Saturday, December 5, 2015

Production Development Program (PDP) Part 1

Selama kurang lebih 2 bulan nganggur, setelah sidang akademik, akhirnya gue keterima di salah satu stasiun televisi nasional. Semenjak masuk kuliah dan milih konsentrasi broadcasting, gue udah pengen bisa kerja di TV. Di tambah tugas-tugas kuliah yang mempersiapkan gu (dan mahasiswa lain) buat siap kerja di media. Dan tepat tanggal 2 November 2015, gue mulai kerja di Metro TV.

Sebelum gue masuk dan jadi karyawan resmi, gue ikut beberapa tahap seleksi yang lumayan merepotkan, karena gue harus bolak-balik Bandung-Jakarta. Tapi itu ngga sia-sia, karena akhirnya gue keterima. Selama masa seleksi itu, gue nyoba browsing soal tahap-tahap seleksi di Metro TV. Baca-baca blog orang yang dikit banget referensinya. Padahal sharing pengelaman di blog lumayan membantu persiapan sebelum kita ikut seleksi nyari kerja. Nah sekarang, karena kemaren gue terbantu dengan pengalaman orang yang ditulis di blog, walau cuma sedikit, gue mau bagi cerita bagaimana proses dan tahap-tahap seleksi ‘Production Development Program (PDP)’ di Metro TV.

Apa sih PDP itu?
PDP atau Production Development Program adalah suatu program yang dipersiapkan untuk mendidik karyawan baru di bidang atau divisi produksi. Program ini itu setara dengan Management Training  di perusahaan biasa, cuma istilahnya beda. Fokus PDP ini adalah keahlian di bidang memproduksi sebuah program televisi. Ya, diharapkan nantinya pelamar yang terpilih program ini adalah calon-calon produser di masa depan. Yang lolos program PDP ini memang dipersiapkan oleh Metro TV menjadi seorang produser. Maka dari itu bekal ilmu sebelum terjung langsung sangat diperlukan.

Kenapa harus ada pelatihan dulu, ngga langsung kerja?
Jadi untuk tahap seleksi di Metro TV, apabila ingin langsung jadi karyawan dengan masa kontrak 1 tahun, bukan Development Program namanya,  tapi jalur reguler. Kenapa dibedakan, itu tergantung kebutuhan perusahaan. Kalo di PDP ini, kita dilatih biar bisa multitasking. Karena menurut Metro, banyak produser yang berasal dari satu bidang. Jadi saat dia jadi pimpinan, dia ngga paham bidang lain. Fungsi pelatihan atau training ini adalah agar karyawan tau semua bidang tugas saat jadi produser nanti.

Gimana sih proses masuknya?
Jadi gini,
Gue awalnya ikut jobfair  yang ada di Gelora Bung Karno (GBK) karena sebelumnya gue dapet info kalo disana banyak perusahaan media yang buka stand. Kalo mau ikut jobfair saran gue, jangan asal ikut. Lumayan kan duit buat bayar, cari dulu perusahaan apa bakal dateng kesitu. Jika menurut lo ngga ada perusahaan yang lo mau, mending ngga usah ikut. Jangan terlalu memaksa, kecuali kalo lo emang mau sekedar nyoba-nyoba aja. Mending lo masukin lamaran yang banyak via lowongan online, kan banyak tuh kayak job street atau yang lain. Soalnya temen gue juga ada yang kepanggil dari situ. Semakin banyak lo masukin, semakin besar peluang lo. Cuma kemaren, gue kurang beruntung. Karena lamaran gue via online ngga ada yang dipanggil.

Nah, pas di GBK gue kumpulin CV ke stand Metro TV. Gue sertain juga, rekap nilai, foto sama fotokopi KTP. Gue belum wisuda, jadi belum dapet ijazah. Bawa itu aja cukup kok. Gue masukin juga tuh ke media lain, kayak RCTI, MNC, SCTV dan lain-lain. Setelah gue rasa semua perusahaan yang gue cari udah gue masukin, pulang lah gue. Itu udah sore dan gue mau langsung ke Bandung. Nekad sih gue ikut jobfair ke Jakarta sendiri. Gue juga udah biasa ngurus apa-apa sendiri. Hehhe. Oya, saran gue, soal CV, mending lo buat yang paling menarik dan kreatif. Bagusnya cuma satu halaman aja. Ringkas dan padat, ngga usah bertele. Kenapa? Pihak HRD juga bisa cepet nangkep siapa elu dari apa yang ada di CV lo, gitu.

