Thursday, November 19, 2015

Pengajaran Etika Regulasi Bukan Cuma Soal Nilai dan Absensi

Semalem, sebelum pulang kantor, mentor gue ngasi tau kalo besok (hari ini) akan dilaksanakan 'kuliah umum' buat karyawan training mengenai 'Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS)' oleh Wina Armada Sukardi. Untuk itu, pagi-pagi buta gue baca materi yang udah dikasi tadi malem. Alasannya, biar kita (anak training) ngga cengok pas di 'kuliahin'.

Setelah beres baca materi dari kantor, gue iseng buka folder 'kuliah' trus buka lagi folder yang gue namain 'etika regulasi'. Etika regulasi adalah mata kuliah gue di semester 5. Materi demi materi gue baca, dan ternyata emang ngga jauh-jauh dari situ soal Kode Etika dan P3 SPS. Yang menarik, gue nemuin sebuah tugas menulis opini atau essay gitu oleh dosen gue dulu.

Membaca tulisan gue yang udah lama ngga terjamah, gue jadi inget dengan 'ketidakpuasan' dengan dosen yang ngajarin matakuliah Etika Regulasi waktu itu. Maaf karena mengatakan ini. Menurut gue, dosen lebih mementingkan absensi dan nilai ketimbang pemahaman mahasiswa tentang materi yang dibawakan. Eh sebentar. Yang dibawakan? Bahkan untuk masuk kelas pun dosen ini jarang. Gue sempet menjadi bulan-bulan dosen ini, hanya karena beberapa kali mengeluarkan pendapat saat jam kuliah berlangsung. Termasuk pada insiden pulpen merah.

Teman-teman sekelas gue pasti ketawa kalo denger ini. Jadi gue sempet dimarah hanya karena, pulpen yang gue pake buat absen adalah spidol merah. Gue dibilang, mahasiswa tak ber'etika'. Ya, gue salah. Mungkin mahasisiwa seperti 'saya' ini sangat butuh bimbingan dari dosen macam anda. 

Bapak Dosen yang saya hormati, ini tulisan yang dulu pernah saya buat saat tugas bapak yang mungkin luput bapak baca. Dan langsung memberi saya nilai atas sikap saya terhadap bapak. Terimaksih telah meluluskan saya pada kuliah bapak.

Sekarang ijinkan saya memposting tulisan ini di blog saya, karena saya takut mahasiswa-mahasiswa lain, khsususnya mahasiswa Broadcasting menjadi korban para pengajar yang hanya menganggap bahwa mendidik adalah masalah bisnis. Terimakasih.



