Thursday, June 6, 2019

Berkunjung ke Bima, Kota Eksotis di Pulau Sumbawa


Perjalanan Idenesia kali ini membawa saya ke Bima, sebuah kota kecil di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dari Jakarta, perjalanan ke Bima bisa ditempuh menggunakan pesawat terbang dalam waktu sekitar 5 jam, sudah termasuk waktu untuk transit di Bandara Ngurah Rai Bali.

Sesaat sebelum landing di Bandara M. Salahuddin Bima, sempatkan melihat ke jendela, karena kalian akan disuguhkan pemandangan menawan alam Bima. Ada gunung, bukit, sawah, pantai, lengkap semua.


Tidak jauh dari Bandara Salahuddin Bima, kalian bisa mampir ke Museum Asi Mbojo.


Museum ini dulunya adalah Istana Kesultanan Bima, yang dibangun tahun 1927 hingga 1929. Istana Kesultanan Bima ini beberapa kali mengalami perubahan fungsi, terutama setelah wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin.

Baru di tahun 1986 Bupati Bima yang menjabat saat itu, Umar Harun, mengusulkan agar istana digunakan sebagai museum. Di dalam museum terdapat baju adat Bima, baju yang digunakan Sultan Bima. Ada pula alat pertanian, keris, benda pustaka, dan foto bersejarah.






Yang menarik dalam museum ini adalah adanya kamar Bung Karno. Jadi diceritakan di tahun 1950, Bung Karno pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Bima dan menginap di Istana Kesultanan Bima.

Menurut cerita dari bapak yang jaga museum, Bung Karno sendiri dan Sultan M. Salahuddin memiliki kedekatan. Bahkan katanya dulu, Bima termasuk daerah yang hampir menyandang predikat daerah istimewa. Ya karena masalah politik dan lain hal, makanya ngga jadi.








Dengan berkeliling museum, kalian akan melihat bagaimana peradaban masyarakat di Bima. Lengkap dengan silsilah kesultanan Bima dari pertama sampai terakhir, termasuk pula bagaimana asal nama Bima itu sendiri. Jangan takut nanya sama yang jaga ya, si bapak akan dengan senang hati ngasi tau.

Satu lagi yang harus ditaati sebelum masuk museum, yaitu buka alas kaki. Karena museum ini dulunya adalah istana, pengunjung pun patut menjaga kebersihan dan kesucian tempat. Ada beberapa kali kejadian lah yang dialami turis karena masih bandel. Ada baiknya kita percaya.

Setelah museum, lokasi selanjutnya yang harus dikunjungi adalah Uma Lengge. Apa itu?


Nah, Uma Lengge ini dulunya adalah rumah tinggal masyarakat Bima. Namun seiring perkembangan jaman, Uma Lengge ini sekarang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi oleh masyarakat.



Uma sendiri artinya rumah, dan Lengge artinya mengurucut. Jadi bentuk Uma Lengge ini mengerucut dibagian atapnya. Bangunan Uma Lengge ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu lantai pertama (bagian bawah) untuk menerima tamu. Lantai kedua untuk tempat tidur dan dapur. Sedangkan di lantai tiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan.

Sangat perlu untuk diketahui. Uma Lengge yang sekarang berfunsgi sebagai lumbung padi ini melambangkan kecerdasan masyarakat Bima dalam mengelola sumber daya alam, loh. Misalnya padi disimpan jauh dari rumah, agar supaya seandainya rumah mereka terbakar atau terkena bencana, mereka masih bisa menyelamatkan padi sebagai bahan makanan. Selanjutnya dari struktur bangunan. Uma Lengge ini terbuat dari kayu, ada yang beratap alang-alang dan seng. Dibuat sedemikian rupa agar tikus ngga bisa masuk untuk mencuri padi.


Jika beruntung dan sedang ada banyak turis, ada satu tarian yang digunakan untuk menyambut tamu yaitu ‘Tari Wura Bongi Manca’. Penari akan menaburkan beras kuning kepada tamu yang datang sebagai wujud penghormatan dan kemakmuran. Wow!


Waktu itu, disini saya juga mendapat kesempatan untuk melihat proses pembuatan makanan tradisional Bima. Cuma ngga sempet nyobain langsung, karena sibuk grabag-grubug untuk shooting.