Di stand Metro TV, cuma ada lowongan buat Journalist Development Program (JDP) sama Metro TV Management Development Program (MMDP). Gue pengen banget daftar JDP, tapi syaratnya tinggi banget. Gue harus punya skor toefl diatas 550 sama jelas penampilan yang menarik. Karena dua itu ngga terpenuhi gue nulis lah MMDP. Padahal gue ngga tau itu sebenernya apa, seengaknya gue nyoba. Pikir gue pas itu.

Habis dari GBK gue langsung ke travel, di daerah Sarinah. Karena gue nyampe pool travel kecepetan, gue nunggu sambil makan di KFC deket situ. Pas gue mau jalan ke travel, sekitar 6. Ada sms masuk.

Jeng..jengg…

Metro TV.

Gue disuruh ke Metro TV, untuk ikut psikotes, 2 hari lagi. Dengan pertimbangan yang matang biar ngga bolak-balik, gue milih nginep di kos temen. Akhirnya tiket travel gue hangus.

Saat tes tiba, gue pake baju rapi, baju yang sama pas gue ikut jobfair. Gue ngeliat orang yang dateng, pada pake baju yang agak santai. Sebelumnya gue pernah ikut tes media juga selain Metro, gue nangkep kalo tes media emang agak sante ngga terlalu kaku harus pake rok atau flat shoes gtu. Mending lo dateng ke tempat tes setengah jam sebelum tes dimulai, jadi lo bisa lebih sante dan punya banyak kenalan. Jangan sama sekali kaku sama orang baru. Nantinya lo bakal nanya-nanya masalah pengemuman ke dia. Bila perlu langsung minta kontak.

Jam 8.30 pas, kita disuruh ke ruangan tes. Waktu itu ada sekitar 50 orang yang ikut psikotes. Setelah diruangan, kita disuruh ngisi form dan absensi. Nah di form itu gue tulislah MMDP jadi pilihan pertama dan JDP jadi pilihan kedua. Yang gue tau waktu itu cuma dua program itu.

Tes Psikotest
Di masing-masing perusahaan biasanya beda tahap seleksi rekrutmennya. Di Metro TV, tahap awal seleksi yaitu Psikotest. Apa aja sih psikotesnya?

1. Tes Logika Penalaran
Tes ini terdiri dari deret bentuk gambar.  Katanya dalam tes ini yang diukur kemampuan memahami pola-pola atau kecenderungan tertentu. Kemaren gue itu dikasi waktu yang amat sangat singkat, jadi butuh konsentrasi sama ketelitian. Kalo lo susah mikir apa deret selanjutnya, mending lo lewatin biar ngga ke habisan waktu buat jawab soal selanjutnya. Intinya jangan buang-buang waktu.


 Sumber: google.com

2. Tes Kraepelin/Pauli
Kalo gue sih bilangnya ini tes koran. Soalnya bentuknya kayak halaman koran. Jadi ada banyak angka berderet dari atas ke bawah, dalam bentuk-bentuk lajur. Nah, kita diminta jumlahin angka di satu deret, kemudian nulis hasil penjumlahan tepat diantara dua angka yang kita jumlahin. Nanti tiap deretnya atau lajurnya kita bakal dikasi waktu untuk menjumlah. Gue sih kemaren memulai penjumlahannya dari bawah ke atas. Soalnya ada juga yang jumlah dari atas ke bawah. Ngga ngerti sih bedanya apa, tapi cara jawabnya sama. Untuk tiap lajur, waktunya sama, misalnya 1 menit. Gue sebelum di Metro, pernah ikut psikotes di media cetak nasional, pas itu gue belum tau cara jawab yang bener. Jadi dari awal gue udah antusias banget ngejawab soal ini, soalnya gue ngrasa ada kemampuan lebih di penjumlahan. Tapi setelah psikotes disana gue ngga lolos. Tes ini bukan satunya-satunya faktor penentu sih, tapi cukup dipertimbangkan.