Pengajaran Etika Regulasi Bukan Cuma Soal Nilai dan Absensi

Oleh: Ni Wayan Primayanti


Etika Regulasi Penyiaran adalah aturan mengenai benar atau salah, baik atau buruk serta tanggung jawab sebuah konten media dalam fungsinya menyebarluaskan informasi, mendidik serta menghibur khalayak. Sebenarnya, jika membicarakan etika tidak ada ukuran yang pasti mengenai penilaian terhadap sebuah etika. Hanya saja, di suatu tempat orang-orang menyamakan persepsi pelanggaran etika berdasarkan budaya, adat dan norma yang berlaku di daerah tersebut.
Etika dalam Kamus Besar Bahasaa Indonesia diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban. Sedangkan menurut K. Bertens, etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Sedangkan Penyiaran menurut Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerimaan siaran.
Dan Lembaga Penyiaran dalam pengertian yang berbeda menurut UU Nomor 32 Tahun 2002 adalah media komunikasi massa yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi, memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol dan perekat sosial.
Konten siaran yang termasuk dalam Etika Regulasi Penyiaran ini adalah program siaran baik isi, kemasan maupun penayangannya. Di Indonesia sendiri, isi atau konten program siaran banyak macamnya. Misalnya siaran berita, hiburan atau lawak, acara anak-anak, olahraga, film, dan masih banyak lagi. Sedangkan kemasan, adalah bagaimana suatu tim kreatif yang bertidak dalam menciptakan konsep program memperlihatkan atau mengemas sebuah program siaran. Misalnya saja, acara berita yang sering kita saksikan di TV One terlihat sangat serius apabila kita bandingkan dengan NET TV justru santai. Lembaga penyiaran sendirilah yang menetapkan konsep keseluruhan dalam program siarannya.
Berbicara mengenai penayangan, di Indonesia sendiri waktu penyiaran sebuah program telah di bagi berdasarkan segmentasinya. Misalkan anak-anak di plotkan jam satu siang atau tayangan untuk orang dewasa ditayangkan lebih dari pukul 10 malam. Penayangan yang sudah tersusun ini tidak akan mampu membatasi khalayak yang menonton tayangan tersebut. Bisa saja seorang anak kecil belum tidur hingga pukul 11 malam dan menonton apa yang seharusnya tidak ia tonton.
Kembali lagi soal etika regulasi, untuk menjaga aturan yang diperuntukan bagi lembaga penyiaran adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). KPI menurut UU Nomer 32 Tahun 2002 adalah lembaga negara yang bersifat independen yang ada di pusat dan di daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam Undang-undang ini sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran. KPI biasanya menerima aduan dari masyarakat mengenai pelanggaran sebuah program siaran. Dan nantinya, keputusan ada di tangan KPI apakah program bersangkutan diberi peringatan, teguran bahkan menonaktifkan penanyangannya.
Tugas KPI ini sangat membutuhkan bantuan dari masyarakat secara luas, karena KPI tidak bisa selalu melihat pelanggaran yang terjadi di sebuah media. Masyarakatlah sebagai khalayak disini harus berperan aktif untuk membentengi diri dan melaporkan apabila ada tayangan yang tidak berkualitas, menyalahi aturan sehingga tidak layak menjadi tontonan. Sehingga dalam program kerja KPI, dengan sukarela KPI siap datang ke perguruan tinggi atau daerah-daerah yang membutuhkan informasi mengenai kelayakan sebuah program siaran. Sekali lagi disini ditekankan, masyarakat tidak harus menjadi bahan pembodohan media Indonesia yang menayangkan tayangan tidak berkualitas.
Tidak berhenti disitu. Tugas KPI kini dimudahkan dengan dosen yang tentunya mengajar mata kuliah Etika Regulasi Penyiaran di tiap kampus untuk jurusan Broadcasting. Setidaknya, mahasiswa yang nantinya direncanakan akan bekerja di media ini tahu dan paham mengenai kode etik, aturan atau larangan mengenai standar sebuah program siaran. Sasaran tersebut akan tercapai, apabila sistem pengajaran dan pengenalan mengenai etika regulasi ini dilakukan dengan benar.
Ukuran benarnya? Ya, gampang saja. Pengajar Etika Regulasi tidak hanya berbicara soal teori semata, karena pada kenyataannya media di Indonesia terlalu ‘kebal’ dari aturan yang telah disepakati dan dibuat. Ditambah campur tangan pemilik modal media yang secara keseluruhan mempengaruhi isi konten berita yang ditayangkan. Pengajaran juga seharusnya me-review satu persatu kesalahan apa saja yang telah membudaya pada media kita. Jangan sampai seorang pengajar Etika Regulasi yang notabene adalah seorang praktisi media justru tidak tahu batasan larangan sebuah media. Akibatnya, tentu ada pada mahasiswanya yang tetap berjalan ke arah yang salah dan tidak menerima pemahaman yang jelas mengenai Etika Regulasi itu sendiri. Jika kasusnya seperti ini gimana kesalahan pada media ini akan berubah?
Peraturan mengenai Sistem Regulasi Penyiaran di Indonesia kini begitu banyak dibanding diawal kemunculan media-media di Indonesia. Mahasiswa seharusnya tidak hanya dipastikan untuk tahu Undang-undang apa saja yang terkait dengan penyiaran tetapi juga harus bisa mengkaji atau menganalisis perbedaan di tiap peraturannya. Ada aturan yang sekian banyak tapi tidak tahu digunakan untuk apa ya percuma. Pantas saja masih banyak pelanggaran yang terjadi. Termasuk juga pengajar harus tahu kemampuan mahasiswanya. Tidak semua mahasiswa memiliki pengetahuan yang sama akan aturan-aturan Etika Regulasi. Jika hanya mendengar presentasi dari seorang teman di kelas dan membaca sendiri di pedoman yang telah diberikan, mungkin saja mereka memiliki persepsi yang berbeda akan suatu hal yang sama. Ini bisa saja terjadi ditambah pengajar yang tidak mau tahu sebatas apa yang mahasiswanya ketahui.
Terakhir, sebagai pengajar apalagi mengenai Etika Regulasi mahasiswa butuh penghargaan secara personal. Mahasiswa tak hanya butuh nilai tinggi dari hapalan begitu banyak pasal dalam Undang-undang untuk mencapai kelulusan maksimal, atau absensi kehadiran di tiap semester tapi mahasiswa butuh dihargai atas ide, inovasi dan apa yang mereka hasilkan. Beri mereka sebuah kasus dan biarkan mereka melakukan koreksi atas apa yang menurut mereka ada pelanggaran yang dilakukan. Bukankah para Mahasiswa Broadcasting inilah yang nantinya juga akan terjun ke dalam media dan menciptakan program-program yang bermutu.
Etika bukan saja mengenai teori tertulis mengenai pengertian etika, pembagian atau dasar filsafatnya. Melainkan apa yang pengajar perlihatkan kepada mahasiswanya, akan menjadi penilaian mengenai etika tersendiri menurut mereka. Termasuk pada sebuah media. Apabila mahasiswanya sendiri tidak diberi ruang mengkoreksi kesalahan yang diwariskan media kini, apa yang bisa ia perbaiki di masa depan.