Setelah melakukan wisata budaya di Uma Lengge, mari kita melihat wisata alam yang menggoda, yaitu Pantai. Pantai yang saya kunjungi namanya Pantai Lariti. Pantai Lariti ini letaknya di selatan Kabupaten Bima, yaitu di Desa Soro. Kondisi pantai yang masih sepi, membuat kalian bisa sepuasnya menikmati panorama pantai.



Yang terkenal di Pantai Lariti ini adalah hamparan pasir yang membelah laut. Keren ngga tuh? Jadi ada pulau gitu ngga jauh dari pantai. Sayang banget pas saya kesana air lautnya lagi pasang. Jadi ngga bisa lari-lari lucu gitu sambil difoto.

Ohya, jarak dari Kota Bima ke pantai ini lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 1,5 jam sih kalo engga salah. Tapi kalian ngga bakal rugi sih. Karena selain pantai yang oke punya, perjalanan menuju pantai pemandangannya ngga kalah indah.




Satu lagi yang ngga bisa dilewatkan kalo ke Bima, beli oleh-oleh Tenun khas Bima. Lokasi yang saya kunjungi itu di Koperasi Nur Sakura, unit usaha milik ibu-ibu rumah tangga gitu. Jadi disini anggota koperasi adalah pengerajin tenun, yang nantinya hasil kain akan dijual. Ada banyak warna dan jenis tenun, cuma yang paling terkenal disini adalah motif zig-zag (bukan ziggi zagga) motif khas Bima.


Harganya terjangkau dan produknya ngga cuma kain doang. Dari kaos, tas sampe dompet juga ada.




Nah, yang unik itu justru si penenun. Ada beberapa penenun yang masih pake ‘rimpu’, kayak kerudung sarung gitu. Dulu sebelum ada jilbab, bu-ibu pakenya rimpu. Tapi karena udah ada hijab, mulai bergeser pemakaian rimpu ini. Tapi beberapa masih ada yang pake kok.



Kalo masih ada waktu, sempatkan melihat sunset yang indah di Pantai Kalaki. sunset disini indah banget.


Cuma sayang, masyarakat di Bima kurang peduli sama lingkungan. Masih banyak banget yang buang sampah sembarang, apalagi sampah plastik. Di beberapa pantai Bima juga udah kotor. Tidak elok.


Gue sendiri melihat langsung gimana warga buang sampat ke laut. Dengan tampang tidak berdosa, warung-warung dipinggir pantai itu buang sampah ke laut. Pas mau ambil hp buat foto, udah ilang tuh ibu-ibu. Sayang banget.

Karena waktu yang tidak banyak, gue ngga bisa mengunjungi tempat wisata Bima yang lain. Masih ada Gunung Tambora yang katanya butuh waktu sekitar 4 jam dari Kota Bima. Gunung Sanghyang, juga. Lain kali kalo ada waktu dan rejeki, pasti akan disinggahi.

Jadi posisi Kota Bima itu pas banget di teluk, di Pulau Sumbawa. Nah itu yang buat Kota Bima kayak dikelilingi pantai, kalian bisa liat gunung dari seberang pantai pula.

(sumber: google.com)

Semua di Bima indah, tak terkecuali langitnya. Super indah.


Sekian cerita gue kali ini, semoga membantu buat yang ingin melakukan perjalanan ke Bima. Yang gue sayangkan dari Bima ini adalah pengelolaan potensi wisata sih. Ada banyak yang bisa jadi tempat wisata, tapingga dimanfaatkan maksimal.  Tata ruang Kota Bima sendiri menurut gue tidak rapi. Mungkin saran ini bisa jadi bahan pertimbangan pemda setempat ya.

Jika kota Bima memiliki tata ruang yang baik, akses wisata yang memadai, dan bersih dari sampah platik, ya pasti akan ada banyak turis yang datang. Dan ini akan menguntungkan untuk masyarakat Bima pada umumnya.

Dah!

Tuesday, March 26, 2019

PERTAMA KALI KE BELITUNG, DAN LANGSUNG JATUH CINTA!