Dari hasil searchingan gue di internet, akhirnya gue paham jawab tes koran ini ngga Cuma butuh kecepatan. Tapi stabilisasi. Hahhaa. Jadi angka yang udah kalian jumlahin tiap lajurnya dianjurkan stabil alias satu kolom dengan kolom yang lain ngga terlalu jauh beda jaraknya. Soalnya di awal elo pasti cepet kan ngerjainnya masih ada banyak tenaga, dan mendekati akhir kalian pasti kecapean dan makin sedikit angka yang di jumlah. Padahal dalam tes ini yang menjadi penilaian penting adalah kemampuan mengendalikan emosi dan bisa bekerja di bawah tekanan. Kebayangkan kalo hasil tes kalian grafiknya itu naik turun tiap lajurnya.

 Sumber: google.com

3. Tes Wartegg
Tes ini itu, tes yang paling unik menurut gue. Kenapa? Karena kita dikasi selembar kertas yang udah ada 8 kolom berisi bentuk-bentuk gambar tertentu, kayak titik, garis melengkung, garis lurus, ada kayak kurva juga. Nah dari gambar yang udah ada itu, kita diinstruksikan meneruskan gambar. Terus, untuk urutan gambar kita dibolehkan ngacak. Nanti setelah kita selesai gambar, ditulis keterangan gambar mana yang paling disukai, tidak disukai, paling mudah dan paling susah. Paham kan?

Dari tips-tips yang uda gue baca di internet, urutan gambar boleh acak tapi disarankan ngga terlalu acak. Misal, dimulai dari kolom, 1,2,3,4 dilanjut nomer 8,7,6,5. Kalo kalian gambarnya urut banget, kita dinilai orang yang kaku. Terlalu konservatif. Nah kebalikannya kalo gambar kita acak banget, kita dinilai orang yang terlalu kreatif.

Dari tes ini, bisa diliat karakter sesorang, misalnya kemauan, tekad, kelincahan, kemampuan beradaptasi, menyelesaikan maslah, kebijaksanaan, dan lain-lain. Ini beberapa hasil pencarian gue di internet mengenai  maksud tiap-tiap bentuk di kotak tes wartegg.

 Sumber: google.com

Kotak 1: titik hitam menunjukan kelincahan. Disarankan untuk menggambar makhluk hidup kayak serangga, laba-laba atau kupu-kupu.

Kotak 2: berbentuk s terbalik, yang menggambarkan kebebasan. Disarankan untuk menggambar burung terbang.

Kotak 3: ada tiga garis lurus yang berbeda tinggi, menggambarkan kemauan dan tekad untuk selalu memperbaiki diri. Disarankan untuk menggambar pagar, tiang listrik atau tangga.

Kotak 4: kotak hitam kecil di sudut kanan atas, menunjukan pribadi yang kokoh. Disarankan untuk menggambar bangunan atau konstruksi beton yang menunjukkan kekuatan.

Kotak 5: dua garis di sudut kiri bawah, menggambarkan ketepatan memecahkan masalah. Disarankan menggambar objek yang memliki kecepatan dan ketepatan, seperti balap motor atau mobil.

Kotak 6: dua garis membentuk segi empat, menunjukan kesederhanaan tapi tetap menyuguhkan realitas. Disarankan menggambar kamera, televisi atau komputer.

Kotak 7: titik kurva menunjukan garis yang diproses secara sembarang, harus diperlakukan secara hati-hati. Disarankan menggambar ulat, ular atau lain-lain.

Kotak 8: garis melengkung menunjukan kebesaran dan kebijaksanaan. Disarankan menggambar makhluk hidup yang besar dan menunjukkan kewibawaan, seperti gajah.

Sebenernya, saran-saran tadi tergantung pertimbangan kalian. Soalnya, semakin kreatif gambar yang kalian buat di kolom kotak, katanya semakin tinggi skor yang diperoleh. Gitu.

