Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, December 19, 2015

Nayla




Keisengan setelah beribadah mampir ke Gramedia, berbuah gue akhirnya beli beberapa buku diskonan yang harga cukup murah. Buku lama sih, cuman lumayan dapet 10.000, kan lagi kan. Buku yang gue beli itu ada 3 macam, tapi salah satu bukunya, buku mbak Djenar Maesa Ayu yang judulnya, ‘T(w)ITIT!’. Buku terbitan tahun 2012, tapi masih enak dibaca sampe sekarang.

Gue tau Mbak Djenar itu seorang penulis, sutradara juga, pernah denger judul tulisannya ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’, tapi gue sama sekali belum pernah baca buku karya Mbak Djenar. Duh, sedih. Maka dari itu, di momen diskonan ini, gue pengen mengenal Mbak Djenar lebih jauh lewat bukunya.

T(w)ITIT! adalah buku kumpulan cerpen yang terbit di tahun 2012, dan sudah mencapai cetakan ketiga. Buku ini berisikan 99 halaman pas, dengan 11 judul cerpen di dalamnya. Gue sendiri cuma butuh waktu sekitar sejam untuk menghabiskan membacanya. Untung cuma 10 ribu, ada perasaan gitu. Haha.

Dari semua cerita pendek yang ada dalam buku ini menceritakan tokoh dengan nama yang sama, yaitu Nayla. Awalnya gue sempet mikir, kenapa ngga judulnya Nayla aja. Soalnya kesemua cerita dinamai Nayla. Tapi kalo gitu, jadi ngga seru dong. Iya toh Mbak?

Bahasa yang dipake Mbak Djenar itu apik tenan, sastra banget lah. Banyak kalimat yang memiliki akhiran yang sama. Pengucapan yang sama. Padu. Gue awalnya ngira, cerita satu ke cerita lainnya itu nyambung. Soalnya masih saru dengan nama tokoh yang sama. Ditambah Mbak Djenar ini pinter sekali buat ending, ngga terduga. Bisa juga dia nyambung ke cerita berikutnya, bisa juga engga. Bingung dan penasaran jadi satu. Kok kayak sikapmu, padaku? *elaah.

Oya, dari nama tokoh Nayla ini sudah jelas cerita yang diangkat seputar wanita. Ada beberapa cerpen yang membuat gue tersentuh. Misalnya judulnya, ‘Nayla’, eh pas banget Nayla judul cerpennya. Dalam cerpennya itu diceritakan seorang anak yang bernama Nayla, yang saat berusia 7 tahun setengah, harus kehilangan sosok ayahnya. Ayah Nayla adalah seorang pegawai di kantor, yang dipecat karena ketauan melakukan maksiat di tempat kerjanya. Kemudian sang ayah kabur dari rumah, hingga akhirnya ayahnya jatuh miskin gara-gara berjudi dan memilih menceraikan istrinya, ibu Nayla.

Uniknya, Mbak Djenar mengangkat yang bersalah dimata Nayla tidak seperti kebanyak orang. Biasanya kan pasti cowok yang salah. Itu hukum alam. Haha. Tapi disini, menurut Nayla yang salah adalah ibunya sendiri. Kenapa? Karena penampilan ibunya yang dia anggap sangat tidak pantas menjadi ibu rumah tangga.
“….Suami mana yang tak akan jemu jika setiap hari menemukan istrinya berpenampilan tak ubahnya babu”.
Kejam sih, ya mau bagaimana lagi, begitu keadannya. Ini sempat membuat gue mikir, berat sekali tugas ibu rumah tangga. Mengurus rumah tangga, merawat anak, selalu terlihat cantik seperti apa yang suami mau.

Akhirnya Nayla harus menerima keadaan dimana ia dan ibunya kekurangan uang tanpa nafkah dari ayahnya. Mulailah masa sulit-sulit itu. Yang membuat gue geram, Nayla jadi semakin kesal dengan ibunya.

Kekesalan Nayla memudar ketika, sang ibu mampu memberikan nayla sedikit rejeki untuk hidupnya sehari-hari. Dengan apa? Kini ibu Nayla mulai bersolek, mempercantik penampilan, untuk menjual diri. Miris.

Nayla menyadari tidak ada yang harus ia tuntut lagi. Bahkan rok sekolah merahnya sudah diatas tumit. Nayla tidak ingin membebani ibunya dengan membeli rok baru. Toh sebentar lagi ia akan naik SMP. Nayla juga tidak ingin ibunya tau, jika ia ditegur guru karena rok seragamnya sudah diatas tumit sehingga bisa menimbulkan nafsu.