Monday, November 16, 2015

Playboy Takut Istri

Setelah tersedu-sedu nonton Timeline, kali ini gue nonton film Thailand yang absurdnya tingkat dewa. Emang kenapa sih?!

Ada yang pernah nonton Lulla Man?

Gue merasa sangat tertinggal karena baru tau film ini di akhir tahun 2015, padahal Lulla Man sendiri udah rilis di Thailand, 9 desember 2010. Gila, udah lama banget man! Tak apalah. Mungkin masih banyak yang belum nonton bahkan ngga tau sama sekali tentang film ini. Seenggak, gue ngga merasa sia-sia menulis review yang sangat terlambat ini.

Menurut hasil riset gue, Lulla Man itu di sutradarai oleh Tunya Potiwijit. Dan dibintangi oleh Shakrit Yamnam, Jeab Chern-Yim, Passorn Bunyakiet, Petchtai Wongkamlao (Mum Jokmok), Ussanee Wattana. Yang gue tau pemeran Tan itu Shakrit Yamnam, sisanya gue ngga tau dia siapa dan perannya jadi apa. Walaupun ini film lama, tapi susah juga cari info lengkap filmnya. Film ini bergenre komedi, makanya aktor dan aktrisnya pada koplak semua.

Ceritanya itu tentang 3 sahabat, Tan, Joon sama Tu yang masing-masing udah beristri dan mereka bertiga tinggal satu rumah. Walaupun udah menikah, 3 cowok ini masih suka main wanita alias playboy. Tan berprofesi sebagai photographer, yang jelas pekerjaannya itu banyak sama wanita-wanita cantik. Ngga beda jauh sama Joon, sebagai musisi  Joon sering manggung di café-café dan penampilannya ditunggu-tunggu wanita. Nah kalo Tu gue ngga tau kerjaannya apa. Yang jelas, dimana ada Joon atau Tan, pasti ada Tu.

Bahkan suatu ketika, karena mabuk Joon pernah kencan sama waria. Doi baru tau pagi pas baru bangun, kaget yang diajak tidur ternyata cowok juga. Ngeri amat. Pas Joon keluar kamar, udah banyak waria yang ngantri biar bisa tidur bareng sama Joon. Ngga sampe disitu, bahkan satu komplek rumah susun itu isinya waria semua, yang kesemuanya pengen kencan sama Joon. Koplak banget. Tapi ngeri juga dikepung banci. Saking kompaknya, mereka bertiga juga pernah mengencani satu cewek yang sama.

