Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Tuesday, February 7, 2017

Pelarian Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata

Tapi apakah hidupku masih butuh perumpamaan?
Namaku diumumkan di koran-koran, 
rumahku digerebek,
biniku diteror,
dipanggil koramil,
diinterogasi,
diintimidasi.

Anakku 4 tahun melihatnya.
Masihkan kau butuh perumpamaan?
Untuk mengatakan, aku tidak merdeka!



Puisi diatas, saya kutip dari musikalisasi Fajar Merah saat sedang tampil di salah satu TV swasta di Indonesia. Fajar Merah adalah seorang anak dari aktivis bernama Wiji Tukul yang sampai saat ini tidak pernah terdengar gaungnya. 

Saya tidak kenal dengan Wiji, tidak akrab dengan karya-karyanya. Ketertarikan saya terhadap sastra datang terlambat. Tapi tentu itu bukan masalah. Saya pertama kali membaca salah satu puisi Wiji dengan judul "tetangga sebelahku" di line (kalo tidak salah). Tergoda dengan dengan satu puisinya, saya mencoba mencari puisinya yang lain. Termasuk mencari sosok Wiji yang begitu misterius. Saya hanya tahu ia adalah seorang yang hilang dalam pelarian, saat rezim Soeharto. Cukup. Saya tidak mencarinya lagi. Sampai ketika muncul film Istrahatlah Kata-Kata.

Saking penasarannya, saya rela membeli tiket yang jauh lebih mahal dibanding biasanya.


Jika biasanya, film biografi khususnya di Indonesia adalah untuk tokoh terkenal, seperti Habibie, Tjokroaminoto, Soe Hok Gie, dan lain-lain. Tapi berbeda dengan ini. Yosef Anggi Noen justru mengangkat kisah Wiji Thukul yang bahkan sampai sekarang tidak jelas nasibnya. 

Film ini dibuka dengan adegan di kantor polisi, saat seorang polisi menangih kesaksian dari anak Wiji (Gunawan Maryanto), Fitri. Ia dipaksa memberikan informasi tentang keberadaan Sang Ayah. Fitri masih kecil. Begitu lugu. Cukup menyedihkan, pada usia sekecil itu dia harus merasakan kebejatan rezim yang berkuasa. Fitri tidak sendiri, ada Sipon (Marissa Anita), istri Wiji yang selalu setia menanti kedatangan Wiji Thukul.

Wiji sebelumnya tinggal bersama anaknya dan istrinya di Solo. Ia seorang buruh, pimpinan demonstran, aktivis gerakan kiri dan penyair yang sajaknya ditakuti pemerintah jaman itu. Karena alasan itulah ia menjadi bulan-bulanan, hingga menjadi buronan. Wiji melakukan pelarian ke Pontianak dibantu temannya. Inilah yang paling banyak diceritakan dalam Istirahatlah Kata-Kata, bagaimana pelarian seorang Wiji Tukul.

Jika digambarkan dengan 3 kata, menurut saya Istirahatlah Kata-Kata adalah film yang Sunyi, Simbolik dan Sederhana.

Sunyi.
Banyak sekali gambar yang menjelaskan kesunyin Wiji, keheningan, 'diam'nya Wiji. Seorang pemberontak, harus bersembunyi demi mempertahankan hidupnya. Berpindah-pindah, ketakutan, dan asing. Film ini diantarkan dengan narasi yang berasal dari puisi Wiji Thukul. Mungkin itu salah satu faktor yang membuat film ini semakin sunyi. Puisi Wiji yang kental dengan pembelaan kaum tertindas. Yang betapa ketirnya harus menaruh rasa curiga pada setiap orang yang menatap dirinya. 

Tiap adegannya pun yang saya rasakan, diambil terlalu lama, dengan long shoot sangat sangat gambar dari film ini close up. Saya sendiri geregetan, harusnya durasi mungkin bisa dipangkas dengan shoot adegan yang diambil terlalu lama. Disisi lain, Anggi mungkin ini membuat penonton merasakan apa yang ada di sekeliling Wiji. Merasakan betapa sepinya hidup menjadi seorang pelarian.

Simbolik.
Film ini sarat dengan simbol-simbol. Sepertinya ada alasan atas setiap simbol yang dimunculkan. Misalnya saat Midah (Joned Suryatmoko) meminjam sikat gigi dan odol kepada Sipon, dengan paksaan. Cola-cola, kacang dan sabun yang ada di Motel di Solo. Bulu Tangkis, saat ia melakukan pelarian di Pontianak. Dan mungkin ada banyak lagi, yang saya sendiri sampai lupa.

Bahkan celana 'gemes' merah yang dibelikan Wiji untuk Sipon. Tentu saja ini adalah gambaran hasyrat seks yang begitu luar biasa. Tapi yang saya salut adalah, perlakuan Anggi dalam ini yang mampu mengarahkan penonton kepada hasyrat Wiji tanpa harus memunculkan adegan yang tidak perlu. Sangat sederhana.

Sederhana.
Semua yang terjadi dalam film ini menurut saya begitu sederhana. Begitu nyata dan sepertinya dekat. Bagaimana hidup di masing-masing daerah yang menjadi tempat pelariannya.

Saya sengaja mengulur waktu menulis review film ini. Saya mencari beberapa pembenaran, sekaligus pendukung. "ada ngga si penonton, yang sama ngeliatnya sama kayak gue". 

Dan benar, beberapa artikel berita menulis beberapa ulasan dan kritikan terhadap film ini.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38254525

https://tirto.id/istirahatlah-kata-kata-film-penting-belum-tentu-bagus-chKf

kalo kata teman saya, Wiji Thukul disini seperti pengecut. Mungkin ada benarnya. Durasinya menurut saya terlalu panjang untuk cerita yang pendek. Banyak adegan dan dialog yang tidak penting. Adapula tokoh yang hanya melengkapi, bahkan dengan tidak ada dia pun film ini tidak kehilangan maknanya. Sama sekali tidak ada keberanian yang diperlihatkan Wiji, hanya dalam puisi. Cerita yang bagus, tapi pengemasan yang kurang proporsional. 

Tidak jelek, buktinya Istirahatlah Kata-Kata berhasil melang-lang buana hingga ke penjuru dunia. Tapi ya mungkin seharusnya bisa dibuat lebih bagus lagi. Apalagi dengan waktu riset hingga 1,5 tahun.

Saya sendiri, tertegun dengan narasi yang dimunculkan. Membuat saya mengira-ngira, seperti inikah sosok seorang Wiji.

"Rezim ini bangsat, tapi takut dengan kata-kata"

"aku tidak ingin kamu pergi,
aku tidak ingin kamu pulang,
aku ingin kamu ada"

Setidaknya film ini telah, mengusik ingatan kita kembali betapa kejamnya orde baru. Betapa banyaknya suara-suara yang dibungkap, nyawa yang dihilangkan, hanya demi mempertahankan kekuasaan. Dan Wiji Thukul hanya salah satu dari banyak pemberontak yang bernasib naas.

Keren Mas Anggi, atas untaian kata-kata dalam Istirahatlah Kata-Kata. 7.5/10.


Sunday, December 25, 2016

Kejutan di Film 'May Who?'

Di dunia ini tak ada yang adil, 
ada yang tinggi,
ada yang rendah.
Semua punya standarnya.
Termasuk di sekolah.

Murid-murid dapat dikategorikan dalam beberapa kelompok,
paling bawah ada mereka yang biasa-biasa saja.
Diatasnya adalah mereka yang nakal,
tidak berbuat apa-apa, tapi mencari masalah.
Kemudian, adalah group rajin,
mereka yang sering menggunakan bahasa yang sulit dipahami.
Urutan ketiga adalah atletik,
mereka yang memiliki kekuatan super.
Kedua, adalah group cantik.
Masing-masing dari mereka memiliki banyak followers.
Urutan pertama adalah mereka yang memiliki keunikan tersendiri.