Dilanjutkan, ibu Nayla menerima selembar surat di tangannya. Matanya basah, saat petugas mengatakan bahwa anaknya harus tinggal semalam demi menuntaskan pemeriksaan atas kasus pemerkosaan yang dialaminya dalam angkutan umum, karena keterangan saksi mengenai rok Nayla yang di atas tumit harus benar-benar diusut demi terlaksananya keadilan dalam penegakan hukum.

Gue sendiri tertegun. Bingung harus merespon apa. Seorang anak SD yang harus menerima hukuman atas ke-tau-diri-an  dari kondisi keluarganya. Kerelaan sang ibu yang harus membiayai anaknya harus dibayar dengan itu. Hidup memang tak lucu.

Itu baru satu dari banyak cerita haru yang disajikan Mbak Djenar. Ada 10 cerita lagi yang mampu menganduk emosi.

Gue sendiri baru ‘nggeh’ kalo Nayla ini sama sekali tidak nyambung antara satu cerita dengan cerita lainnya di cerpen ketiga. Saking membingungkannya. Hehe. Kadang, gue juga agak terganggu dengan sajak yang muncul di setiap cerpen ini. Indah sih, tiap kalimat berakhiran kata atau pengucapan yang sama, tapi kadang agak janggal juga arti kalimatnya.

Tapi isi dari cerita-cerita ini ada yang mengandung kritikan. Terutama seperti judulnya, T(w)ITIT! yang menyerukan bahwa status twitter seseorang kadang diterima oleh orang yang salah.


Kumpulan cerpen dari Mbak Djenar lumayan jadi bahan begadang, padahal harus kerja hari di minggu. Gue jadi tertarik buat baca novel Mbak Djenar yang lain. Semoga dapet diskonan lagi. Hehe.