Istri-istri ketiga sahabat ini udah tau banget sifat suami mereka, dan setiap pulang telat mereka bertiga selalu berjaga di depan rumah nungguin. Lebay sih, mereka sampe bawa pisau atau barang-barang dapur gitu. Buat mukulin suaminya kalo ketauan selingkuh. Gue liat sih, istri Tan yang paling cantik. Tan juga ganteng. Kalo istri Joon karakternya agak tua, beda sama istri Tu yang sangat kekanak-kanakan.

Anehnya, setiap ketauan selingkuh, Joon, Tan dan Tu selalu bisa ngeles dan cari alasan. Padahal udah jelas-jelas bukti di depan mata. Ini yang buat gue gregetan kalo nonton. Masa cewek di bego-begoin. Tapi sesekali, pas mereka mergokin si suami  selingkuh, mereka pake kekerasan fisik buat ngasi pelajaran suami. Kayak mukul atau apalah.

Dari awal sampe akhir, film ini sih nyeritain gimana bandelnya suami-suami ini selingkuh dari istrinya. Puncak cerita itu pas si Tan akhirnya bener-bener suka sama cewek cantik yang namanya Suzie. Suzie itu modelnya Tan. Sampe suatu ketika, Tan rela dateng nyelametin Suzie padahal dia lagi dalam situasi baikan sama istrinya karena ulahnya kemaren-kemaren. Singkat cerita, Tan, Joon sama Tu disandera sama suami Suzie karena Tan ketauan selingkuh sama Suzie.

Dan jeng..jeng… datenglah istri-istri ketiga sahabat itu buat nyelametin mereka. Para istri rela disuruh apapun demi nyelametin suami-suami mereka. Agak terharu sih sedikit. Dan para suami akhirnya sadar, kalo sebenernya yang mereka lakukan selama ini menyia-nyiakan istri demi kesenangan sesaat itu salah. Suzie bebas, namun Tan harus menerima pil pahit, istri Tan milih pisah karena sudah sangat sakit hati. Duh aduh.

Tapi tenang, di akhir mereka rujuk lagi kok.







Lulla Man sendiri berasal dari nama Café tempat mereka nongkrong. Dimana di café itu isinya cowok-cowok nakal semua. Dan di akhir, mereka berkeinginan untuk buat café yang isinya pencinta istri. Dan ide itu gagal, beberapa detik setelah diucapkan. Yang namanya playboy emang ngga bisa diubah. Kalo kata mentor gue, nafsu emang harusnya disalurkan bukan ditahan.

Dari keseluruhan film, beberapa kali gue ngerasa komedi yang mereka bawain terlalu berlebihan. Ya, walaupun di beberapa ada yang lucu banget. Ceritanya juga agak ngga masuk akal menurut gue. Misalnya aja, masa Joon harus mukul kepalanya pake botol biar keliatan sakit dan bisa mengelabui istrinya kalo dia habis mabuk bukan nginep di rumah selingkuhannya. Banyak lagi lah pokoknya. Kalo dari gambar, cukup bagus. Mata lo akan dimanjain sama yang namanya cewek cantik berbaju seksi. Film ini sangat mengeksplor keindahan tubuh wanita. Gue agak miris tentang itu.

Overall, film ini sangat ringan dan lo dengan gampang bisa mengerti isi ceritanya. Pesan yang bisa ambil dari film ini, terutama buat kaum lelaki yang tak pernah puas, jangan pernah meremehkan bahkan menyakiti orang yang sayang sama lo. Karena seberapa pun kejamnya dunia, mereka akan selalu ada di dekat lo. Cakep.


Kalo rating dari gue buat film ini, 6/10.



Sunday, October 11, 2015

IamKapong

Hai.
Sorry nih, sorry banget beberapa bulan terakhir ini gue ngga pernah ngepost tulisan dikarenakan sibuk mengejar sarjana. Setelah sidang dan akhirnya ada gelar S.I.Kom di belakang nama, gue malah sibuk nyari kerjaan. Ya gimana, biar pas wisuda nanti seenggaknya ada kebanggan, belum wisuda udah dapet kerja. Tapi, realitanya beda. Nyari kerjaan ternyata lebih sulit dan melelahkan dibanding ketemu dosen pembimbing buat revisi skripsi. Pusing pala barbie. Okay, semua butuh pengorbanan dan kerja keras. Hwaiting!