Dan yang paling atas adalah, ia yang jago segala-galanya.

Mereka yang tidak memiliki banyak, masuk ke group yang sama dengan ku.



Panjang ya pengantarnya.... Hahaha
Kurang lebih seperti itu, prolog dari Film Thailand May Who yang gue tonton beberapa hari lalu. May Who atau dalam bahasa Tagalognya May Nai Fai Rang Frer bercerita tentang romansa remaja beserta problematika yang ada didalamnya. Sutradara May Who, adalah Chayanop Boonprakob yang ternyata juga menyutradarai film populer di Thailand, SuckSeed. Film dengan genre romantic comedy ini diperankan oleh Sutatta "PunPun" Udomsilp (May), Bank Thiti Mahayotaruk (Pong), Tor Thanapob Leeratanakajorn (Fame).


(sumber: google.com)


Cerita berawal dari siswa laki-laki (gue ngga tau ini SMP atau SMA) bernama Pong yang mengganggap dirinya tidak masuk dalam satupun group (kelompok pergaulan) di sekolah. Itu karena dia tidak memiliki bakat apa-apa. Tidak memiliki wajah yang tampan, ataupun prestasi di sekolah. Yang menarik, Pong naksir sama Ming, cewek populer pemandu sorak. Pong yang hobi gambar, buat ilustrasi kayak komik gitu yang isinya agak mesum. Tanpa sengaja, buku gambar Pong sampai di tangan Ming. Hancurlah sudah semuanya.


Setelah ditelusuri, yang menyebarkan buku Pong adalah May. 

Konon di Thailand, May adalah nama yang paling umum. Di sekolah pasti ada saja yang bernama May anu atau May itu. Kalo di Indonesia, kayak Ayu kali ya, atau Agus buat cowok. Hahha. Nama lengkap May, adalah May Nhai. kalo bahasa inggris May Nhai berarti "May Who" yang artinya "May siapa?" atau "May yang mana?"

Disni, dari yang gue baca, sutradara pengen bilang tokoh utamanya bukan sosok penting di sekolahnya, Sebuah sekolah dengan kurikulum Jepang-Thailand. Uniknya lagi, May punya kekuatan super, yaitu bisa mengaliri listrik kalo detak jantungnya tinggi. Pong lah yang pertama kali tau, pas mereka bertengkar. Karena inilah mereka jadi deket, dan tentunya saling bantu buat dapeting pasangan idaman masing-masing.

Tapi menurut gue, cerita ini mudah ditebak. Muncul benih-benih cinta di antara mereka berdua. Melihat ceritanya yang cuma gitu aja, emang ngga ada yang istimewa dari May Who. Tapi yang menarik adalah, kekuatan super May yang nantinya bakal menghalangi dia jatuh cinta, dan cuma Pong yang bisa bantu.

Gimana ceritanya? Mending nonton aja. Gue yakin kali bakal tertawa atau terharu di tiap scene nya. Ditambah Pong, menurut gue cakep banget, dibanding Fame yang keliatan dewasa dan maco. Bank Thiti Mahayotaruk berhasil memerankan Pong, sebagai karakter remaja yang sedang jatuh cintah, yang lucu tanpa dibuat-buat. Yang koplak dan apa ya...pokoknya lucu deh. Rasanya pengen dipacarin. Loh.

Sebagai bonus, sang sutradara juga menyelipkan animasi sesuai kartun yang digambar Pong. Jadi lo akan dibawa di dunia nyata dan dunia khayalan Pong. Seru!

Beberapa kali nonton film Thailand, gue rasa yang membuat Thailand unggul dalam filmnya adalah idenya yang luar biasa, ditambah cerita Thailand yang khas. Ditiap filmnya selalu ada kesegaran, selalu ada yang namanya kejutan, dan yang pasti membuat ketagihan. Gue sama sekali ngga ilfeel sama cara bicaranya yang aneh, gue fokus sama cerita dan visual yang ditawarkan.

Dan kalian pasti setuju, kalo selain film, iklan Thailand juga bikin mewek kan? Bener kan?
Yaps, mereka ngga cuma menjual produk, tapi nilai produk itu sendiri. Bayangin aja iklan obat muka bisa dibuatin film. Iklan asuransi udah kayak short movie, atau film dokumenter.

Balik lagi ke May Who?, yang jelas film ini sangat recommended. Nggak kayak FTV yang konfliknya tiap episode sama gitu-gitu aja. Ini jauh lebih seru. 7.8/10 buat Who Who? Yeah!



Sunday, January 17, 2016

Definisi Cinta dalam My Love My Bride

Apa orang tau arti cinta ketika orang membicarakannya?
Butuh berapa banyak cinta untuk mendefinisikan arti cinta?
Kami sering bertengkar setelah musim dingin, lalu…
juga terus mengatakan “Aku mencintaimu”
Aku masih belum mengerti apa arti cinta itu
Tapi, aku ingin mengucapkannya setiap hari.
“Aku mencintaimu, Mi-Young”


Cuplikan monolog diatas adalah ending dari Film Korea, “My Love, My Bride”. Film yang rilis tanggal 8 Oktober 2014 ini, dibintangi oleh artis cantik Shin Min-A dan Oppa kesayangan gue Cho Jung-Soek. Sebetulnya, My Love My Bride adalah remake film dengan judul yang sama di tahun 1990. My Love My Bride, menggakat kisah Young-Min (Jung Soek) dan Mi-Young (Min A) yang baru saja memulai bahtera rumah tangga.


Mi Young seorang guru lukis dan Young Min seorang PNS di pusat pelayanan masyarakat, berkencan pertama kali disebuah kafe dengan cerita yang cukup unik. Ngga diceritain gimana keduanya pertama kali berkenalan. Cuman, pas mereka kencan pertama Mi Young memuji kalo si Young Mi bagus pake baju Sky Blue. Eh ternyata, ada juga seseorang yang dengan baju yang sama dateng ke kafe. Karena malu, Young Min buru-buru ngajak si Mi Young keluarga kafe. Young Mi langsung narik tangan Mi Young. Ya, cewe mana yang ngga baper kalo tangannya dipegang erat.




Bingung yak, namanya bolak-balik gitu. Gue pas nulis agak bingung, tapi pas nonton ngga kerasa sih ternyata nama mereka berdua mirip.

Setelah berpacaran lama, Young Mi pengen ngajak Mi Young nikah. Tapi Mi Young ngiranya, doi bakal diputusin. Kenapa? Soalnya beberapa hari terakhir, sikap Young Mi cuek ke Mi Young. Sebelum memutuskan untuk melamar Mi Young, Young Mi sempet diingetin sama temen gengnya kalo nikah itu ngga enak. Young Mi tetep kukuh yang langsung melamar Mi Young.



Mereka pun akhirnya tinggal berdua. Jangan kaget kalo film ini agak mesum sedikit. As a newly wed, mereka melakukan “nya” kapan pun, dimana pun, dan hampir semua sudut rumah mereka. Kocak sih jadinya. Padahal di karakter drama Korea yang pernah gue tonton, karakter si Jung Soek ngga pernah kayak gini. Mukanya aja polos. Min A apalagi.

Nah ternyata pernikahan itu emang ngga segampang atau sebahagia yang orang pikir. Gue liat ya dari film ini, semua kebiasaan kita bakal kita bagi sama pasangan kita. Mau baik ataupun buruk. Justru banyak kan orang yang setelah menikah baru surprise ternyata pasangannya itu seperti ini, dan itu. Banyak penyesuaian yang harus kita lakukan.

Konflik dalam film ini sebenarnya bertubi-tubi. Sama kayak kehidupan rumah tangga. Cieleh kayak ngerti aja gue. Pokoknya gitulah. Masalah pertama datang pas Young Mi ngajak temen-temennya dateng ke rumah. Yang buat Mi Young yang ngga akrabnya sama temennya, harus berusaha mengakrabkan diri ditambah harus rela rumahnya diberantakin. Selanjutnya masalah kecemburuan, dimana Mi Young yang cemburu dengan rekan kerja Young Mi, sama kayak Young Mi yang cemburu sama junior Mi Young di kampusnya dulu. Lucu. Mereka saling cemburu sama ‘temen’ deket masing-masing.