Sebuah keberuntungan gue dikasi kesempatan untuk liputan ke Belitung. Sama sekali belum pernah ke Negeri Laskar Pelangi. Gue berangkat waktu itu tanggal 18-21 Maret 2019 bareng kru yang lain tentunya.

Okay, sangat excited untuk ceritain perjalanan ke Belitung kali ini.


Akses ke Belitung bisa menggunakan pesawat dari Jakarta menuju Bandara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin di Tanjung Pandan. Jangan sampe salah ya. Gue yang kudet ini awalnya ngira Bangka Belitung itu jadi satu pulau. Ternyata gue salah. Bangka Belitung itu Provinsi, cuma beda pulau. Ada Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

 
(ngambil di google)

Nah, ibukota provinsi ada di Pulau Bangka, dengan nama Pangkalpinang. Di Pulau Belitung sendiri itu ada 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur (Kampungnya Pak Ahok).

Untuk biaya pesawatnya kalian bisa cek sendiri ya, karena gue dibiayain kantor, jadilah bebas mau apa aja. HAHA. Perjalanan ditempuh kurang lebih 50 menit. Sebentar banget, ngga kerasa baru juga tidur udah bangun lagi. Bandaranya kecil dan rata-rata pesawat kecil doang yang mendarat disini.


Untuk jalan-jalan disini, kalian bisa sewa mobil atau motor. Kalo sewa motor harganya mulai dari 50 ribu/hari. Nah kalo mobil bisa dari Rp 200 ribu/hari (tanpa driver) atau yang pake driver mulai dari 350 ribu/hari. Kalo tempat nginepnya sih bebas kalian bisa pilih di Belitung atau di Belitung Timur. Ya kalo di Belitung kalian bisa kemana-mana naik motor/mobil yang disewa. Perjalanan dari Belitung ke Belitung Timur sekitar 1jam. Saran gue sih mending nginepnya di Belitung karena posisinya di tengah-tengah. Baru lah terserah kalian mau kemana aja naik mobil atau motor.  Karena tempat wisatanya di berbagai lokasi, ada di Belitung dan Belitung Timur.

Btw tujuan gue kesini adalah kerja, dan liburan hanya bonus. Inget ya! Jadilah yang menjadi fokus utama adalah objek yang diangkat dalam program gue doang. Cuma bagusnya, program gue kan ngangkat soal budaya, jadi gue bisa cerita sedikit soal budaya yang kita angkat.

Alat Musik Tradisonal Gambus/Dambus.

Gue berkesempatan untuk mampir ke Rumah Bapak Kino, di Belitung Timur. Melihat proses penciptaan alat musik hingga Si Bapak juga seorang musisi yang ikut mainin alat musiknya. Dari yang gue riset, alat musik ini sudah lama berkembang di Kepulauan Bangka Belitung ini. Ngga jelas dari tahun berapa, tapi masyarakat sudah akrab banget dengan alat musik ini, terutama untuk mengiringi lagu-lagu melayu. Duh syahdu baget kalo didengerin.


Di sela-sela shoting, Mas Yovie Widianto bisik-bisik ke gue. ‘Prim, kasian deh ini cuma jadi musik lokal. Kalo misal dikombinasikan musik modern, atau paling engga ada tampilan yang beda dari show nya pasti lebih keren.’ Gue: ‘ya ajak lah kolaborasi mas’. Mas Yovie: ‘yang lain kemana? Bekraf kemana? Ini kan termasuk kreativitas juga.’ Gue: ashyiap. Berharap aja setelah episode ini tayang, ada yang melirik ya Pak Kino!

Permainan Tradisional Lesong Ketintong

Menarik, karena ngga di tiap daerah ada permainan tradisional. Jadi Lesong itu kayu besar yang dipukul. Ketintong itu katanya suara pukulannya itu, ting-tong ting-tong. Gitu lah. Haha. Yang main biasanya 4 orang (1 regu). Jadi minimal ada 3 tongkat kecil yang harus mereka lempar dan dipukul di lesong. Jadi pakek irama gitu lo, kalo salah-salah pala temen sebelah yang kena. Paling banyak ada sampe 8 tongkat dan mereka berpindah-pindah formasi. Ngerti kan kalean? HAHA. Serunya sih kalo dilombakan ya, karena bisa ngeliat kelompok mana yang paling kacau. Kalo kemaren gue liputan, cuma ada 1 kelompok. Jadilah kita hanya melihat sebuah atraksi bukan kompetisi. Gituh.