Kali ini gue mau review film Thailand yang gue copy dari laptop temen gue. Kata doi filmnya bagus dan menyentuh. Rata-rata film Thailand ya, emang kayak gitu. Jangankan film, iklannya aja bikin mewek.

Film Thailand yang gue tonton ini judulnya, Timeline. Sebernarnya film ini udah di produksi tahun 2013 lalu, dan tayang di bioskop Thailand 13 Februari 2014. Dan ternyata sempet tayang juga di Indonesia bulan Mei 2014. Kemana aja gue ngga atau apa-apa. Hahha. Film ini bagus ditonton buat elo yang baru tamat SMA dan sedang mencari kuliah. Kenapa? Karena, nanti gue ceritain.Hahha. Cocok juga buat elo yang jauh dari orang tua. Atau juga, buat elo yang mencintai seseorang tapi dia mencintai orang lain. Elaah, baper baper.

Nonzee Nimibutr, yang jadi sutradara film sebelumnya menyutradai film horor terkenal di Thailand, Nang Nak. Timeline dibintangi aktor ganteng  Thailand, Jirayu Tangrisuk (Tan) atau dikenal namanya James, Jarinporn Joonkiat (June), dan Piyathida Woramusik (Mat).

Timeline dimulai dari kisah Mat yang hidup bahagia bersama suaminya di sebuah desa terpencil. Namun sebelum Mat melahirkan Tan, suaminya meninggal dunia. Sehingga Mat-lah yang membesarkan Tan seorang diri dengan meneruskan pekerjaan sang suami yaitu bertani. Di dalam rumah yang sederhana Tan tumbuh menjadi anak penurut dan sayang kepada ibunya. Konflik muncul ketika Tan memilih untuk meneruskan kuliahnya di Universitas Bangkok dengan memilih jurusan jurnalistik bukan pertanian, sesuai keinginan sang ibu. Awalnya Mat melarang Tan untuk kuliah di Bangkok, karena tidak ingin hidup jauh dari Tan dan ketakutan terbesar Mat kalo Tan terpengaruh pergaulan bebes di Bangkok. Tapi Mat mengerti, ia tidak bisa melarang anak laki-lakinya untuk terus berada di rumah. Karena seorang laki-laki haruslah mengenal kehidupan yang lebih luas.

Diceritakan kemudian, Tan telah sampai di Bangkok. Ia tinggal bersama seorang teman di sebuah rumah. Tan begitu heran melihat kehidupan yang sangat berbeda antara di desa tempat ia tinggal dengan Bangkok. Saat menyantap makanan di sebuah restaurant, ia melihat banyak orang terutama para gadis memotret makanan lalu mem-posting di media sosial. Ya, sama aja kayak di Indonesia. Sepertinya di semua belahan dunia, orang-orang sedang kecanduan virus narsisme.

Sehari sebelum masa orientasi mahasiswa baru dimulai, teman Tan mengajak Tan mengunjungi salah satu klub malam di Thailand. Singkat cerita, Tan akhirnya mabuk karena dipaksa minum alkohol dan alhasil ia terlambat datang ospek.

Perasaan gue doang atau gimana, tapi yang gue liat, Tan makin ganteng dengan baju putih agak ketat dan celana item. Uwo banget pokoknya. Hhhaha. Ternyata yang telat dateng ospek bukan cuma Tan, ada juga mahasiswi yang namanya June. Mereka berdua sama-sama naik sepeda ke kampus. Karena terlambat, tangan June dan Tan diiket dan wajah mereka digambar oleh senior. Lucu banget. Ngga jauh beda antara ospek di Thailand dan Indonesia. Sama-sama ada bullying menurut gue. Sama-sama dikerjain senior dan dikasi hukuman yang ngga ada hubungannya dengan jurusan yang mereka ambil. Sebenernya siapa sih yang menciptakan ospek macam itu. Huh.

Hingga akhirnya, ospek di hari itu mau berakhir. Mahasiswa baru, baru bisa pulang kalo salah satu dari mereka yang mau nari di depan senior dan temen-temen mereka. June akhirnya angkat tangan, yang masih terikat dengan tangan Tan. Alih-alih ingin cepat pulang, June tidak memerdulikan Tan yang protes karena tidak bisa menari sama sekali. Keduanya lalu menari di depan senior yang diikuti mahasiswa baru yang lain. Dan mereka diperbolehkan pulang. Inilah awal mula kedekatan June dengan Tan.