Yang paling fatal adalah Young Mi beneran mau ‘tidur’ sama temen deketnya itu. Walau akhirnya dia sadar juga sih, apa yang dia lakuin itu ngga masuk akal. Mi Young juga melakukan hal yang sama. Mi Young pergi ke pementasan musikal gitu, buat ketemu cinta pertamanya. Soalnya Mi Young denger kabar, kalo dia pengen balikan lagi. Tapi semua itu cuma gara-gara emosi.


Terakhir, saat Mi Young sakit, Young Mi juga lagi sedih. Penulis sajak yang ngga sengaja Young Mi kenal, dan begitu baik ngajarin Young Mi nulis puisi meninggal dunia. Tak ada satupun dari keluarga kakek penulis itu dateng ke rumah si kakek. Semua buku milik kakek, diwariskan ke Young Mi. Saat sedang itu, Young Mi pulang kan kerumah, istrinya juga sedang sakit. Young Mi males buat denger apa-apa. Mi Young yang liat buku usang tadi, langsung buang buku itu keluar. Alhasil Young Mi marah dan pergi. Eits, ternyata sakit perut Mi Young nambah parah.





Gue bisa bilang cerita ini unik. Soalnya masalah cuma fokus ke rumah tangga Young Mi dan Mi Young beserta kerumitan didalamnya. Ya seperti yang gue bilang tadi, menikah ngga segampang yang orang pikir. Sebagai penonton yang gue liat, konflik itu muncul saat kedua belah pihak ngga mau berkomunikasi. Keduanya salah paham. Tapi gengsi untuk ngalah. Ya akhirnya di film ini, cowok yang ngalah sih. Bukanlah cowok yang salah itu emang kodrat? Haha.

Bukan kayak gitu sih sebenernya, dalam rumah tangga itu ngga perlu ada yang nyari pembenaran menurut apa yang gue paham ya. Padahal mah ngga paham apa-apa. Haha. Intinya itu saling mengerti. Kalo istri yang mendominasi nantinya muncul ‘suami-suami takut istri’, nah kalo suami yang mendominasi nantinya dalam rumah tangganya otoriter, semua keputusan ada ditanggan suami. Yang bagus ini menang bersama. Ya ngga?

Maafkan gue, karena belom berpengalaman dalam pernikahan gue udah sok tahu. Padahal pacar aja belom punya. Mungkin ini yang disebut dewasa dari nonton film. Kabar baiknya, gue ada persiapan nantinya rumah tangga gue bakal gue bawa kayak gimana. Haha.

Balik lagi ke film. Secara visual, gambarnya cukup bagus. Standar drama korea lah, yang tinggat kecerahannya kadang agak berlebihan. Kalo dari cerita juga unik. Cuma mungkin film ini, ada segmentasi khusus yaitu orang dewasa. Soalnya para pemain film bukan aktor atau artis muda kayak di drama Korea. Bukan dengan tingkat ke sok-sweet-an yang berlebihan. Ya emang realitanya kalo elo udah berumah tangga bukan kayak pacaran lagi yang biasa dikasi surprise atau apalah. Justru kita surprise ngeliat ‘oh sebenernya dia itu kayak gini’ gitu. Banyak yang bilang kan, sejak nikah dia ngga romantis lagi atau apalah. Padahal sebenernya yang buat beda, menurut gue itu adalah porsi nikmat itu loh. Kadang saking seringnya berdua, mereka melupakan betapa nikmatnya menghabiskan waktu berdua.


Menurut pengakuan Mi Young, kesalah dalam rumah tangga mereka terjadi karena Young Mi hanya butuh Mi Young saat sedang ingin melakukan seks (maaf) dan mau makan. Dalam atap yang sama, mereka sibuk melakukan kerjaan masing.

Satu pesan lagi yang gue inget dari film ini. Ibu gosip yang tinggal di bawah rumah Mi Young sempet bilang pas mereka masih marahan. Sebenernya yang diinget cewek itu bukan ke cinta pertamanya, tapi lebih ke momen pertama kali saat dia bertemu orang yang dia suka. Begitu. Setelah gue pikir, iya juga ya. Memori yang melekat di otak gue, lebih ke momen pertama yang pernah kita lewati berdua. cieleh, berdua bareng siapa. Haha.

Film ini menurut gue memberi gambaran yang jelas bagi penonton kehidupan seperti apa yang bakal kita temui nanti setelah menikah. Bagaimana cinta didefinisikan dalam sebuah janji yang suci. Bukan untuk menakut-nakuti, cuman ngasi ancang-ancang. Namanya juga membangun rumah tangga, perlu ikhtiar dan doa.



Tuesday, January 12, 2016

DRAMATURGI DOVIMA



Dramaturgi Dovima, novel soal jurnalistik pertama yang gue baca. Yah, walaupun sebernernya lebih banyak porsi dramanya.

Di novel karya Faris Rachman-Hussain ini menceritakan seorang perempuan yang bernama Dovima, dipanggil Vima. Vima adalah seorang calon reporter di majalah terkenal di Indonesia, Kala. Bayangan gue sekelas Tempo kali ya. Gue cerita sedikit, ibu kandung Vima adalah wartawan senior yang sempat bekerja di Kala dan kini menjadi kontributor majalah New York Times dan satulagi gue lupa namanya.

Vima punya pemikiran kritis seperti ibunya, tapi sayang menjadi seorang jurnalis sebenarnya bukan kehendaknya. Itu adalah ambisi sang ibu yang dipaksakan kepada Vima. Vima akhirnya bertemu dengan beberapa orang yang terlibat dalam masa lalu ibunya. Termasuk bertemu ayah kandung yang semenjak berumur 4 tahun telah hilang dari kehidupannya.

Dalam didikan ibunya, Vima tumbuh menjadi dewasa yang keras tapi pendiam. Ia banyak menghabiskan waktu dengan membaca novel. Tapi Vima justru terlibat hubungan dalam hubungan yang kompleks dengan atasannya, seorang sekretaris redaksi di Majalah Kala. Satulagi lelaki yang datang dalam hidup Vima adalah seorang milyader, yang menjadi lawat debat Vima dalam sebuah konfrensi pers, tapi justru tau siapa Vima yang sebenarnya.

Cerita yang cukup menarik, bagi kalian pecinta drama.

Kalo gue sendiri, pertama kali baca gue suka karakter Vima. Seseorang yang dididik dengan keras, akan menjadi pribadi yang tangguh. Hanya saja ia memiliki sebuah dendam pribadi akan masa lalunya. Kadang ia butuh perhatian, kadang ia menyendiri pergi jauh dari kebisingan. Vima hidup sama seperti jurnalis yang lain, yang waktunya dikejar oleh deadline. Gue juga, yang harus pergi pagi pulang mendekati pagi.

Dramaturgi Dovima menyuguhkan sebuah drama masa lalu keluarga Dovima yang ia sendiri ingin lupakan. Mungkin karena itu akan sakit bila dikorek, atau justru dia sudah muak.

Gaya bertutur Faris yang menurut gue ‘biasa’ tidak terlalu membuat pembaca (gue) tegang dan terlarut dalam cerita Vima. Gue sendiri lebih kepada ingin menyelesaikan, bukan karena penasaran dengan isi novel selanjutnya. Gue yang pecinta novel romantis, sebenarnya diawal sempat tertarik dengan konflik yang terjadi antara Vima dan Kafka, seorang milyader yang menjadi lawan Vina saat debat di konferensi pers.