4. Draw A Man Test (DAM)
Dalam tes ini, kita disuruh menggambar seseorang, kemudian mendeskripsikan usia, nama, jenis kelamin dan kegiatan orang tersebut. Katanya sih, tes ini digunakan untuk mengukur tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja.

Disarankan untuk menggambar orang secara utuh, mulai dari ujung kepala sampe kaki. Termasuk detail muka kayak hidung, mulut sama telinga. Dan gambar orang tersebut, sedang melakukan aktifitas. Misalnya pedagang, nelayan, petani atau lain-lain.

5. Menggambar Pohon
Di tes ini kita disuruh menggambar sebuah pohon, dengan kriteria: berkambium, bercabang dan berbuah. Dan ngga dibolehin gambar phpn bambu, pisang, sama jenis rumput-rumputan.

Gue sendiri ngga pinter gambar, tapi dari yang gue baca yang dinilai itu bukan bagus ngganya gambar yang kita bikin, tapi ketepatan pemilihan pohon yang kita gambar. Kan banyak tuh syarat gambarnya, ngga boleh ini itu. Ditambah kita disarankan gambar detail setiap komponen pohon. Misalnya bentuk daun, batang, akar bahkan alur pohon. Bahkan penambahan rumput, atau tumbuhan liar di pohon yang kita gambar ada artinya. Nah kalo itu gue kurang paham. hehe

6. Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)
EPPS ini terdiri dari pilihan jawaban yang paling mencermikan siapa kita. Katanya, tes ini dipake mengetahui seberapa besar motivasi, kebutuhan, dan motif seseorang. Yang kurang paham, misalnya tes nya kayak gini:
A. Saya suka memuji orang yang saya kagumi
B. Saya ingin merasa bebas untuk melakukan apa yang saya kehendaki

Dari dua pernyataan itu, kita disuruh pilih salah satu yang mana sangat mencerminkan diri kita. Dan kalo ngga ada dari pernyataan yang sesuai dengan diri kita, kita tetep disuruh pilih jawaban yang paling mendekati.

Kalo tes ini mah, yang dibutuhin menurut gue cuma kejujuran aja. Biar nantinya hrd bisa ngeliat elo itu orangnya kayak gimana. Jangan mencoba menjadi orang lain atau biar jawaban lo terlihat bagus. Soalnya balik lagi ke masing-masing perushaan pengen cari orang yang seperti apa. Kan tiap divisi atau pekerjaan yang kita ambil butuh karakter yang beda-beda kan.


Oke, buat seleksi tahap 1 Production Develompment Program (PDP) di Metro TV gue cukupkan dulu. Semoga bisa membantu. Dan gue sambung lagi nanti di part berikutnya. J

Thursday, December 3, 2015

Akhirnya Sarjana!

28 Agustus 2015 lalu, akhirnya gue resmi menyandang gelar Sarjana Komunikasi. Keragu-raguan di awal memilih kuliah di Bandung, derita mahasiswa rantauan, dan mengerikannya sidang skripsi akhirnya terbayar. Gue lulus di waktu yang tepat. Yeah!

Inget banget pas mau tamat SMA, bingung mau kuliah dimana. Kenapa? Soalnya Universitas yang gue pengen beserta jurusannya ngga mau menerima gue sebagai mahasiswanya. Emang ngga jodoh sih. Gue sampe bela-belain ke Surabaya sendiri buat tes. Tapi apadaya, segala daya dan upaya dikerahkan gue belum cukup beruntung untuk ke terima. Atas saran mama, gue nyoba daftar di Universitas Telkom Bandung (dulunya Institut Manajemen Telkom). Gue ngga tau itu perguruan tinggi macam apa. Tapi dari cerita yang gue denger-denger, nanti kalo tamat dari situ gampang dapet kerja. Bisa langsung kerja di Telkom dan lain-lain. Mempertimbangkan segala kemungkinan, dan karena gue takut nganggur satu tahun, gue milih untuk nyoba.