Tari Adat Rudat
Yang gue tangkep dari hasil wawancara, tarian ini awalnya berasal dari Kesultanan Pontianak gitu. Anak Sang Sultan suka sama yang namanya bela diri, jadilah gerakannya mengadopsi dari gerakan bela diri. Ditambah musik dan nuansa agamis. Mulai dari kidung-kidung dengan lantunan syair-syair agama hingga kostumnya juga.  Tari ini biasanya dipentaskan untuk hiburan sih. Biasanya syair yang dilantunkan kadang berisi pantun gitu.  Menyesuaikan akan diperuntukan untuk apa, gitu sih intinya.

(lupa foto kasyikan kerja. haha)

Kuliner Tradisional
Wow, Belitung kulinernya berkutat sama yang namanya Ikan. Gimana engga, hasil ikannya melipah. Secara spesifik sih gue lupa ya nama-nama masakannya. Yang jelas, selama disini gue pasti makannya ikan goreng, kuah kuning, ikan bakar. Cemilan segala macam ikan sampe jajanan tradisional ada embel-embel ikannya. Mantap jiwa!



Kalo tertarik makan kuliner khas Belitung ini, bisa ke Warung 1001 Kopi ya, letaknya di Belitung Timur. Sebenernya sih ada dibanyak tempat kalo makanan khas Belitung lengkap dengan jenis ikan apa aja, tapi untuk menu disini lengkap sih.

Kopi Belitung
Nah, jadi kemaren itu gue berkesempatan berkunjung ke kebon kopi milik Bang Ir (Bambang Irawan). Salah satu pengusaha asli Belitung. Sebenernya lahan ini bukan milik Bang Ir, tapi milik masyarakat disini. Cuma Bang Ir bantu untuk pembibitan biji kopi. Karena yang lucu di Belitung ini, khususnya Belitung Timur ya. Belitung Timur itu dijuluki sebagai Kota dengan 1001 Warung Kopi tapi ngga punya kebon kopi. Nah loh. Kopi-kopinya darimana? Ya dari Padang, dari Lampung, pokoknya daerah sekitar Belitung. Rugi dong. Makanya potensi ini dimanfaatkan untuk menanam biji kopi. Jadi warung-warung kopi yang ada di Belitung bisa di support oleh kekayaan Belitung itu sendiri.

Jenis kopinya itu Robusta, karena hasil kopi ada di lahan dengan ketinggian dibawah 500 mdpl. Orang sini sih bilangnya kopi pesisir ya. Kalo arabika, itu biasanya ketinggian tanaman kopinya diatas 1000 mdpl. Kayak Kopi Gayo Aceh. Arabika cenderung lebih mahal dari Robusta loh ya. Karena rasanya yang lebih pekat. Pokoknya kopi banget dah. Gue juga ngga paham-paham banget. Haha.

Setelah nyoba, kopi Belitung ini lebih halus rasanya. Lebih ringan gitu kali ya ngomongnya. Karena gue bukan pecinta kopi, rasanya pas di gue. Rasanya ngga strong dan enak kalo dicampur susu. Yang buat enak lagi adalah minumnya di tengah kebon kopi. Beuh. Sungguh sebuah kenikmatan yang haqiqi menyeruput kopi di alam bebas, ditemani pula dengan luwak.



Cukup ya cerita soal konten program gue. HAHA. Lebih jelasnya tonton IDEnesia di Metro TV setiap hari Minggu jam 21.30 WIB. Awas kalo engga!

Selain budaya, yang harus dibahas di Belitung tentu saja ngga lain ngga bukan adalah Pesona Wisata Alamnya. Beuh, gue baru pertama kali Belitung udah jatuh cinta cuy. Berkali-kali. Pantai dan bebatuannya itu loh, bikin takjub. Sungguh Tuhan itu Maha menciptakan keindahan yang paripurna. Ini gue kasi list beberapa tempat yang harus dikunjungi selama di Belitung ya. Sebenernya udah mainstream sih, tapi ya apa daya. Keindahannya ngga lekang oleh waktu gitu lo.