Saturday, November 29, 2014

Cinta Tiga SKS

Tok..tok..tok. Seorang wanita muda masuk ke ruang kelas memakai kaos hitam dengan celana jins ditambah sepatu converse putih dan tas jinjing di lengan kirinya. Dari mukanya terlihat sekali ia baru bangun 10 menit yang lalu. Mungkin hanya sempat mencuci muka dan sikat gigi. Rambutnya yang sebahu di gerai sembarang dengan hasil sisiran yang terkesan sekedar. Dosen tidak terlalu memperhatikan langkahnya memasuki ruangan. Iya sedang sibuk menjelaskan metode penulisan Advertorial untuk iklan radio. Wanita berjalan pelan sambil berkata permisi kepada teman-temannya yang sudah duduk dikelas lebih dulu.
Sebuah kursi kosong terletak di paling belakang. Langkah wanita tadi menuju ke arah kursi. Sambil mengatur nafas, ia lalu duduk.
“telat bangun lagi?” tanya wanita yang duduk disebalahnya.
“iyaa nih Wil. Lo kok ngga bangunin gue si?!” keluh wanita itu kesal.
“hey, gue uda telpon Lo ya Nin. Siapa suruh hp lo mati” Wilda ngomel sambil berbisik.
“hah....” Nindi menarik nafas panjang.
Ini pertama kalinya Nindi masuk kelas Copywriting. Karena dipertemuan pertama ia memakai jatah bolosnya untuk berlama-lama di kampung halaman. Nindi memang dikenal ngga bisa bangun pagi. Di semester lalu saja, beberapa matakuliah ia hampir skip 3 kali hanya karna telat bangun. Dan sekarang, ia lagi lagi harus berhadapan dengan matakuliah Copywriting jam 7 pagi di tiap hari Selasa. Ini musibah.
Sebelum menginput matakuliah ini diawal semester, ia sempat protes kenapa kampus tidak berpihak ke mahasiswa senior disini. Mahasiswa semester 5 keatas itu harus dimanjain, salah satunya dengan meniadakan kuliah pagi, celotehnya dulu. Ia juga sering meminta tolong kepada sahabatnya, Wilda untuk membangunkannya di hari Selasa. Tapi ya gini hasilnya, kalo ngga diangkat pasti hp nya mati.
“dari tadi ngapain aja? Ini si dosen jelasin apa? Gue ngga ngerti” tanyanya ke Wilda.
“iiihh makanya jangan telat. Udah dengerin dulu aja” jawab Wilda kesal.
Nindi masang muka cemberut sambil memaksakan matanya tetap terbuka. Ia baru tidur subuh tadi, hanya tiga jam.
“iya sekarang tugas minggu lalu bisa dikumpulkan” perintah Pak Rofi dari depan kelas.
“Nin, tugas lo mana?” tanya Wilda.
“untung gue inget ngerjain semalem. Nih..!” jawab Nindi sambil menyetorkan tugasnya ke Wilda.
“ini langkah sebelum tidur apa cerpen si? Panjang amat” protes Wilda.
“kan gue ngga masuk. ya mana gue tau kalo tugasnya cuma di suruh langkah-langkah doang” Nindi membela diri.
“emang bakat ngarang lo” coleteh Wilda sambil ngumpulin tugas temen-temennya yang lain.
“Nin, tolong kasiin ke Wilda dong” tiba-tiba terdengar suara cowok di sebelah Ninda.
Ia lalu menoleh.
“Aryo? Lu di kelas ini juga?” tanya Nindi kaget sambil mengambil kertas tugas Aryo.
“iya. Kan pengen liat kamu” jawab Aryo sambil senyum-senyum.
“masih aja suka gombal” jawan Nindi ketus.
Aryo sempat sekelas bareng Ninda di semester dua. Walau tidak terlalu deket, Nindi mengenal baik Aryo. Beberapa kali mereka sempat sekolompok bareng. Dan kebiasaan Aryo yang ngga Nindi lupain adalah suka ngengombal. Bukan Cuma Nindi, Aryo sering banget ngombalin cewek-cewek lain. Padahal tampangnya yaa lumayan, terus keliatan polos. Yang belom kenal pasti ngga nyangka cowok ini suka ngombal kalo diliat dari tampangnya. Dan Nindi? Ngga kalah sama Aryo, Nindi juga sering ngombalin cowok-cowok. Hobi ngombalnya ini katanya cuma iseng, atau emansipasi. Masa yang ngombal cuma cowo, kata Nindi dulu. Kalo cowok cuma anggep bercanda, ya ngga apa-apa. Nah kalo serius? Nindi uda berkali-kali ‘terjebak’ karena hobinya yang konyol. Ini yang buat mereka berdua nyambung kalo ngobrol. Yang cowoknya ngengombal, ceweknya juga bales. Klop.
“eh yo, apa kabar lo? Lama ngga sekelas” tanya Nindi.
“baik gue. Lo juga ngga pernah keliatan, gue kira lo ngga ambil matakuliah ini” jawab Aryo sambil sesekali melihat dosen.
“iya kan kita beda konsentrasi pak, mau banget sekelas bareng terus?” goda Nindi.
Aryo noleh ke arah Nindi, sambil tersenyum kecil. Mereka berdua lalu tertawa bersamaan.
“kalian ini ya, emang agak-agak” tiba-tiba Wilda ikut nimbrung.
Pak Rofi menyebutkan nama mahasiswa satu persatu setelah mengoreksi tugas yang dikumpulin.
“Nindi Mareta” panggil Pak rofi.
“iya pak” jawab Nindi refleks.