Yang gue pilih waktu itu, jurusan Ilmu Komunikasi sama Teknik Industri. Pas gue milih itu, gue ngga ngerti sebenernya itu jurusan apa. Tapi, dua jurusan itu familiar banget di telinga gue. Gue ikut jalur seleksi JPAN, yang cuma ngumpulin nilai rapot. Ngga banyak berharap, soalnya ini bisa dibilang bukan pilihan gue.

Dan akhirnya…

Gue masuk. Keterima di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Telkom Bandung. Semua orang ngucapin selamet, dan gue masih ngga ngerti apa ini pantes di selametin. Kan gue ngga ke terima di kampus yang gue pengen. Atas asaran, guru, temen-temen SMA gue akhirnya gue ambil kesempatan yang ngga semua orang bisa dapetin. Dan sampe sekarang gue ngrasa beruntung banget, gue ngga ke terima di Teknik Insdustri. Beuhh, gue anak IPA yang sepertinya ngga punya bakat dibidang itu.

Awal masuk Telkom, sebenernya ngga susah cuma gue ngerasain yang namanya homesick. Jauh dari orang tua, dan temen-temen yang dulu sering gue ajak jalan di Bali. Yah, itu cuma jalan 2 bulan doang. Sisanya, ternyata jadi anak rantauan itu asik. Apa-apa sendiri. Ngatur duit sendiri. Sampe sakit pun diurus sendiri. Sedih sih. Tapi, buktinya gue bisa bertahan, berarti ngga seberat yang gue pikir di awal.

Semester 1 dan 2 gue dapet matakuliah dasar. Beberapa matakuliah itu bikin gue tertarik pengen kerja di Media. Akhirnya, pas semester 3, gue milih konsentrasi Broadcasting. Saat itu, gue sangat sangat tertarik yang namanya kerja di Media. Gue juga aktif ikut UKM Jurnalistik yang pas SMA gue sama sekali ngga paham. Gue menikmati apa yang gue jalanin. Gue sempet berpikir, cita-cita gue itu sewaktu-waktu bisa berubah tergantung takdir Tuhan.

Pas SD gue pengen jadi Dokter Kandungan. Kenapa? Soalnya waktu itu gue dapet informasi bahwa dokter kandungan perempuan itu jarang. Tergeraklah gue untuk rajin belajar dan siapa tau bisa jadi dokter kandungan. Sampe pas itu, gue inget gue bacain karangan untuk acara perpisahan yang judulnya ‘cita-citaku’ gue bikin Dokter Kandungan. Hahhaaa

Masuk SMP, cita-cita gue berubah. Gue pengen jadi seorang arsitek. Kenapa? Karena pas SMP gue suka nghayal, bentuk rumah, desain interior dan segala macem properti bangunan. Gue sampe punya buku lukis yang isinya gambar rumah yang gue bikin. Dan ampe sekarang gue masih suka nghayal gimana rumah gue di masa depan. Gue masih suka gambar-gambar interior rumah. Dan searching home décor di google. Kenapa cita-cita ini pupus, karena gue sadar, kalo gue ngga ada bakat gambar.

Cita-cita gue berubah lagi pas SMA. Kelas dua SMA gue pengen jadi seorang Analisis Medis? Kenapa? Karena pas itu, gue punya nenek yang menderita penyakit kanker. Dan sekarang dia udah bahagia di surga. Nenek gue terlambat tau penyakitnya. Pas udah stadium akhir, gue sering nemenin di rumah sakit. Gue liat nenek sering di cek lab, di ambil darah, dan sebagainya. Nah, gue tertariklah disitu. Pengen menganalisis penyakit yang di derita orang. Tapi apa daya, gue daftar di Universitas Airlangga, dan ngga ke terima. Sedih? Iyalah. Pas itu gue inget banget ngga pengen kuliah rasanya. Ngga pengen ngomong sama siapa-siapa. Dan akhirnya gue nerima saran mamah buat masuk di Telkom.