Novel ini juga terkesan terburu-buru, karena gue sendiri hanya menghabiskan 2-3 jam membaca novel setebal 230 halaman. Biasanya kalo gue habis baca, pasti kebayangkan bagaimana ceritanya. Kalo novel ini mah engga. Kalo cerita itu masalah selera sih, mungkin gue ngga suka tapi banyak yang suka apa mau dikata. Seleran kan bisa beda. Kecuali selera makan indomie.

Bagusnya, novel ini bahas soal liputan, angle berita, wawancara, beserta tantangan menjadi seorang jurnalis. Itu sih yang gue butuh. Kerja di televisi yang notabene adalah tv berita, gue rasa pengetahuan itu lumayan dibutuhkan. Soalnya dulu pas kuliah gue jarang baca buku, kecuali skripsi. Gue sampet mikir, andaikan novel itu bisa kayak buku pelajaran. Nah ini, sekarang yang gue baca. Walau ngga banyak sih. Muak juga gue mikirnya, isinya soal jurnalistik semua. Di kantor capek makanannya berita, masa mau menghibur pake berita juga. Adek juga butuh piknik bang.

Yang gue sesalkan lagi itu endingnya. Kenapa harus kenapa.

Cukup buat penasarankah? Haha. Kalo kalian masih beruntung, liat diskonan novel di Gramedia Cuma 10ribuan. Syukur-syukur kalo nemu novel bagus sih.

Terakhir, gue harus dapat pesan dari novel yang gue baca, dan bagusnya gue share. Sama seperti Dovima, gue sendiri punya masa lalu yang tidak semuanya indah. Tapi bukan berarti masa depan juga harus buruk kan. Ada masa suatu ketika lo ngrasa beruntung bisa melewati itu. Dan lebih beruntung lagi dipertemukan dengan masa ‘sulit’ itu.


Diakhir novel Faris menulis, ‘Rekahan senja itu masih miliknya’ yang gue tangkep artinya ia (kita atau siapapun) masih punya celah untuk melihat keindahan dan menjadi bahagia. Ceileh.

Saturday, January 9, 2016

LUPUS ABG


(sumber: google.com)


Masih inget ngga sih sama Lupus? Sinteron yang pernah-begitu-beken di era 90an. Lupus yang karakternya lucu, cerdik dan gaul abis. Gue sendiri tau sinetronnya lebih dulu dibanding bukunya. Pemainnya si Irgi sama Sophie Novita yang cakep pada masanya. Nah kemarin pas diskonan di Gramedia, gue beli satu buku Lupus yang seri “Bukan Sakit Biasa”. Gue mikirnya yah lumayan, di kantor tiap hari dengerin berita, segerin otak sedikit baca Lupus.

Pertama kali baca novel Lupus itu gue kalo ngga salah kelas 1 SMA. Awal masuk dapet kartu perpus gue manfaatkan tuh. Anak baru biasanya emang rajin ke perpus sebelum tau bolos. Seinget gue, dulu pas baca Lupus gue sampe dimarahin nyokap ketawa sendiri di kamar. Mangkanya lah gue mencoba lagi. Hidup itu harus seimbang, nutrisi buat otak itu ngga cuma berita tapi guyonan. Ya tah?

Jadi begini, sama seperti novel-novel Lupus lainnya terutama yang pernah gue baca, itu kayak kumpulan cerpen yang tokoh utamanya Lupus. Jadi setiap satu plot itu, nyeritain hal lucu bahkan konyol yang dilakukan oleh si Lupusnya ini. Ceritanya bisa nyambung bisa ngga, dari plot yang satu ke yang lain. Yang pasti dalam cerita pasti ada, adeknya si Lupus, mamanya, papanya sama temen-temen Lupus yang ngga karuan. Eh kok ngga karuan? Yah namanya juga anak SMP. Jadi ada yang alay dan ngeselin itu wajar. Haha. Dalam novel ini, diceritain kalo si Lupusnya pas SMP.

Judulnya, “Bukan Sakit Biasa” ini tuh diambil dari kisah pertama di Novel ini. Kalo gue ceritain dikit, jadi si mamanya Lupus lagi sakit. Nah bokapnya yang sok tau dan super pelit itu buatin ramuan karena dia mikirnya pasti mahal kalo dibawa ke dokter. Protes lah si Lupus dan adeknya. Tapi ngga digubris sama bapaknya. Sampe lah sakit mamanya makin parah dan harus dirawat di rumah sakit. Nyesel kan bapaknya Lupus kalo dari awal bawa ke dokter pasti ngga parah. Lucunya, karena gengsi kalo ada yang jengukin mama Lupus temen kantornya papa, makanya papa Lupus masukin mamanya ke kamar yang kelaasnya VIP.  Yang nungguin dan yang dateng sih seneng, papanya Lupus yang lempeyangan bayar biaya rumah sakit. Alhasil, si mama sembuh papa Lupus yang gilirannya sakit.

Sebenernya kalo boleh bilang, ceritanya sederhana sih tapi lelucon dari celetukan Lupus yang kadang buat ketawa. Dan emang ada juga sih yang agak garing. Sense of humor masing-masing orang beda kan. Gue paham. Tapi ada lelucon yang udah ngga lucu di era sekarang dan mungkin dulu lucu, ada juga yang ngga masuk akal. Tapi dibanding semua itu, ceritanya lumayan lah buat pelarian dari berita tv yang isinya kalo engga korupsi ya politik. Heran, apa mereka sengaja buat kasus ya biar masuk tv. Atau emang tv yang suka nyari-nyari berita. Lah kan emang.

Cerita Lupus kayak gini menurut gue cocok dibaca sama anak SMP atau SMA yang sekarang udah ngga bisa lepas dari gadget. Kenapa? Selain lelucon yang agak garing, Hilman Hariwijaya dan Boim Lebom juga nyelipin pesan-pesan moral yang harusnya ditujukan buat anak jaman sekarang. Misalnya pas Pak Guru butuh bantuan Lupus biar perpustakaan bisa rame, dari ilustrasi bukunya ada tulisan “Sedia Kunci Jawaban UN”. Coba renungkan apa maksudnya.

Bukunya ngga terlalu tebel, dibaca semalem juga beres. Covernya juga lucu, dengan kualitas kertas yang bagus, ditambah harga miring. Didalemnya juga ada banyak tips buat yang baca, termasuk tips percaya diri, yang pas lo baca pasti, “aah”. Gitu deh. Haha.

Lupus juga pinter buat surat cinta. Di salah satu cerita ada sajak yang karya Lupus buat gebetannya. Sederhana, tapi menyentuh. Yaa, kayak puisi pas lo baru belajar nulis puisi lah. Kalo kata anak sekarang modus, tapi dulu namanya romantis.


Oke, sekian review novel Lupus dari gue. Singkat ya? Jujur gue beres baca novel Lupus lebih dari seminggu yang lalu dan gue baru sempet nulis reviewnya sekarang. Jadilah itu cerita dan ide mau nulis apa lenyap. Dari Lupus gue belajar ngga boleh pelit kayak papi, ngga boleh centil kayak Lulu adeknya Lupus, ngga boleh cerewet mami, tapi harus kayak Lupus yang apa adanya.

Friday, November 20, 2015

Gimana Rasanya kalo Film Kita Ditonton?

Jaman SMA, gue pernah ikut ngumpul di aula nonton film yang dibuat sama temen gue sendiri. Gue inget banget, ada tiga film yang di puter waktu itu. Kesemuanya adalah film dokumenter. Asing banget denger kata ‘dokumenter’. Ya gimana, gue bukan penggiat film waktu itu. Film-film karya temen gue itu akan di lombakan, di tingkat nasional. Keren kan? Trus gue bayangin, gimana ya rasanya film yang kita buat di tonton orang banyak dan dapet tepuk tangan.

Wah, bangganya minta ampun.

Tapi besoknya gue lupa, gue pernah nghayalin itu.