Di hari-hari berikutnya, ternyata video dance Tan dan June saat ospek tersebar, yang membuat Tan kesal. June ngga menindahkan itu, dan memilih merayakan perkenalan mereka sebagai teman di klub malam. Tan juga akhirnya ikut. Di klub Tan memaksakan minum beralkohol, yang membuatnya muntah berkali-kali. June melihat anjing yang ekornya diikat dengan tali dan kaleng. June iba, namun teman-temannya malah ingin merekam anjing itu. Kemudian datanglah Tan yang langsung melepas ikatan di ekor anjing. June tersenyum. Disinilah muncul cinta June kepada Tan.

June merubah penampilannya agar dilihat oleh Tan. Kalo gue jadi cowo sih, June tipe gadis ideal bertubuh mugil. Cute lah. Tapi kayaknya Tan ngga bisa melihat kencatikan yang terpancar dalam diri June, elaah. Cowo mah gitu. June ngajak tan nonton film karya senior, yang Tan ngga ngerti sama sekali. Setelah nonton film itu berdua, June dan Tan bertemu Kak Orn yang menjadi sutradara film. Kak Orn adalah senior mereka. Dan jeng..jeng, Tan jatuh hati pada Kak Orn, yang usia 4 tahun lebih tua dari dirinya. Semenjak saat itu, Tan memutuskan untuk ikut klub film biar bisa deket dengan Kak Orn. Sejenis modus gitu. Tan juga maksa June buat ikut, biar ada temen. Soalnya si June kenal baik dengan Kak Orn. Mulailah konflik cinta segitiga disini. Oya, anjing yang mereka temuin di klub malem itu, mereka namain Kapong. Kapong itu artinya kaleng. Soalnya pas ditemuin, si anjing keiket sama kaleng. Aneh banget tu nama. hahha

Si June ngasi syarat ke Tan, dia mau ikut klub film asal Tan menemin June ke sebuah pulau dan jalan-jalan di sana. Di pulau itu mereka naik sepeda berdua, ke pantai bareng, lucu banget pokoknya. Sampe akhirnya mereka ketinggalan kapal, dan harus nginep di pantai. June kayaknya udah jatuh cinta beneran sama Tan. Gue juga. Abis ganteng sih.

Biar ngga terlalu panjang, gue ceritain intinya aja. Ibu Tan kewalahan ngebiayain kuliah Tan di Bangkok, sampe-sampe berencana jual tanah mereka tapi ngga jadi. Doi akhirnya jualan selai arbei hasil dari pertanian. Sedangkan Tan, Tan makin deket sama Kak Orn yang buat June makin cemburu. Bahkan June sempet buat sayur gitu buat Tan, tapi Tan malah milih makan sama Kak Orn. Sakit banget. Sampe akhirnya June memilih buat ngambil beasiswa di Jepang atas rekomendasi dosennya. Semenjak itu dia ngga ngehubingin si Tan lagi. Tan pun akhirnya sadar kalo, Kak Orn ngga suka sama dia. Tan cuma dianggep kacung yang bantuin Orn pas syuting. Naas lah pokoknya. Mulailah si Tan bingung nyariin June.