Balik lagi ke Telkom. Setelah kuliah disini, dan masuk konsentrasi Broadcasting gue banyak belajar soal produksi program tv, reportase, naskah berita dan program televisi, manajemen program siaran, jurnalistik media, dan lain-lain. Asik banget, bisa ketemu orang-orang baru pas produksi film dokumenter. Tau ini-itu pas liputan. Jalan-jalan kesana-sini pas produksi program tv. Dan gue mantap memutuskan untuk masuk media.

Eeh, ntar dulu. Boro-boro masuk kerja. Skripsi gue aja belom kelar. Semester 6 gue ambil yang namanya proposal seminar. Akhirnya gue tau gimana rasanya, ditanya ‘udah bab berapa’ itu sakit banget. Gue harus bolak-balik ketemu dosen pembimbing, revisi, nyari data, analisis. Riweuh banget. Karna skripsi gue kualitatif, jadi prosesnya agak rumit dan lama. Sebenernya sih bisa cepet, gue nya aja yang agak susah ngumpilin mood buat nulis skripsi.

Gue sidang seminar itu pas banget sama ulang taun gue ke 22, tanggal 31 Maret 2015 kemaren. Anugerah iya. Sempet dikerjain juga sama pembimbing dan penguji. Eeeeh, rasanya itu kesel seneng jadi satu. Satu tahap terlewati. Sekarang tinggal skripsi. What? Tinggal skripsi?

Lagi-lagi ngga segampang itu ternyata. Gue butuh waktu yang lama buat analisis 20 berita reklamasi dari 2 media cetak yang berbeda. Revisi dan revisi terus. Gue udah mulai jarang ke kampus, karna kalo ngampus cuma pas bimbingan aja. Mulai jarang ketemu temen-temen. Mulai lah ngerasain yang sebenernya mahasiswa itu emang hidup sendiri-sendiri. Yang lama ya ditinggal, yang cepet ya duluan. Kita ngga bisa maksa mereka buat nungguin kita, atau gue yang harus nungguin mereka. Ya gitu. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Tempat ketemu yang pas yaitu di Perpustakan.

Akhirnya gue daftar sidang skripsi, dan jadwal sidang gue di tanggal 2 Agustus 2015. Mulailah ngerasain gimana deg-degannya menuju waktu sidang yang semakin deket. Panik ngga jelas. Ngga nafsu makan. Bengong, takut, tapi pengen cepet-cepet. Semuanya jadi satu.

Tepat di tanggal 2 Agustus 2015, gue lulus sidang skripsi dengan nilai AB. Dan dengan revisi yang uwo bangetlah pokoknya. Gue cukup bersyukur sih, walau salah satu penguji gue perfeksionisnya minta ampun, jadi gue banyak belajar. Gue makin tau dan makin paham. Disini gue juga mau ngucapin terimaksih yang sebesar-besar dan sedalam-dalamnya buat dua pembimbing gue yang super keren. Pak Rana dan Bu Reni. Pak Rana yang selalu mau gue nganggu di sela-sela kegiatannya jadi PR Universitas Telkom yang super sibuk. Yang mau ngarahin gue, dari ngga tau apa-apa sampe skripsi ini beres. Yang mau direpotkan sampe harus ketemu malem-malem buat minjem buku. Yang udah mau jelasin berkali-kali dan gue ngga ngerti-ngerti. Yang nyindirnya nyelekit banget tapi malah gue terpacu biar bisa cepet lulus. Makasi bapak, makasi atas semua bimbingannya, waktu dan tenaganya. Makasi atas pulsanya yang selalu ngingetin kalo di tv atau di di koran lagi ada berita reklamasi. Makasi uda percaya kalo saya bisa ngadepin penguji. Makasi dikasi makanan pas lagi bimbingan. Makasi atas semuanya pak. Jadi terharu. Hehehe.

Setelah yudisium dan sidang akademik, akhirnya surat kelulusan gue resmi keluar di tanggal 28 Agustus 2015. Mulailah di masa jadi penggangguran itu ngga enak.

Kosan udah habis di akhir bulan Agustus, dan gue ngga berani minta uang lagi sama orang tua buat bayar kosan. Gue ngrasa, tanggung jawab mereka selesai ngebiayain gue pas gue lulus. Jadi lah gue numpang di kontrakan ade gue. Iya, adek gue masuk Telkom juga jurusan Manajemen. Di kontrakan yang isinya cowo semua, gue cewe sendiri. Apa mau di kata.