Sekarang, setelah masuk di jurusan Ilmu Komunikasi, gue banyak belajar tentang produksi program acara, termasuk film. Dari sinilah gue beberapa kali membuat film, ya..cuma tugas kampus biasa. Lama-kelamaan gue jadi suka nonton film. Dan lingkungan mendukung itu. Gue sadar memproduksi film sangat tidak mudah. Dan punya pengalaman buat beberapa film apalagi hanya tugas kuliah, belum bisa bikin kita disebut film maker. Apalagi pengetahuan film gue yang sangat amat masih cetek.

Pernah dateng ke salah satu diskusi film, itupun karna gue diminta tolong hadir soalnya film yang kita garap menang di salah satu kompetisi film nasional. Waktu itu turut hadir, Mas Harris, sutradara film Surat Untuk Tuhan. Mas Harris bilang, buat film itu pekerjan yang paling menyenangkan. Kenapa? Karena di setiap kalian memproduksi film, kalian belajar banyak hal baru. Misalnya saja, saat produksi film A, kalian pasti riset, nyari tau, bahkan harus tau banyak tentang apa yang akan kalian sampaikan pada penonton nantinya. Setelah itu kalian buat film B, di film B kalian juga menjadi orang baru lagi. Mencari tau dan menjadi tau.

Ini sangat masuk akal.

Saat terlibat langsung dalam produksi film dokumenter ‘Longser’ gue belajar banyak soal teater tradisional Sunda yang mulai ditinggalkan. Munculnya pembaharuan, dengan adanya Longser gaul agar supaya budaya ‘Longser’ tidak hilang di jaman modern. Setelah itu, gue ikut jadi kru film Opor Operan. Gue belajar tentang budaya Sunda (lagi) yang dimana saat lebaran menukar makanan. Ini adalah bentuk tradisi tradisional yang masih ada sampe sekarang. Setiap film yang kalian buat, ada hal baru yang harus dipelajari. Setiap film yang kalian tonton ada pengetahuan baru yang kalian dapat. Gue bukan pengamat film, kritikus film, atau wartawan majalah film kayak temen gue. Gue cuma penikmat film, ya suka film karena memang suka.

Sekarang, khayalan yang pernah mampir di otak gue jadi nyata. Salah satu film kami (Sebelas Sinema) yang berjudul ‘Opor Operan’ dan ‘Ojo Sok-sokan’ akan di puter di Blitz BEC di Bandung. Sebuah kebanggan atas kerja keras tim dan semangat yang terus menyala. Opor Operan sempat meraih Best Editing dan Best Skenario di ajang BCA Shovia 2015, beberapa minggu yang lalu. Dan kami memutuskan film ini harus ditonton. Kepuasan yang terbesar bagi pembuat film bukan saat filmnya mendapat penghargaan, karna itu cuma bonus, tapi film lo bisa di tonton. Kepuasan yang tak ternilai harganya.


Mengalami proses panjang dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi, kami yang tergabung dalam kru film masih membawa semangat yang sama. Semangat untuk terus berkarya, dan semoga film kami dapat menginspirasi. 

Opor Operan
Menceritakan tradisi masyarakat Sunda, yang sebelum lebaran saling menukar makanan, Opor. Setting film di daerah Cisarua (ke arah Lembang naik lagi atau bisa lewat Cimahi). Disutradari oleh Mustafa dan skenario dari Ryan Sindu Pradana. Film ini sangat kuat akan nilai budaya masyarakat Sunda.




Ojo Sok-sokan
Masih ngga jauh-jauh dari budaya, Ojo Sok-sokan menceritan bagaimana seharusnya kita bangga menggunakan bahasa daerah. Sepele namun dampaknya besar. Bahasa adalah alat berkomunikasi. Bahasa adalah refleksi diri. Jangan malu berbahasa daerah, cuma karena kalian ingin terlihat keren. Kali ini skenario ditulis oleh Wiwid Septiyardi, dan masih disutradarai oleh Mustafa.

Dan gue? Nonton film penuhnya. Liat di credit gue sebagai apa. Biasakan nonton film sampe credit titlenya abis ya. :))







Datang dan Saksikan!


Tuesday, December 9, 2014

13 Romansa

Identitas Buku
Judul Buku       : Autumn Once More (kumpulan cerpen Metropop)
Penyunting      : Tim Editor GPU
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : 3, Mei 2013
Tebal               : 232 halaman (20cm)


“Aku tahu, aku masih saja langit yang tersayat-sayat itu, tapi langit ini tidak akan pernah memiliki senja yang sempurna disebelah baratnya, sebab mataharinya telah pergi, menyongsong hujan”.
(hal 216)

Autumn Once More adalah kumpulan cerpen dari tumpahan rasa dan obsensi karya AliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan. Buku setebal 232 halaman ini berisi 13 cerpen romantik dengan gaya bahasa nyentrik. Masing-masing penulis memiliki pandangan terhadap cinta yang ia rasakan. Konyol, serius, tragis, romantis, dan dan berbagai rasa atas kisah cinta yang mungkin pernah dialami siapapun di bumi ini.

Saya tertarik dengan salah satu cerpen dalam buku ini yang berjudul, Senja yang Sempurna oleh Rosi L. Simamora. Berkisah seorang lelaki dengan kegundahan dan ketidakpercayaannya akan cinta justru perlahan mulai memahami cinta yang tumbuh dihatinya. Seorang wanita yang dulu dengan ‘gila’ mencintainya, namun ia siakan. Wanita tersebut sangat menyukai senja. Senja adalah ‘kami’ katanya pada laki-laki itu, aku langit dan kau matahari. Sang gadis selalu menyediakan senja yang indah untuk bisa berdua dengan laki-laki itu. Namun, saat sang gadis menyatakan perasaannya kepada laki-laki yang ia suka, ternyata laki-laki itu sama sekali tidak menerima cinta yang tumbuh diantara mereka berdua. Mungkin bukan berdua, tapi dalam diri sang gadis.
Dengan tegar, gadis itu akhirnya bisa menerima bahwa selama ini yang ia lakukan hanya untuk seorang teman, yang tanpa melihat rasa lain yang tumbuh. Gadis itu lalu pergi, tak peduli akan senja lagi.
Laki-laki itu mulai kehilangan. Kehilangan sosok yang ternyata ia butuhkan dalam menyelamatkan hatinya yang selalu kacau. Lalu setelah beberapa tahun, ia menghubungi gadis itu lagi untuk bertemu. Laki-laki itu kini yakin, bahwa rasa dalam dirinya adalah cinta. Cinta yang dulu ia ingkari. Tapi belum terlambat, pikir laki-laki itu. Ia memesan senja yang indah, senja yang sempurna untuk mengatakan itu.
Mereka bertemu, bertemu dalam senja. Singkat, lelaki itu menyatakan perasaannya kepada sang gadis. Tapi apadaya, gadis itu kini tidak lagi menyukai senja. Iya justru memilih hujan. Gadis itu menemukan seorang lelaki tersemat pelangi yang indah, setelah hujan. Penyesalan memang menjadi akhir sebuah cerita yang tak berakhir manis. Laki-laki tadi menelan kekecewaan yang teramat dalam. Membiarkan seorang wanita yang dulu tulus mencintainya kini pergi. Adakah yang lebih sakit dari ini?

Cerpen-cerpen lain, yang terdapat dalam buku ini juga tidak kalah menariknya. Seperti yang saya katakan diawal, semua penulis menorehkan kisah cinta dengan rasa berbeda. Kita cukup duduk, membaca, tersenyum, tertawa atau sesekali menangis. Misalnya dalam cerita pendek, Love is a Verb karya Meilia Kusumadewi yang menceritakan dilema wanita masa kini. Perkara like atau love media sosial yang menjadi masalah besar. Seorang wanita seperti ini dipertemukan dengan lelaki super cuek. Hinggu timbulah perang dunia. Konyol sih, tapi endingnya begitu romantis.