“ini kamu buat langkah-langkah sebelum tidur apa cerita sebelum tidur. Uda kayak cerpen aja” katanya.
“tuh kan” cibir Wilda.
“ust. Iya pak saya ngga ngerti tugasnya” Nindi beralasan.
“lo si ngga ngasi tau yang dibuat cuma langkah-langkah” protesnya ke Wilda.
“yee, lo nya aja yang ngga denger pas gue kasi tau” Wilda ngga mau kalah.
“yaudah, lain kali gue yang ingetin” kata Aryo.
“aaa Aryooo...” jawab Nindi sok manja.
“mulai deh mulaii” oceh Wilda.
Nindi dan Aryo ketawa dengan suara pelan.
“kelas sudah sampe disini, jangan lupa tugas dikumpul minggu depan” kata Pak Rofi.
“iyaa pakkk” jawab anak-anak riuh.
“eh prim buru, kita ada kelas lagi” ajak Wilda.
“iyeee sabar. Yo gue duluan ya” sambil menepuk bahu Aryo.
“eeh iya Nin” jawab Aryo sambil menulis tugas yang Pak Rofi kasi tau tadi.
***
Lagi-lagi Nindi telat memasuki kelas. Namun hari ini setidaknya ngga separah minggu lalu. Hanya telat berapa belas menit. Dan kembali Nindi dapet tempat duduk di sebelah Aryo. Aryo memang hebat, ngga pernah telat masuk kelas walaupun jam 7 pagi bisik Nindi dalam hati.
Seperti minggu sebelumnya, Pak Rofi menjelaskan materi di depan kelas tanpa menggunakan microsoft power point. Yang paling mahasiswa di kelas ini bingungkan adalah cuma ini dosen yang jelasin materi tanpa bantuan power point. Pak Rofi bukan dosen yang jenius, dia hanya suka bercerita kepada mahasiswanya. Kalo menurut Nindi, dia hanya menyombong. Dan Nindi juga pernah bilang ke Wilda sahabatnya, kalo Pak Rofi itu sebenernya gaptek.
“Wil...”
“eeh..” tanpa memalingkan muka ke arah Nindi.
“jangan sok ngerti deh” kata Nindi ketus.
“kenapa lo?” tanya Wilda.
“Bang Bimo, anak 2010 bilang kalo Pak Rofi sampe akhir semester pun ngga pernah pake power point tau” ungkap Nindi.
“serius lo?” Wilda menoleh ke arah Nindi.
“iya, bener kan yang gue bilang. Doi itu ngga bisa make laptop. Ngakunya doang copywriter” jelas Nindi.
“ngga boleh gitu ih. Dengerin bapaknya aja, ngga usah ribut” protes Wilda.
“errrrr....”
“gue dengerin kok Nin” tiba-tiba Aryo nimbrung.
“ah lo, pasti nguping dari tadi”.
“siapa tau, elo ngomongin gue” ungkap Aryo sambil menahan tawa.
“Yo, jadi ngga cukup telpon-telponan kita semalem” Nindi mulai menggoda.
“ya ngga lah. Masih kangen tau” Aryo malah menjadi-jadi.
“eemm” Nindi menyenggol bahu Aryo.
Setiap Nindi melayangkan pertanyaan ke Aryo, pasti ditanggepin pake gombalan sama si Aryo. Gimana Wilda ngga gregetan dengernya.
“eh kok tulisan lo makin jelek yo? Haha” ledek Nindi.
“buat apa tulisan bagus, kalo hati gue aja uda bisa lo baca” jawab Aryo.
“omigod, plis gue meting yo”.
“kayaknya kalian emang serasi deh” tiba-tiba Nina ikut nimbrung.
“bener na, tinggal di tembak aja nih si Nindi” cerocos Wilda kesal.
“yauda, tunggu apa yo. Ayo jadian aja” Nina mengompori Aryo.
“apaaan si” ungkap Nindi malu-malu.
“kita itu emang uda deket. uda lebih dari pacar” jawab Aryo.
Dan, cuma gara-gara ngomong beginian. Wilda dan Nina resmi menganggap Nindi dan Aryo pacaran. Mereka bertriak-triak di dalam kelas saat matakuliah selesai kepada mahasiswa lain untuk menangin PJ pada Aryo dan Nindi. Jelas saja, suasana kelas semakin gaduh. Dan tak disangka-sangka. Mahasiswa lain, menyalami lelucon yang di buat Wilda. Walaupun Aryo menganggap ini bercandaan, Nindi punya rasa yang berbeda ternyata.
***
Cewek mana si yang kalo diperhatiin cowok ngga tiba-tiba jadi jatuh cinta? Atau digombalin tiap ketemu. Tepatnya di tiap menit pertemuan mereka. Walau Nindi tau Aryo tidak serius, tapi ada hal yang melintas dipikirannya. Oke, kali ini Nindi akhirnya terjebak dalam keadaan yang biasanya ia buat sendiri dengan gombalan-gombalannya ke temem lelakinya.
“bengong aja” Aryo sambil menyenggol lengan Nindi dikelas.
“lu gangguin gue aja” jawab Nindi.
“oh ini ganggu? Lo anggep gue apa prim...” ungkap Aryo.
Yo, kalo gue jadi beneran jatuh cinta sama lo gimana? Tanya Nindi dalam hati sambil memandang Aryo dalam.
“aa warkop depan kosan” jawab Nindi sambil membalikan pandangan kembali ke depan kelas.
“tega benerrr dah” nada Aryo agak kecewa, tapi dengan tertawa.
Dan semenjak gosip kita pacaran menyebar, temen-temen Nindi dan Aryo di kelas ini seakan merencanakan kita biar duduk terus berdampingan. Entahlah apa yang ada dipikiran mereka, kadang Nindi memikirkan itu.