Museum Kata (Andrea Hirata) – Belitung Timur
Tau kan film legendaris ‘Laskar Pelangi’? Nah, setelah film itu tayang dan booming. Museum ini lahir dari dari gambar-gambar di scene film itu, sampe ke foto tokoh-tokoh hingga kutipan dialognya. Tempatnya intagramable banget sih.

Untuk masuk ke dalem museum harganya gue bilang lumayan mahal, yaitu Rp 50.000 rupiah. Tapi tenang, itu udah termasuk dapet buku karya Andrea Hirata. Gokil gak?







Replika Sekolah Laskar Pelangi – Belitung Timur
Sekolah Laskar Pelangi udah tertanam ya di mindset kita semuah. SD Muhammadyah yang letaknya di pesisir pantai. Disini Lintang dan kawan-kawan berjuang untuk mendapat pendidikan. Sekolah yang gue datengi ini ternyata cuma replikanya aja, karena yang asli sudah diperbaiki. Cuma ada 2 kelas, dengan dinding tripleks.

Gue lupa nanya untuk tiket masuknya bayar berapa, karena waktu itu diburu-buru shoting. HAHA. Wajib sih kesini kalo ingin mengenang Laskar Pelangi.


Vihara Dewi Kwam Im – Belitung Timur
Nah, vihara ini menjadi vihara terbesar dan tertua yang ada di Pulau Belitung. Katanya tiap hari rame didatangin pengunjung, mulai yang ingin beribadah atau wisata. Konon katanya umur vihara ini udah 266 tahun. Gokil!

Gue cuma sempet di Patung Dewi Kwam Im nya doang. Karena diburu-buru shooting dan udah sore juga. Dibagian bawah patunya gitu, ada viharanya bagus banget. Keliatan dari jalan pas lo mau masuk kawasan vihara.


Pantai Tanjung Kalayang - Belitung
Nah ini nih, sebuah pengalaman spektakuler dimulai. Jadi karena ada sisa waktu sore hari, gue dan tim memilih untuk berkelana ke beberapa pulau. Nyebrangnya dari Pantai Tanjung Kalayang. Untuk harga sewa perahu sekitar 400-500ribu/perahu (kapasitas perahu 10 orang maksimal). Kalo kapasitas 15 orang sekitar 750 ribu, dan lebih dari 20 orang sekitar 1juta rupiah. Itu biasanya belum termasuk penyewaan jaket pelampung, kaca mata renang atau sepatu katak. Yaa.. harganya sekitar 20 ribuan. Untuk perahu kemaren, gue dibantuin sama driver selama liputan di Belitung.

Nah untuk kalian yang mau nyebrang juga, mungkin bisa cek google cari travel di Belitung atau buka website ini ya www.travellova.co.id dan bisa tanya-tanya via wa ke 08117175127. Dan kalo tetep kurang jelas, bisa dm gue di twitter/ig ya.

Pas nyebrang ke Pulau ombaknya lumayan, jadilah kita udah kuyup duluan kena hempasan air laut sebelum sampe di lokasi. Perjalanan sekitar 30 menit menuju Pulau Lengkuas. Pantainya masih bersih banget dan batu nan eksotik. Gue jalan itu udah termasuk sore ya, sekitar jam 14.30 baru nyebrang. Saran gue sih kalian harus sampe Pantai Tanjung Kalayang paling lambat jam 13.00. Agar bisa eksplor lebih banyak dan lebih lama. Kalo gue kan diburu-buru karena takut kesorean kan. Begitulah nasib baru bisa jalan beres liputan. Haha.

Kalian akan menemukan mercusuar menjulang tinggi. Indah banget sih. Udara dan pantainya duh sukak!


(yang di foto namanya Batu Burung Garuda)

(Pantai di Pulau Lengkuas)

Ngga bisa lama-lama, kita lalu menuju lokasi snorkeling. Meski ngga terlalu dalam tapi alam bawah lautnya lumayan indah. Ada banyak ikan. Gelombang airnya cukup tinggi, jadi kita terombang-ambing mau berenang juga susah. HAHA.

Yang menarik adalah ketika Mas-mas yang bawa perahu ikut snorkeling dan mungutin sampah plastik yang nyangkut di karang-karang. Gue terharu! Hey buat kalian, tolong jangan buang sampah di laut ya. Tolong jaga keindahan laut, itu salah satu kekayaan yang kita punya. Plis atulah ya.