Entahlah, jika saya ceritakan semua cerita pendek dalam buku ini mungkin kalian tidak akan membacanya. Tapi saya yakin, setelah kalian membaca buku ini kalian pasti akan membayangkan cerita yang samakah terjadi dengan diri kalian sendiri. Atau mungkin ini Cuma anggapa saya.

Judul buku diambil dari salah satu judul cerita pendek dari Ilana Tan, Autumn One More. Cover buku yang cantik, serta kertas yang cukup tebal salah satu kelebihan buku dibanding ceritanya. Kelebihan lainnya adalah, kalian akan disuguhkan cerita dari banyak penulis terkenal dibawah naungan penerbit Gramedia. Ada 13 cerpen yang akan menambah cerita cinta kalian.
Tapi bagi kalian yang tidak menyukai sastra pendek, dengan ending yang ngatung disarankan untuk tidak membaca buku ini. Daripada kalian harus mengumpat dalam hati. Bahasa yang digunakan juga tidak sama antara penulis satu dengan yang lain. Ada penulis yang begitu indah melukiskan cerita, ada juga yang secara explisit mengungkapan maksudnya. Semua itu masalah selera. Sah-sah saja bagaimana penulis menyampaikan ceritanya kepada pembaca.
Tapi satu yang harus kalian ingat, semua royalti buku ini akan disumbangkan ke Dana Kemanusiaan Kompas untuk membantu saudara kita yang membutuhkan.


Jadi, bagi kalian yang mungkin belum pernah membeli sekumpulan kisah romantis dalam sebuah buku sekaligus bederma, inilah saatnya.