Sampe akhirnya, kejailan Wilda berujung. Aarrgh.
“..........selfie yok Nin” tiba-tiba obrolan Nindi dan Aryo mengarah kesitu.
“pake hape lo aja, hp gue butut ngga bisa selfie” jawab Nindi serius, walaupun dia sangat tau Aryo cuma basa-basi.
“yaelah ribet amat. Mana hape lo?!” Wilda lalu berinisiatif mengambil hape Nindi.
Pelak! Aryo dengan sok cool, memegang bahu Nindi dari belakang. Klik!
“bntar ya prim” kata Wilda.
“mau apa loh? Eeh!” Wilda masih sibuk memainkan hape Nindi.
“nih gue balikin” jawab Wilda singkat.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba seorang yang duduk di depan Nindi menoleh ke belakang.
“Nin mesra banget” ungkap seorang mahasiswa kepada Nindi.
“apaan?” tanya Nindi ngga ngerti.
“nih!” dia lalu menyodorkan hape pada Nindi.
“Wilda kampreeeeettttt” Nindi setengah berteriak dengan muka kesal.
“go publik lah” kata Wilda enteng.
“sialan lu” jawab Nindi kesal.
“udah si Nin, biarin aja” Aryo angkat bicara.
“lo lagi” Nindi mulai pasrah.
“lah kan ini cuma candaan” kata Aryo lagi.
Lo ngga tau perasaan gue? Semakin ini menjadi-jadi semakin gue menggangap ini serius. Bisik Nindi dalam hati.
“iya juga si” jawabnya pada Aryo.
***
Baru sebentar foto itu di post di Line, udah banyak mahasiswa yang mengenal mereka berdua berkomentar. Banyak yang kaget, dan sebagian justru menuntut PJ. Dimana pun mahasiswa lain melihat Nindi, pasti mereka menanyakan kebenaran gosip ini. Dan PJ tak kalah penting.
Ini minggu kesekian kalinya setelah gosip mereka berdua jadian dan tersebarnya foto seronok itu. Hingga akhirnya mereka memilih untuk menikmati ini. Aryo khusunya. Karena Nindi masih didera perasaan-perasaan yang tidak pasti.
“beb...sini duduk” Aryo memanggil Nindi saat Nindi baru memasuki kelas.
“Cieeeeee” ledek mahasiswa lain.
“Iya beb” Nindi mulai pasrah.
“Cieee uda pake bebeb, bebeban” ungkap Wilda.
“iyaaa dong” jawab Aryo bangga.
Nindi tertunduk lesu. Pikirannya berkecamuk.
“kenapa gue yang ngga bisa menikmati ini dengan biasa. Kenapa cewek terlahir dengan sensitivitas yang berlebihan. Ini hubungan yang ngga serius, jadi jangan pernah berpikiri ini akan menjadi serius” Nindi mencoba menekankan hal itu dalam pikirannya.
Kecanggungan Nindi dan ke-nikmat-an Aryo berlangsung hingga Ujian Tengah semester berakhir.
***
Setelah memasuki pertemuan matakuliah copywriting pasca uts, keadaan mungkin bisa dikatakan berubah perlahan. Di minggu-minggu pertemuan ke tiga setelah UTS, dia dan Aryo ngga dapet kesempatan untuk duduk bersebelahan lagi. Ini gara-gara kebiasaan Nindi yang ngga bisa bangun pagi ngga pernah ilang. Bedanya, mungkin kini temannya bosan menyediakan tempat duduk kosong di sebelah Aryo. Atau Aryo yang mulai bosan. Aaah, plis jangan kemungkinan kedua. Batin Nindi mulai berkonflik.
“Gue cukup kecewa kalo hubungan kita yang ternyata emang ngga serius. Karena ya emang, kita ngga pernah saling kontak selain dikelas. Tapi jangan sampai gue lebih kecewa karena gue tau, hubungan candaan kita juga tidak berjalas mulus” banyak pertanyaan muncul dibenak Nindi.
Materi perkuliahan hari ini hanya pembagian kelompok lalu membuat konsep untuk pembuatan poster. Satu kelompok beranggotakan lima orang. Wilda yang berperan aktif menentukan siapa aja yang mau jadi anggota kelompoknya. Jelas aja Nindi yang pertama. Hingga terkumpulah lima orang kedalam kelompoknya, termasuk Aryo. Nindi menarik nafas panjang, tau kalo Aryo juga jadi bagian tugas kelompoknya. Ntah kenapa, Nindi ingin menjauhi Aryo perlahan.
Beberapa minggu selanjutnya mereka mempresentasikan konsep poster di depan kelas. Topik yang ditugaskan dalam poster kali ini “Jangan Merokok”. Konsep poster yang mereka terangkan adalah ide dari Aryo. Dalam poster yang berukuran A3 itu terdapat gambar tangan seseorang memegang rokok masih menyala. Rokok itu akan dimatikan diatas asbak berbentuk paru-paru. Dengan background berwarna gelap. Kalo kata Aryo sih, semakin sering rokok dikonsumsi semakin cepat paru-paru akan rusak seperti halnya asbak yang selalu menjadi sasaran rokok.
Walau ide ini cukup bagus, Nindi sama sekali tidak tertarik. Seandainya aja ia punya ide lebih bagus, pasti iya akan menolak ide Aryo. Kebencian Nindi pada Aryo seakan menjadi-jadi saat mereka uda ngga pernah duduk bersebelahan lagi.