Tan akhirnya nanya sama orang tua June, alamat dia di Jepang biar bisa kirim surat. Pas baca surat dari Tan, June lagi jalan-jalan di Jepang. Doi lagi nyari gambar bintang yang ada di lukisan pas mereka berdua ke museum. Gambarnya itu, bawahnya laut dan atasnya bintang. Indah banget. Gue ngga tau sih itu nyata atau engga. Saking indah sampe ngga terlihat itu buah karya Tuhan apa manusia. Hahha. Pokoknya pas dia udah nyampe di sana, dia hubungin Tan buat ngasi tau. Dan mereka janji kalo uda ketemu nanti bakal cerita banyak. Tapi sayang, abis liat bintang, June liat seorang anak jatuh dari kapal. Tanpa basa-basi, June nyebur di laut buat nolongin anak itu. Naas, anak itu selamat tapi June enggak. Gue heran sama film Thailand, beberapa kali mereka membiarkan pemeran utama berakhir gitu aja sebelum film selesai. Awalnya gue kecewa sih, endingnya pasti sad ending gitu. Tapi ternyata… kita lanjut dulu.
Semua orang sedih denger berita meninggalnya June, apalagi Tan. Pas malam hari, Tan buka facebook-nya, trus liat friend request ada yang namanya IamKapong. IamKapong adalah fb yang dibuat June biar doi bisa ngungkapin perasaannya buat Tan. Di akun IamKapong itu, ngambarin secara jelas gimana perjuangan June buat Tan. June rela belajar masak tapi masakannya ngga dimakan sama Tan. June yang beliin kado pensil gambar buat Tan, karena June tau kalo Tan suka banget gambar. Tapi Tan taunya itu dari Kak Orn, soalnya Kak Orn yang minta tolong June yang beliin kado buat Tan. June yang beli sepeda tua Tan, soalnya Tan udah ngga suka sama sepeda itu. Kata June, kalo Tan kangen sepeda itu ngga usah bingung nyari, nyari ‘aku’ aja kata June. Sampe akhirnya June ngrekam video, yang dia bilang kalo sebenernya dia suka sama Tan, dia ngga bisa berbuat apa-apa kalo Tan ternyata suka sama Kak Orn, yang dimana dua orang itu penting banget dalam hidup June. BarulahTan nyadar. Begitulah kira-kira ceritanya.

Di akhir si Tan ngikutin apa yang dibilang June, kalo Tan harus melakukan apa yang dia suka bukan yang orang lain suka. Trus Tan juga ngunjungin tempat-tempat yang jadi impian June buat dikunjungi. Tragis sih, merelakan pemeran utama yang lucunya kayak June ilang di tengah-tengah cerita. Gue kayak ngerasa, ternyata ending yang baik itu ngga melulu semua orang harus merasa bahagia. Cukup gimana kita bisa ngerasain kebahagian diantara banyak masalah-masalah hidup. Gitulah pokoknya. Hahhha

Menurut gue sih film ini terlalu pelan alurnya di awal, gue sempet ngerasa bosen. Terlalu lambat. Tapi pas pertengahan sampe akhir, justru gue ngga mau ngelewatin satu adegan pun. Apalagi pas usaha June buat menarik perhatian Tan. Durasi film juga dua jam, cukup lama. Tapi itu semua ngga berasa kalo liat aktingnya June, yang menurut gue Jarinporn Joonkiat sangat berhasil memerankan seorang gadis enerjik dan lucu. Disini juga ngga ada begitu banyak peran, sehingga cerita emang terpusat di tiga orang tadi. Kak Orn yang gue kira bakal banyak ngambil porsi cerita ternyata engga.

Kalo gue boleh bilang sih, timeline recommended lah untuk di tonton. Ceritanya deket banget sama kita, apalagi gue, anak dari daerah yang pengen kuliah di kota besar. Ditambah bagaimana perjuangan orang tua yang nguliahin anaknya. Yang ngga kita tau, dan kita cuma bisa minta uang bulanan. Gimana orang tua nutupin lelah biar ngga keliatan di depan anaknya. Gimana rindunya dan khawatirnya orang tua pas kita ngga pernah ngubungin mereka. Ditambah cerita June, yang suka sama sahabat sendiri, tapi dia malah suka sama orang lain. Hidup memang selucu itu. Semasih lo bisa menertawakan hidup, tertawakanlah.

Oya, ini gue kutip surat Tan yang dikirim buat June. Menyentuh.


June..

Kau pernah suruh aku gambar kartun
Ingin tahu dirimu seperti apa
Ini wajahmu dalam hatiku
Bikin kangen

Tan


Setelah nonton film ini gue langsung ngubungin sahabat gue buat ngucapin ‘makasi’, takut-takut terlambat. Hahha. Kalo lo nonton film ini harus sediain tisu. Gue aja yang jarang banget nonton film sampe nangis, terpaksa menyerah dan meneteskan air mata. Hah. Rating dari gue sih 8/10 buat Timeline.Yeeay!