Saturday, November 29, 2014

Cinta Tiga SKS

Tok..tok..tok. Seorang wanita muda masuk ke ruang kelas memakai kaos hitam dengan celana jins ditambah sepatu converse putih dan tas jinjing di lengan kirinya. Dari mukanya terlihat sekali ia baru bangun 10 menit yang lalu. Mungkin hanya sempat mencuci muka dan sikat gigi. Rambutnya yang sebahu di gerai sembarang dengan hasil sisiran yang terkesan sekedar. Dosen tidak terlalu memperhatikan langkahnya memasuki ruangan. Iya sedang sibuk menjelaskan metode penulisan Advertorial untuk iklan radio. Wanita berjalan pelan sambil berkata permisi kepada teman-temannya yang sudah duduk dikelas lebih dulu.
Sebuah kursi kosong terletak di paling belakang. Langkah wanita tadi menuju ke arah kursi. Sambil mengatur nafas, ia lalu duduk.
“telat bangun lagi?” tanya wanita yang duduk disebalahnya.
“iyaa nih Wil. Lo kok ngga bangunin gue si?!” keluh wanita itu kesal.
“hey, gue uda telpon Lo ya Nin. Siapa suruh hp lo mati” Wilda ngomel sambil berbisik.
“hah....” Nindi menarik nafas panjang.
Ini pertama kalinya Nindi masuk kelas Copywriting. Karena dipertemuan pertama ia memakai jatah bolosnya untuk berlama-lama di kampung halaman. Nindi memang dikenal ngga bisa bangun pagi. Di semester lalu saja, beberapa matakuliah ia hampir skip 3 kali hanya karna telat bangun. Dan sekarang, ia lagi lagi harus berhadapan dengan matakuliah Copywriting jam 7 pagi di tiap hari Selasa. Ini musibah.
Sebelum menginput matakuliah ini diawal semester, ia sempat protes kenapa kampus tidak berpihak ke mahasiswa senior disini. Mahasiswa semester 5 keatas itu harus dimanjain, salah satunya dengan meniadakan kuliah pagi, celotehnya dulu. Ia juga sering meminta tolong kepada sahabatnya, Wilda untuk membangunkannya di hari Selasa. Tapi ya gini hasilnya, kalo ngga diangkat pasti hp nya mati.
“dari tadi ngapain aja? Ini si dosen jelasin apa? Gue ngga ngerti” tanyanya ke Wilda.
“iiihh makanya jangan telat. Udah dengerin dulu aja” jawab Wilda kesal.
Nindi masang muka cemberut sambil memaksakan matanya tetap terbuka. Ia baru tidur subuh tadi, hanya tiga jam.
“iya sekarang tugas minggu lalu bisa dikumpulkan” perintah Pak Rofi dari depan kelas.
“Nin, tugas lo mana?” tanya Wilda.
“untung gue inget ngerjain semalem. Nih..!” jawab Nindi sambil menyetorkan tugasnya ke Wilda.
“ini langkah sebelum tidur apa cerpen si? Panjang amat” protes Wilda.
“kan gue ngga masuk. ya mana gue tau kalo tugasnya cuma di suruh langkah-langkah doang” Nindi membela diri.
“emang bakat ngarang lo” coleteh Wilda sambil ngumpulin tugas temen-temennya yang lain.
“Nin, tolong kasiin ke Wilda dong” tiba-tiba terdengar suara cowok di sebelah Ninda.
Ia lalu menoleh.
“Aryo? Lu di kelas ini juga?” tanya Nindi kaget sambil mengambil kertas tugas Aryo.
“iya. Kan pengen liat kamu” jawab Aryo sambil senyum-senyum.
“masih aja suka gombal” jawan Nindi ketus.
Aryo sempat sekelas bareng Ninda di semester dua. Walau tidak terlalu deket, Nindi mengenal baik Aryo. Beberapa kali mereka sempat sekolompok bareng. Dan kebiasaan Aryo yang ngga Nindi lupain adalah suka ngengombal. Bukan Cuma Nindi, Aryo sering banget ngombalin cewek-cewek lain. Padahal tampangnya yaa lumayan, terus keliatan polos. Yang belom kenal pasti ngga nyangka cowok ini suka ngombal kalo diliat dari tampangnya. Dan Nindi? Ngga kalah sama Aryo, Nindi juga sering ngombalin cowok-cowok. Hobi ngombalnya ini katanya cuma iseng, atau emansipasi. Masa yang ngombal cuma cowo, kata Nindi dulu. Kalo cowok cuma anggep bercanda, ya ngga apa-apa. Nah kalo serius? Nindi uda berkali-kali ‘terjebak’ karena hobinya yang konyol. Ini yang buat mereka berdua nyambung kalo ngobrol. Yang cowoknya ngengombal, ceweknya juga bales. Klop.
“eh yo, apa kabar lo? Lama ngga sekelas” tanya Nindi.
“baik gue. Lo juga ngga pernah keliatan, gue kira lo ngga ambil matakuliah ini” jawab Aryo sambil sesekali melihat dosen.
“iya kan kita beda konsentrasi pak, mau banget sekelas bareng terus?” goda Nindi.
Aryo noleh ke arah Nindi, sambil tersenyum kecil. Mereka berdua lalu tertawa bersamaan.
“kalian ini ya, emang agak-agak” tiba-tiba Wilda ikut nimbrung.
Pak Rofi menyebutkan nama mahasiswa satu persatu setelah mengoreksi tugas yang dikumpulin.
“Nindi Mareta” panggil Pak rofi.
“iya pak” jawab Nindi refleks.
“ini kamu buat langkah-langkah sebelum tidur apa cerita sebelum tidur. Uda kayak cerpen aja” katanya.
“tuh kan” cibir Wilda.
“ust. Iya pak saya ngga ngerti tugasnya” Nindi beralasan.
“lo si ngga ngasi tau yang dibuat cuma langkah-langkah” protesnya ke Wilda.
“yee, lo nya aja yang ngga denger pas gue kasi tau” Wilda ngga mau kalah.
“yaudah, lain kali gue yang ingetin” kata Aryo.
“aaa Aryooo...” jawab Nindi sok manja.
“mulai deh mulaii” oceh Wilda.
Nindi dan Aryo ketawa dengan suara pelan.
“kelas sudah sampe disini, jangan lupa tugas dikumpul minggu depan” kata Pak Rofi.
“iyaa pakkk” jawab anak-anak riuh.
“eh prim buru, kita ada kelas lagi” ajak Wilda.
“iyeee sabar. Yo gue duluan ya” sambil menepuk bahu Aryo.
“eeh iya Nin” jawab Aryo sambil menulis tugas yang Pak Rofi kasi tau tadi.
***
Lagi-lagi Nindi telat memasuki kelas. Namun hari ini setidaknya ngga separah minggu lalu. Hanya telat berapa belas menit. Dan kembali Nindi dapet tempat duduk di sebelah Aryo. Aryo memang hebat, ngga pernah telat masuk kelas walaupun jam 7 pagi bisik Nindi dalam hati.
Seperti minggu sebelumnya, Pak Rofi menjelaskan materi di depan kelas tanpa menggunakan microsoft power point. Yang paling mahasiswa di kelas ini bingungkan adalah cuma ini dosen yang jelasin materi tanpa bantuan power point. Pak Rofi bukan dosen yang jenius, dia hanya suka bercerita kepada mahasiswanya. Kalo menurut Nindi, dia hanya menyombong. Dan Nindi juga pernah bilang ke Wilda sahabatnya, kalo Pak Rofi itu sebenernya gaptek.
“Wil...”
“eeh..” tanpa memalingkan muka ke arah Nindi.
“jangan sok ngerti deh” kata Nindi ketus.
“kenapa lo?” tanya Wilda.
“Bang Bimo, anak 2010 bilang kalo Pak Rofi sampe akhir semester pun ngga pernah pake power point tau” ungkap Nindi.
“serius lo?” Wilda menoleh ke arah Nindi.
“iya, bener kan yang gue bilang. Doi itu ngga bisa make laptop. Ngakunya doang copywriter” jelas Nindi.
“ngga boleh gitu ih. Dengerin bapaknya aja, ngga usah ribut” protes Wilda.
“errrrr....”
“gue dengerin kok Nin” tiba-tiba Aryo nimbrung.
“ah lo, pasti nguping dari tadi”.
“siapa tau, elo ngomongin gue” ungkap Aryo sambil menahan tawa.
“Yo, jadi ngga cukup telpon-telponan kita semalem” Nindi mulai menggoda.
“ya ngga lah. Masih kangen tau” Aryo malah menjadi-jadi.
“eemm” Nindi menyenggol bahu Aryo.
Setiap Nindi melayangkan pertanyaan ke Aryo, pasti ditanggepin pake gombalan sama si Aryo. Gimana Wilda ngga gregetan dengernya.
“eh kok tulisan lo makin jelek yo? Haha” ledek Nindi.
“buat apa tulisan bagus, kalo hati gue aja uda bisa lo baca” jawab Aryo.
“omigod, plis gue meting yo”.
“kayaknya kalian emang serasi deh” tiba-tiba Nina ikut nimbrung.
“bener na, tinggal di tembak aja nih si Nindi” cerocos Wilda kesal.
“yauda, tunggu apa yo. Ayo jadian aja” Nina mengompori Aryo.
“apaaan si” ungkap Nindi malu-malu.
“kita itu emang uda deket. uda lebih dari pacar” jawab Aryo.
Dan, cuma gara-gara ngomong beginian. Wilda dan Nina resmi menganggap Nindi dan Aryo pacaran. Mereka bertriak-triak di dalam kelas saat matakuliah selesai kepada mahasiswa lain untuk menangin PJ pada Aryo dan Nindi. Jelas saja, suasana kelas semakin gaduh. Dan tak disangka-sangka. Mahasiswa lain, menyalami lelucon yang di buat Wilda. Walaupun Aryo menganggap ini bercandaan, Nindi punya rasa yang berbeda ternyata.
***
Cewek mana si yang kalo diperhatiin cowok ngga tiba-tiba jadi jatuh cinta? Atau digombalin tiap ketemu. Tepatnya di tiap menit pertemuan mereka. Walau Nindi tau Aryo tidak serius, tapi ada hal yang melintas dipikirannya. Oke, kali ini Nindi akhirnya terjebak dalam keadaan yang biasanya ia buat sendiri dengan gombalan-gombalannya ke temem lelakinya.
“bengong aja” Aryo sambil menyenggol lengan Nindi dikelas.
“lu gangguin gue aja” jawab Nindi.
“oh ini ganggu? Lo anggep gue apa prim...” ungkap Aryo.
Yo, kalo gue jadi beneran jatuh cinta sama lo gimana? Tanya Nindi dalam hati sambil memandang Aryo dalam.
“aa warkop depan kosan” jawab Nindi sambil membalikan pandangan kembali ke depan kelas.
“tega benerrr dah” nada Aryo agak kecewa, tapi dengan tertawa.
Dan semenjak gosip kita pacaran menyebar, temen-temen Nindi dan Aryo di kelas ini seakan merencanakan kita biar duduk terus berdampingan. Entahlah apa yang ada dipikiran mereka, kadang Nindi memikirkan itu.