“jika konsep posternya seperti ini, target masyarakat yang mana yang akan anda sasar?” tanya seorang mahasiswi pada kelompok kami.
Semua mata menoleh ke arah Nindi, mereka seakan memasang kode agar Nindi menjawab pertanyaan itu. Ya mau gimana, dari tadi Nindi belum dapet giliran menjawab soal.
“iya, semua kalangan. Lagian maksud poster dan pesannya gampang dicerna. Ditempel dimana aja bisa. Dibelakang pintu toilet juga bisa. Iya kan yo?” jawab Nindi ngga serius. Semua anggota kelompok menoleh kearah Nindi dengan mata melotot.
“bener kata Nindi tadi, kita berusaha membuat poster ini sesederhana mungkin agar semua kalangan bisa menangkap pesannya. Apalagi yang kita ketahui, masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi rokok tidak lagi dari kalangan menengah atas justru lebih banyak menengah bawah” jawab Aryo menimpali Nindi yang terlihat ngga ambil pusing dengan jawabannya tadi. Mahasiswa yang mendengar jawabannya Aryo hanya manggut-manggut termasuk mahasiswi yang bertanya tadi.
“lo kenapa si?” tanya Wilda pada Nindi.
“tau ah gelap” jawab Nindi singkat.
Setelah mereka kembali ke tempat duduk, Aryo memandang Nindi dari kejauhan. Melihat keanehan tingkah Nindi yang dirasa akhir-akhir ini. Nindi yang merasa diperhatikan menoleh kearah Aryo, lalu memalingkan muka tanpa berekspresi apapun.
Lama-kelamaan Nindi menjadi males masuk kelas Copywriting. Ia hanya ingin menghindari Aryo. Menghindari perasaan-perasaan yang tadinya muncul akibat rayuan Aryo. Dan sejauh ini yang ia tahu itu semua emang sekedar main-main.
Hingga dipertemuan terakhir matakuliah ini karena minggu depan akan berlangsung UAS, Nindi masih ngga bisa menyembunyikan kekesalannya sekaligus kekecewaannya pada Aryo. Saat Nindi masuk kelas, dan matakuliah telah dimulai hanya ada satu kursi tersisa disebelah Aryo. Wilda melirik kearahnya sambil tersenyum. Ia memberi kode pada Nindi untuk duduk disebelah Aryo di pertemuan terakhir ini.
Tanpa pikir panjang Nindi menarik kursi itu lalu meyeretnya di deretan bangku depan. Semua anak menoleh kearah Nindi. Selain karena suara kursi yang menganggu seisi kelas, mereka melihat Nindi dulu selalu dekat Aryo kini justru terkesan jijik duduk berdekatan.
“Maaf pak” kata Nindy melihat Pak Rofi yang juga menoleh kearahnya.
Aryo menoleh kearah Wilda dengan muka bertanya-tanya. Lalu wilda mengangkat bahunya. Aryo mulai membenarkan firasatnya melihat tingkah Nindi yang akhir-akhir ini mulai jutek kepadanya.
“bubar kelas, gue harus ngomong sama dia” ungkapnya dalam hati.
15 menit sebelum matakuliah berakhir, Pak rofi membubarkan kelas dengan ucapan selamat menempuh UAS dan tentunya doa agar ngga sampe mengulang matakuliah ini. Satu persatu anak keluar kelas. Nindi masih ngobrol dengan Pak Rofi karena ia telat mengumpulkan tugasnya ke email kelas. Aryo sengaja nungguin Nindi. Mumpung kelas uda sepi.
Saat Nindi telah menyelesaikan urusannya dengan Pak Rofi, ia menuju ke tempat duduknya melihat ada Aryo yang duduk disitu. Pak Rofi berpamitan keluar.
“minggir. Gue mau ambil tas” kata Nindi ketus.
“bentar. Lo marah sama gue?” tanya Aryo.
“ngga, ngapain” Nindi masih ketus.
“Bohong. Kenapa ngindar kalo gitu”.
“terserah gue dong”
“pasti ada alesan untuk jawaban terserah”
“ngga”
“Nin...”
“gue kesel. Gue kesel kenapa lo dulu baik sama gue. Ngrayu gue. Ngombalin. Manggil bebeb. Trus ilang. Udah gitu ada” Nindi jawab pertanyaan Aryo dengan emosi.
Sambil maksain ketawa, Aryo narik tangan Nindi agar wajahnya lebih dekat dengan Aryo yang sedang duduk didepannya.
“itu yang lo lakuin dulu ke gue” jawab Aryo lalu melepaskan genggaman tangan Nindi dan pergi keluar kelas.
“hah. Oke gue kena karma” kata Nindi dalam hati.
***
Akhirnya UAS berlangsung. Pak Rofi ngasi dua soal sesuai dengan kisi-kisi yang ia kasi. Aryo nyelesaiin jawabannya dengat cepat. Setelah nyetor lembar jawaban ke pengawas, Aryo lalu mengambil tas didepan kelas. Ia berjalan pelan, kemudian berhenti sejenak didepan kursi Nindi. Tanpa diliat pengawas, Aryo menaruh kertas diatas meja Nindi lalu pergi.
Takut dikira kertas contekan, Nindi milirik kanan kiri biar ngga ada yang ngeliatin. Rasa penasarannya lebih besar dibanding ketakutannya ditangkap pengawas. Perlahan ia membuka kertas itu. Dalam hati ia membaca tulisannya.
Semoga semester depan kita ngga cuma ketemu tiga sks. Aryo.

