaan gue adalah, (1) Apakah film ini dibuat bertepatan dengan momen pemilihan presiden, dimana Mas Joko terinspirasi dari salah satu calon presiden yang memiliki ketrkaitan kuat dengan kasus 1998? Atau (2) cerita film ini sudah dibuat lama, hanya secara kebetulan momen yang pas saat pemilihan presiden? Jawab dong Mas Joko.

Teka-tekinya udah ya, gue akan mencoba memberi penilaian terhadap film ACMM.

Visual film ACMM seperti dokumenter kalo menurut gue, dari warna dan shoot-shoot yang diambil. Banyak close up bahkan extreme close up. Kamera moving yang mem-follow objek juga banyak. Sesekali gue suka, cuma kalo keseringan jadi pusing juga. Sepertinya gue paham maksudnya disini, bahwa kita (penonton) diajak lebih dekat dengan tokoh. Baik Siti ataupun Alek. Karena garis besar film ini yang menceritakan masyarakat bawah, gambar soal kemiskinan, anak terlantar, sebagai sisipian  atau transisi juga banyak. Ini gue suka. Inilah Indonesia, mungkin tepatnya Jakarta.Angle pengambilan gambar sangat beragam, tidak hanya satu atau dua titik. Penonton tidak akan bosan, gue yakin.

Gue juga suka transisi musik. Mungkin bukan trasisi, tapi perpindahan suasana dari sepi tiba-tiba berpindah ke tempat rame. Bener-bener membuat penonton terkejut.Nah tapi, apa ini menurut gue doang ya. Kok kayaknya tempat kosan Alek, adalah rumah yang sama, sama rumahnya Rio Dewanto yang di Filosofi Kopi. Terasa sangat familier. Iya ngga si?
Gue puas dengan wardrobe dan makeup yang bisa buat Sari jadi beneran orang pinggiran. Cuman kok rasa-rasanya, Tara Basro menurut gue kurang ‘greget’ ya. Beda sama Sekar Sari yang memerankan sosok Siti. Gue masih heran, kok bisa ya dapet Pemeran Utama Wanita terbaik di FFI kemaren. Tapi siapa gue, yang ngga ada tandingannya sama juri. Kalo Ciko mah ngga usah ditanya. Gue selalu suka dia jadi apapun. Apalagi kalo karakter cowok keras, maco, suka berantem dan yang pasti pemberontak.

Alek yang ngga punya KTP, seperti sebuah realitas  bahwa masih banyak rakyat di negeri ini yang ‘seakan’ tidak dianggap. Sebenarnya ada banyak realita-realita disampaikan dalam film ini, termasuknya usaha dvd bajakan yang ngga pernah surut.

Kira-kira durasi film ACMM sekitar 2 jam. Cukup panjang. Alurnya juga terlalu lambat. Di awal gue sempet ‘agak’ bosen. Terlalu bertele-tele. Ya walaupun adegan sensual tadi jadi penyemangat. Loh. Bukan itu maksudnya. Itu cuma bumbu-bumbu dari film ini. Toh yang nonton dan banyak diputer juga di luar negeri kan? Jadi ya gue paham sih.

Kalo boleh jujur, dengan banyak respon orang yang suka sama film ini, kok rasa-rasanya gue kurang puas ya. Padahal yang bikin gue semangat nonton adalah testimoni Goenawan Mohamad, yang bilang film ini menakjubkan. Tapi kok gue engga ya. Gue kecewa sama Mas Joko. Tapi jangan khawatir Mas, apalah gue yang hanya satu penonton yang tak puas dari sekian banyak yang memuji film karya Mas Joko.

Ending yang Mas ciptakan, membuat gue setidaknya harus tau kelanjutan dari kisah Sari. Bagaimana kelanjutan buramnya politik negeri ini yang Mas ingin perlihatkan.

Oya, dari pengambilan gambar di ACMM gue seakan merasa kalo penonton diajak untuk fokus ke tokoh Sari dan Alek. Coba lihat, gambar tokoh lain selain pemeran utama diambil hanya beberapa detik. Sekelebat. Ditambah kadang tidak fokus atau lighting. Kayaknya ingin menciptakan ruang gerak yang sempit untuk mengenal tokoh lain. Kecuali, Bude ibu kosan Alek.

Pesan  yang gue dapet dari film ACMM ini adalah potret betapa tidak adilnya hidup di Indonesia. Betapa tragisnya ketika rakyat melolong mendukung mati-matian tokoh yang ia pilih untuk memimpin agar bisa merubah nasibnya, ternyata ia lah yang merebut kebahagian rakyat bahkan yang turut andil dalam ‘nasib buruk’ yang menimpa rakyat tersebut. Ternyata ada banyak permainan politik di dalam negeri yang katanya menjunjung tinggi Demokrasi Pancasila.

Okey Mas Joko, gue tunggu bagaimana Mas Joko merepresentasikan politik di negeri ini dalam kelanjutan kisah Sari. Tapi maaf ya Mas, gue cuma bisa kasi 7/10 buat rating dari ACMM.

Ditunggu film selajutnya Mas Joko!