Kadang nyesel juga kenapa gue lulus, soalnya diem di kosan ngga ada kegiatan apa-apa itu ngga rasanya ngga enak. Gue yang dulu biasanya, lebih banyak di kampus, sekarang cuma ngabisin waktu nonton film di kosan. Gabut tingkat dewa. Pas itu gue masukin lamaran-lamaran ke media, cetak, online sama tv. Gue pengen kerja di Jakarta. Pengen ngerasain kata orang Jakarta itu keras. Hahha. Nagih kan jadi anak rantauan.

Beberapa kali sempet interview, dan gagal. Dan kemudian kepanggil lagi, dan di PHP-in. Dan daftar lagi, dan akhrinya gue lanjut ke tahap seleksi ampe akhir di Metro TV. Jeng, jengg, tanggal 15 Oktober gue terima kontrak di Metro TV di Production Development Program. Dan masuk pertanggal 2 November 2015. Seneng iya, bahagia iya, bangga sama diri sendiri iya, tapi ada rasa sedih ninggalin Bandung. Dapet kerja dimana itu gue akuin emang jodoh-jodohan. Gue ada nyoba berkali-kali sampe akhirnya dapet disini. Kalo kalian cuma tau, gue daftar dan langsung keterima, itu salah. Gue juga ngerasain yang namanya kena php, kecewa, capeknya harus bolak-balik Jakarta-Bandung. Berdiri di Trans Jakarta 3 jam, eh ternyata salah jalan. Dan masih banyak lagi. Yang penting sih, kita harus menikmati setiap prosesnya. Orang tua aja biayain kalian kuliah sampe tamat ngga pernah ngeluh. Setiap awal bulan kalian telpon, minta duit dikirm, trus setelah itu kalian ngga pernah nelpon lagi, mereka ngga pernah ngeluh. Kalo gue sih mikirnya itu.

Harapan gue juga tercapai, bisa kerja sebelum wisuda. Gue emang ngga bisa balikin pengorbanan besar orang tua membiayai sekolah gue dari kecil sampe segede ini. Tapi pas nama gue dipanggil, pake toga, dan dapet nilai yang memuaskan, gue rasa gue udah buat mereka bangga.

Ngga ada kata yang cukup menggambarkan gimana berterimakasihnya gue, bersyukurnya, bahagianya bisa jadi anak mereka. Ini belom apa-apa, bahkan hidup dan perjuangan baru aja di mulai. Tapi, rasanya menjadi sarjana itu luar biasanya leganya. Lihat mama bapak senyum bahagia itu..beuh.

Cukup dulu untuk cerita kali ini. Gue cuma sharing masa-masa kuliah yang ngga bisa dilupain. Yang ternyata ngomong lulus ngga segampang kalo dijalani. Ini gue sertakan beberapa foto yang ngeliatin betapa bahagia lulus itu.


Satu dari fase kehidupan tercapai. Perjalanan masih panjang. Belom seberapa dan belom apa-apa. Semangat!

Wisuda Telkom University, 28 November 2015


Sidang Skripsi, 2 Agustus 2015

Sidang Seminar, 31 Maret 2015

Friday, November 20, 2015

Gimana Rasanya kalo Film Kita Ditonton?

Jaman SMA, gue pernah ikut ngumpul di aula nonton film yang dibuat sama temen gue sendiri. Gue inget banget, ada tiga film yang di puter waktu itu. Kesemuanya adalah film dokumenter. Asing banget denger kata ‘dokumenter’. Ya gimana, gue bukan penggiat film waktu itu. Film-film karya temen gue itu akan di lombakan, di tingkat nasional. Keren kan? Trus gue bayangin, gimana ya rasanya film yang kita buat di tonton orang banyak dan dapet tepuk tangan.

Wah, bangganya minta ampun.

Tapi besoknya gue lupa, gue pernah nghayalin itu.