(tangannya basyah ngga bisa foto)

Dari lokasi snorkeling ke tempat yang ada gundukan pasir di tengah laut. Lucu deh, ada gundukan yang ngga luas. Tapi keren buat foto-foto. Haha.


Lokasi selanjutnya adalah Pulau Kalayang, Desa Keciput. Disini ada goa gitu, yang terbuat dari proses alami tumpukan batu-batu. Gue tuh ya, kalo punya waktu panjang cuma ingin memandang hamparan laut dan menikmati udara di pantai ini. Sometimes lo cuma ingin menikmati aja gitu, ngga harus foto-foto. Biarkan ingatan yang merekam semuah. Caelah. Pas banget gue disini sekitar jam 5, jadi sekalian menikmati sunset. Uh, nikmat mana lagi yang kau dustakan.



Karena udah terlalu sore, ada baiknya wisata lautnya udahan aja. Sudah hampir gelap bung. Takut juga di tengah laut gelap-gelapan. Lumayan ya sore yang singkat tapi lekat.

Pantai Tanjung Tinggi (Pantai Laskar Pelangi) – Belitung
Nah ini, sengaja gue menyempatkan diri agar supaya bisa mampir ke Pantai Laskar Pelangi. Karena penerbangan kita siang, jam 12. Maka kami cus ke pantai pagi-pagi jam 7. Dan guys, lagi-lagi gue takjub. Indah banget pemandangannya disini. Hamparan batu dan pantai. Ku tak bisa berkata-kata. Kalian liat fotonya aja. HAHA.







Btw, masuk ke pantai ini ngga bayar tiket masuk loh. Bahkan parkir pun gue engga bayar. Cuma di lokasi shooting film laskar pelangi ada kotak donasi gitu sih. Ada baiknya kita naruh seikhlasnya ya. Gue juga ketemu bapak-bapak yang bersihin pantai ini. Namanya Pak Ridwan. Bahkan dia bisa juga jadi pengarah gaya saat ada yang foto session. Semangat ya pak menjaga pantai agar tetap bersih!


Kopi Kong Djie
Main-main ke Belitung jangan lupa mampir kesini ya. Ini warung kopi khasnya masyarakat Belitung. Yang punya baik banget, karena kita pernah liputan kesana dulu gitu. Jadi kalo ada anak kantor yang main kesana dikasin gratis dong. Baik deh bapak. Haha.

Yang favorit sih kopi, cuma kalo ngga suka kopi, coklatnya ngga kalah enak. Bahkan temen gue berencana beli bubuk coklatnya dibawa ke Jakarta. HAHA.


Sekian ya cerita di Belitung. Oya, yang perlu kalian ketahui adalah di Belitung itu ngga ada namanya Indomaret/Alfamart. Adanya warung lokal. Haha. Mall pun engga ada dong. Bener-bener keren sih. Cuma yang gue sayangkan ngga ada bioskop. Pas gue tanya ke mas-masnya katanya ngga buka bioskop takut ada yang pacaran dalem bioskop. Gitu masa.

Ini sih opini gue ya, jangan melihat sesuatu dari buruknya aja gitu. Sayang aja kalo masyarkat yang mau nonton harus jauh-jauh keluar kota bahkan keluar pulau.  Film kan ngga cuma soal sama siapa kita nonton, tapi value dari film itu sendiri yang lebih penting sih kalo gue. Misalnya aja Film Laskar Pelangi, sayang dong film ini ngga bisa diputer resmi bahkan didaerahnya sendiri. Ya mungkin masing-masing daerah punya pertimbangan membuat aturannya ya. Tapi tetep aja gue ngga habis pikir. Hehe.

Semoga kalo opini gue ini dibaca, bapak pemda setempat mempertimbangkan ini. Agar supaya anak-anak disana bisa berkembang gitu, bahwa dalam sebuah tayangan film ada banyak pesan yang bisa diambil. Toh kalo yang emang punya niat pacaran, dimana pun mereka bisa.


Baiklah, semoga tulisan ini bermanfaat ya. Tapi seriously, kalian harus Belitung. Harus banget!