Monday, August 25, 2014

Kosong

Sabtu, 18 Mei 2013 pukul 15.56

Sengaja tersedia sebuah meja dengan dua buah kursi dalam pojok ruang sebuah rumah kontrakan. Mereka menyebutnya itu dapur. Tapi, ngga ada kompor gas bahkan susunan piring disitu. Hanya ada sebuah keran air, dengan air yang sesekali masih menetes.
Kontrakan ini memiliki empat buah kamar yang semua penghuni sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka hanya bertemu waktu malam, itu juga kalo lagi mujur. Ternyata menjadi mahasiswa selain diharuskan menjadi orang mandiri yang harus meninggalkan keluarga, mereka juga dihadapkan pada proses kedewasaan. Mengatur alur emosi dan menghargai pilihan masing-masing. Kita memang ngga melulu harus berempat.
Seorang wanita, jelas salah satu diantara empat penghuni rumah kontrakan itu duduk bersila pada kursi meja makan tadi. Pandangannya setengah kosong. Ia meletakkan kepalanya di atas meja makan. Mengarah ke sebelah kanan. Tangan tetap dilipat diatas perut, dan matanya mengarah pada sebuah hp di depan matanya. Tak terhitung berapa lama. Hingga terdengar seorang wanita membuka pintu yang lalu mendekat kearahnya.
“boleh gue tau, hal apa yang membuat lo seperti ini?”
“seberapa peduli lo?”
“sebesar yang lo yakini”
“rumah ini kosong”
“memang. Lalu?”
“entah lah. Sampe kapan kita betah seperti ini”
“sampe kampus berhenti memaksakan sistem TAK pada mahasiswanya”, ucap wanita kedua sambil tertawa lalu ngeloyor pergi kekamarnya.
Wanita pertama tadi akhirnya memalingkan pandangan ke arah lawan bicaranya.

“ngga lucu!” 

Laut Mungkin Tau

Rabu, 15 Mei 2013 pukul 01.24

Debur ombak laut senja itu. Dengan setia seorang gadis duduk diatas tumpukan butir pasir putih. Sendiri. Masih dengan mata berbinar, ia membuat sebuah lingkaran sedang disebelahnya. Bukan lingkar sempurna. Sesekali ia meniup pasir yang tak sengaja jatuh hingga menyarukan garis lingkarnya. Sendal miliknya, yg tadi ia duduki kini ditaruhnya di dalam lingkaran itu. Kemudian, kembali sambil tersenyum ia meletakkan dua buah botol minuman pada garis luar lingkaran. Belum jelas apa yg ia lakukan. Beberapa menit kemudian, kembali ia menegaskan garis diatas sibakan pasir. Menggerakan telunjuknya dengan halus.

Sesekali ia bangun lalu melemparkan kerang kecil ke air pantai yg menggenang. Bahkan, ombak pun tidak memberi perlawanan. Ia mengulang itu hingga beberapa kali. Seperti membuat kompetisi pada diri sendiri. Seberapa jauh kerang dapat berlari diatas air. Seberapa kuat kerang mampu menyibak hingga membuat percikan air. Kini ia memalingkan kepalanya ke arah belakang. Bahkan ia tau, tak ada langkah kaki yg mendekati posisinya.

Keceriannya mulai melemah. Ia akhirnya duduk dan membersihkan kaki tangannya dari serpihan pasir. Tangan kanannya meronggoh saku, mencari sebuah benda yg tersembunyi di sudut. Sebuah gelang dengan hiasan kerang. Cantik. Ia memandangi itu dengan lekat. Bahkan ombak nampak tak lagi punya pesona.