Sampe akhirnya, kejailan Wilda berujung. Aarrgh.
“..........selfie yok Nin” tiba-tiba obrolan Nindi dan Aryo mengarah kesitu.
“pake hape lo aja, hp gue butut ngga bisa selfie” jawab Nindi serius, walaupun dia sangat tau Aryo cuma basa-basi.
“yaelah ribet amat. Mana hape lo?!” Wilda lalu berinisiatif mengambil hape Nindi.
Pelak! Aryo dengan sok cool, memegang bahu Nindi dari belakang. Klik!
“bntar ya prim” kata Wilda.
“mau apa loh? Eeh!” Wilda masih sibuk memainkan hape Nindi.
“nih gue balikin” jawab Wilda singkat.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba seorang yang duduk di depan Nindi menoleh ke belakang.
“Nin mesra banget” ungkap seorang mahasiswa kepada Nindi.
“apaan?” tanya Nindi ngga ngerti.
“nih!” dia lalu menyodorkan hape pada Nindi.
“Wilda kampreeeeettttt” Nindi setengah berteriak dengan muka kesal.
“go publik lah” kata Wilda enteng.
“sialan lu” jawab Nindi kesal.
“udah si Nin, biarin aja” Aryo angkat bicara.
“lo lagi” Nindi mulai pasrah.
“lah kan ini cuma candaan” kata Aryo lagi.
Lo ngga tau perasaan gue? Semakin ini menjadi-jadi semakin gue menggangap ini serius. Bisik Nindi dalam hati.
“iya juga si” jawabnya pada Aryo.
***
Baru sebentar foto itu di post di Line, udah banyak mahasiswa yang mengenal mereka berdua berkomentar. Banyak yang kaget, dan sebagian justru menuntut PJ. Dimana pun mahasiswa lain melihat Nindi, pasti mereka menanyakan kebenaran gosip ini. Dan PJ tak kalah penting.
Ini minggu kesekian kalinya setelah gosip mereka berdua jadian dan tersebarnya foto seronok itu. Hingga akhirnya mereka memilih untuk menikmati ini. Aryo khusunya. Karena Nindi masih didera perasaan-perasaan yang tidak pasti.
“beb...sini duduk” Aryo memanggil Nindi saat Nindi baru memasuki kelas.
“Cieeeeee” ledek mahasiswa lain.
“Iya beb” Nindi mulai pasrah.
“Cieee uda pake bebeb, bebeban” ungkap Wilda.
“iyaaa dong” jawab Aryo bangga.
Nindi tertunduk lesu. Pikirannya berkecamuk.
“kenapa gue yang ngga bisa menikmati ini dengan biasa. Kenapa cewek terlahir dengan sensitivitas yang berlebihan. Ini hubungan yang ngga serius, jadi jangan pernah berpikiri ini akan menjadi serius” Nindi mencoba menekankan hal itu dalam pikirannya.
Kecanggungan Nindi dan ke-nikmat-an Aryo berlangsung hingga Ujian Tengah semester berakhir.
***
Setelah memasuki pertemuan matakuliah copywriting pasca uts, keadaan mungkin bisa dikatakan berubah perlahan. Di minggu-minggu pertemuan ke tiga setelah UTS, dia dan Aryo ngga dapet kesempatan untuk duduk bersebelahan lagi. Ini gara-gara kebiasaan Nindi yang ngga bisa bangun pagi ngga pernah ilang. Bedanya, mungkin kini temannya bosan menyediakan tempat duduk kosong di sebelah Aryo. Atau Aryo yang mulai bosan. Aaah, plis jangan kemungkinan kedua. Batin Nindi mulai berkonflik.
“Gue cukup kecewa kalo hubungan kita yang ternyata emang ngga serius. Karena ya emang, kita ngga pernah saling kontak selain dikelas. Tapi jangan sampai gue lebih kecewa karena gue tau, hubungan candaan kita juga tidak berjalas mulus” banyak pertanyaan muncul dibenak Nindi.
Materi perkuliahan hari ini hanya pembagian kelompok lalu membuat konsep untuk pembuatan poster. Satu kelompok beranggotakan lima orang. Wilda yang berperan aktif menentukan siapa aja yang mau jadi anggota kelompoknya. Jelas aja Nindi yang pertama. Hingga terkumpulah lima orang kedalam kelompoknya, termasuk Aryo. Nindi menarik nafas panjang, tau kalo Aryo juga jadi bagian tugas kelompoknya. Ntah kenapa, Nindi ingin menjauhi Aryo perlahan.
Beberapa minggu selanjutnya mereka mempresentasikan konsep poster di depan kelas. Topik yang ditugaskan dalam poster kali ini “Jangan Merokok”. Konsep poster yang mereka terangkan adalah ide dari Aryo. Dalam poster yang berukuran A3 itu terdapat gambar tangan seseorang memegang rokok masih menyala. Rokok itu akan dimatikan diatas asbak berbentuk paru-paru. Dengan background berwarna gelap. Kalo kata Aryo sih, semakin sering rokok dikonsumsi semakin cepat paru-paru akan rusak seperti halnya asbak yang selalu menjadi sasaran rokok.
Walau ide ini cukup bagus, Nindi sama sekali tidak tertarik. Seandainya aja ia punya ide lebih bagus, pasti iya akan menolak ide Aryo. Kebencian Nindi pada Aryo seakan menjadi-jadi saat mereka uda ngga pernah duduk bersebelahan lagi.
“jika konsep posternya seperti ini, target masyarakat yang mana yang akan anda sasar?” tanya seorang mahasiswi pada kelompok kami.
Semua mata menoleh ke arah Nindi, mereka seakan memasang kode agar Nindi menjawab pertanyaan itu. Ya mau gimana, dari tadi Nindi belum dapet giliran menjawab soal.
“iya, semua kalangan. Lagian maksud poster dan pesannya gampang dicerna. Ditempel dimana aja bisa. Dibelakang pintu toilet juga bisa. Iya kan yo?” jawab Nindi ngga serius. Semua anggota kelompok menoleh kearah Nindi dengan mata melotot.
“bener kata Nindi tadi, kita berusaha membuat poster ini sesederhana mungkin agar semua kalangan bisa menangkap pesannya. Apalagi yang kita ketahui, masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi rokok tidak lagi dari kalangan menengah atas justru lebih banyak menengah bawah” jawab Aryo menimpali Nindi yang terlihat ngga ambil pusing dengan jawabannya tadi. Mahasiswa yang mendengar jawabannya Aryo hanya manggut-manggut termasuk mahasiswi yang bertanya tadi.
“lo kenapa si?” tanya Wilda pada Nindi.
“tau ah gelap” jawab Nindi singkat.
Setelah mereka kembali ke tempat duduk, Aryo memandang Nindi dari kejauhan. Melihat keanehan tingkah Nindi yang dirasa akhir-akhir ini. Nindi yang merasa diperhatikan menoleh kearah Aryo, lalu memalingkan muka tanpa berekspresi apapun.
Lama-kelamaan Nindi menjadi males masuk kelas Copywriting. Ia hanya ingin menghindari Aryo. Menghindari perasaan-perasaan yang tadinya muncul akibat rayuan Aryo. Dan sejauh ini yang ia tahu itu semua emang sekedar main-main.
Hingga dipertemuan terakhir matakuliah ini karena minggu depan akan berlangsung UAS, Nindi masih ngga bisa menyembunyikan kekesalannya sekaligus kekecewaannya pada Aryo. Saat Nindi masuk kelas, dan matakuliah telah dimulai hanya ada satu kursi tersisa disebelah Aryo. Wilda melirik kearahnya sambil tersenyum. Ia memberi kode pada Nindi untuk duduk disebelah Aryo di pertemuan terakhir ini.
Tanpa pikir panjang Nindi menarik kursi itu lalu meyeretnya di deretan bangku depan. Semua anak menoleh kearah Nindi. Selain karena suara kursi yang menganggu seisi kelas, mereka melihat Nindi dulu selalu dekat Aryo kini justru terkesan jijik duduk berdekatan.
“Maaf pak” kata Nindy melihat Pak Rofi yang juga menoleh kearahnya.
Aryo menoleh kearah Wilda dengan muka bertanya-tanya. Lalu wilda mengangkat bahunya. Aryo mulai membenarkan firasatnya melihat tingkah Nindi yang akhir-akhir ini mulai jutek kepadanya.
“bubar kelas, gue harus ngomong sama dia” ungkapnya dalam hati.
15 menit sebelum matakuliah berakhir, Pak rofi membubarkan kelas dengan ucapan selamat menempuh UAS dan tentunya doa agar ngga sampe mengulang matakuliah ini. Satu persatu anak keluar kelas. Nindi masih ngobrol dengan Pak Rofi karena ia telat mengumpulkan tugasnya ke email kelas. Aryo sengaja nungguin Nindi. Mumpung kelas uda sepi.
Saat Nindi telah menyelesaikan urusannya dengan Pak Rofi, ia menuju ke tempat duduknya melihat ada Aryo yang duduk disitu. Pak Rofi berpamitan keluar.
“minggir. Gue mau ambil tas” kata Nindi ketus.
“bentar. Lo marah sama gue?” tanya Aryo.
“ngga, ngapain” Nindi masih ketus.
“Bohong. Kenapa ngindar kalo gitu”.
“terserah gue dong”
“pasti ada alesan untuk jawaban terserah”
“ngga”
“Nin...”
“gue kesel. Gue kesel kenapa lo dulu baik sama gue. Ngrayu gue. Ngombalin. Manggil bebeb. Trus ilang. Udah gitu ada” Nindi jawab pertanyaan Aryo dengan emosi.
Sambil maksain ketawa, Aryo narik tangan Nindi agar wajahnya lebih dekat dengan Aryo yang sedang duduk didepannya.
“itu yang lo lakuin dulu ke gue” jawab Aryo lalu melepaskan genggaman tangan Nindi dan pergi keluar kelas.
“hah. Oke gue kena karma” kata Nindi dalam hati.
***
Akhirnya UAS berlangsung. Pak Rofi ngasi dua soal sesuai dengan kisi-kisi yang ia kasi. Aryo nyelesaiin jawabannya dengat cepat. Setelah nyetor lembar jawaban ke pengawas, Aryo lalu mengambil tas didepan kelas. Ia berjalan pelan, kemudian berhenti sejenak didepan kursi Nindi. Tanpa diliat pengawas, Aryo menaruh kertas diatas meja Nindi lalu pergi.
Takut dikira kertas contekan, Nindi milirik kanan kiri biar ngga ada yang ngeliatin. Rasa penasarannya lebih besar dibanding ketakutannya ditangkap pengawas. Perlahan ia membuka kertas itu. Dalam hati ia membaca tulisannya.
Semoga semester depan kita ngga cuma ketemu tiga sks. Aryo.