Sekarang, setelah masuk di jurusan Ilmu Komunikasi, gue banyak belajar tentang produksi program acara, termasuk film. Dari sinilah gue beberapa kali membuat film, ya..cuma tugas kampus biasa. Lama-kelamaan gue jadi suka nonton film. Dan lingkungan mendukung itu. Gue sadar memproduksi film sangat tidak mudah. Dan punya pengalaman buat beberapa film apalagi hanya tugas kuliah, belum bisa bikin kita disebut film maker. Apalagi pengetahuan film gue yang sangat amat masih cetek.

Pernah dateng ke salah satu diskusi film, itupun karna gue diminta tolong hadir soalnya film yang kita garap menang di salah satu kompetisi film nasional. Waktu itu turut hadir, Mas Harris, sutradara film Surat Untuk Tuhan. Mas Harris bilang, buat film itu pekerjan yang paling menyenangkan. Kenapa? Karena di setiap kalian memproduksi film, kalian belajar banyak hal baru. Misalnya saja, saat produksi film A, kalian pasti riset, nyari tau, bahkan harus tau banyak tentang apa yang akan kalian sampaikan pada penonton nantinya. Setelah itu kalian buat film B, di film B kalian juga menjadi orang baru lagi. Mencari tau dan menjadi tau.

Ini sangat masuk akal.

Saat terlibat langsung dalam produksi film dokumenter ‘Longser’ gue belajar banyak soal teater tradisional Sunda yang mulai ditinggalkan. Munculnya pembaharuan, dengan adanya Longser gaul agar supaya budaya ‘Longser’ tidak hilang di jaman modern. Setelah itu, gue ikut jadi kru film Opor Operan. Gue belajar tentang budaya Sunda (lagi) yang dimana saat lebaran menukar makanan. Ini adalah bentuk tradisi tradisional yang masih ada sampe sekarang. Setiap film yang kalian buat, ada hal baru yang harus dipelajari. Setiap film yang kalian tonton ada pengetahuan baru yang kalian dapat. Gue bukan pengamat film, kritikus film, atau wartawan majalah film kayak temen gue. Gue cuma penikmat film, ya suka film karena memang suka.

Sekarang, khayalan yang pernah mampir di otak gue jadi nyata. Salah satu film kami (Sebelas Sinema) yang berjudul ‘Opor Operan’ dan ‘Ojo Sok-sokan’ akan di puter di Blitz BEC di Bandung. Sebuah kebanggan atas kerja keras tim dan semangat yang terus menyala. Opor Operan sempat meraih Best Editing dan Best Skenario di ajang BCA Shovia 2015, beberapa minggu yang lalu. Dan kami memutuskan film ini harus ditonton. Kepuasan yang terbesar bagi pembuat film bukan saat filmnya mendapat penghargaan, karna itu cuma bonus, tapi film lo bisa di tonton. Kepuasan yang tak ternilai harganya.


Mengalami proses panjang dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi, kami yang tergabung dalam kru film masih membawa semangat yang sama. Semangat untuk terus berkarya, dan semoga film kami dapat menginspirasi. 

Opor Operan
Menceritakan tradisi masyarakat Sunda, yang sebelum lebaran saling menukar makanan, Opor. Setting film di daerah Cisarua (ke arah Lembang naik lagi atau bisa lewat Cimahi). Disutradari oleh Mustafa dan skenario dari Ryan Sindu Pradana. Film ini sangat kuat akan nilai budaya masyarakat Sunda.




Ojo Sok-sokan
Masih ngga jauh-jauh dari budaya, Ojo Sok-sokan menceritan bagaimana seharusnya kita bangga menggunakan bahasa daerah. Sepele namun dampaknya besar. Bahasa adalah alat berkomunikasi. Bahasa adalah refleksi diri. Jangan malu berbahasa daerah, cuma karena kalian ingin terlihat keren. Kali ini skenario ditulis oleh Wiwid Septiyardi, dan masih disutradarai oleh Mustafa.

Dan gue? Nonton film penuhnya. Liat di credit gue sebagai apa. Biasakan nonton film sampe credit titlenya abis ya. :))







Datang dan Saksikan!