Masih sibuk dengan gelangnya, dari kejauhan muncul laki-laki mengayuh sepeda. Makin lama makin lekat makin terlihat jelas sosoknya. Dengan jarak yg kurang dari 50 meter ia meneriakan nama gadis itu beberapa kali.
" Ve...vee...veraaaaaa"
Ia berhasil membuat gadis yang ternyata bernama vera menoleh. Pria itu melempar sepedanya dan mendekat ke arah vera yg telah berdiri.
"Ve masih ada sisa waktu untuk menjawab?"
"Kapanpun"
"Aku menerima tawaranmu"
"Berubah pikiran?"
"Tidak"
"Lalu?"
"Ya, emang sejak dlu"
"Tapi kenapa baru sekarang?"
"Aku butuh waktu untuk memulainya dengan benar"
Laki-laki itu mengangkat tangan kananya di depan mata vera. Terlihat sebuah gelang melingkar di tangannya. Lalu mereka akhirnya berpelukan. Erat. Kau tau? Walau cinta sering kali membuat mu menunggu, ia juga membuka ruang lebar untuk kesabaran.


Sambil memandangi matahari yang hampir terbenam, mereka duduk, bercerita menghadap laut. Hangat. Laut mungkin tau.

Panggil Bintang

Rabu, 20 Maret 2013 pukul 02.04

Disudut kamar petak berukuran sedang lengkap dengan sebuah jendela tanpa gorden, seorang lelaki dewasa berumur hampir 30 tahun bersender pada dipan yang merapat ke tembok biru. Ada sebuah lampu beralas meja yang sengaja diletakan dipinggir tempat tidur dengan cahaya menyorot objek pandangnya. Sebuah asbak serta ceceran puntung rokok juga meramaikan isi meja. Kebiasaan merokok, baru-baru ini mewabah pada pria ini. Sebuah buku Tetralogi Dangdut karya Putu Wijaya berjudul Nora, memfokuskan perhatiannya. Selain kebiasaan merokok, pria ini juga baru disengat demam buku absurdisme. Cerita yang mengedepankan imajinatif, alam bawah sadar dan tokoh-tokohnya teralienasi.

Menuju ke halaman 98, terdengar suara bocah berlari mendekati kamarnya. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Terlihat seorang bocah laki-laki menengokkan kepalanya dibalik pintu sambil tersenyum lebar pada pria tadi. Seyumnya seperti mengisyaratkan permohonan ijin untuk masuk ke dalam kamar. Tanpa pikir panjang, pria tadi langsung membalas senyum sambil menganggukan kepalanya. Layaknya bocah yang masih berumur lima tahun, ia pun berlari kegirangan menghampiri pria tadi sambil membawa sebuah majalah anak-anak. Pria tadi meletakkan bukunya, dan menarik badan bocah laki-laki itu untuk duduk dipangkuannya.

 “kenapa belom tidur bang?” tanya pria itu.
“ia pa, aku kan ngga bisa tidur kalo lampunya mati” jawabnya cengegesan.
Ini berlanjut kesebuah percakapan antara ayah dan anak.
mbok Nah mana?”
“papa gimana si. Kan semenjak mbok kenal sama tukang kebun depan rumah tiap malem dia telpon-telponan pa. Aku di lupain deh” pengakuan bocah laki-laki itu.
“ Ya sudah, kalo gitu abang tidur sama papa ya” bujuk pria tadi.
“mauu. Oya pa, tadi disekolah aku uda diajarin baca tulisan yang ada di majalah lo. Terus aku dibilang pinter sama ibu guru. Aku bisa baca tanpa ngeja lagi. Hebat kan pa” cercanya.
“iya kan dulu uda belajar sama mama. Belajar nulis trus belajar baca. Ntar belajar hitungnya papa yang ajarin”.
“yah papa, berhitung mah aku uda jago. Hahhaha”
“kalo uda jago, masih tetep mau belajar kan?”
“mau dong. Pokoknya mau pinter kayak papa. Kayak mama. Oya pa, tadi ibu guru nyeritain aku tentang Bintang”
“apa kata bu guru?”
“bintang itu salah satu sumber cahaya bumi, trus bintang itu jumlahnya sangaaaat banyak ngga ada orang yang bisa ngitung. Terus bu guru juga bilang, bintang itu ibarat surga. Jadi kalo orang yang sudah mati trus masuk surga, tinggalnya di bintang. Makanya bintang makin hari makin banyak jumlahnya”. Cerocosnya dengan antusias.
“kecuali kalo ujan. Bintang ditutupi awan” katanya pria itu sambil mengusap rambut anaknya.
“kata papa, mama orang baik kan?”
“sangat baik”
“berarti mama masuk surga?”
“iya tentu”
“beraarti mama tinggal di bintang?”
“mungkin saja”
Bocah laki-laki itu berjalan mendekati jendela, kemudian menatap langit dari dalam kamar.
“aku rasa mama yang itu pa. Yang paling terang. Bisa papa merayunya untuk pulang?”


(ini ditulis saat gue didera kerinduan yang teramat pada mama dalam hubungan Long Distance Relationship, karena mama jauh di Bali)